14.12.07

Obat Mujarab Itu Bernama Tertawa



Terinspirasi oleh Maestro Tertawa Indonesia, Basuki

Meskipun hanya sesaat, tertawa itu menyehatkan, Tertawa itu dapat membangkitkan kesenangan dan ketenangan jiwa. Jika Anda dapat dengan mudah tertawa, Anda adalah orang yang sangat beruntung, seberuntung anak-anak yang mendapat hadiah coklat ketika dapat menjawab sebuah pertanyaan. Tertawa yang paling tulus, enak didengar dan tanpa muatan macam-macam adalah tertawa kanak-kanak.; karena tertawa mereka adalah tertawa yang tidak dipaksakan. Saya menjadi percaya bahwa laughter is the best medicine.

Setelah tertawa lebar-lebar dan sepenuh hati, ternyata badan terasa segar, seperti ada aliran hangat di sekujur badan. Konon, tertawa selama 5 sampai 10 menit dapat merangsang kelenjar endorfin (penghilang rasa sakit dalam tubuh). Endorfin, serotonin dan melatonin dapat menimbulkan perasaan senang dan tenang. Di negara maju, katanya, ada semacam klinik tertawa untuk orang-orang yang mempunyai tendensi depresi dan stress.


Pada hakekatnya, merengut memang lebih mudah ketimbang tertawa. Menurut The Power of Laugh, tertawa memerlukan kerja 8 syaraf sedangkan merengut hanya 3 syaraf (!). Tentu saja membuat orang tertawa pastilah lebih susah ketimbang membuat orang merengut. Saya cukup bilang 'gila lu' untuk membuat orang merengut atau bahkan marah dan melempar asbak.

Saya harus berterima kasih kepada orang-orang yang bisa mempekerjakan 3 urat syaraf saya sehingga saya bisa tertawa. Mulai Ludruk RRI, Goro-goro Ki Manteb, Funniest Home Video, Xtravaganza, OB, Mr. Bean, Jim Carey, dan tentu saja…Basuki. Mereka adalah orang-orang yang dapat mengencangkan otot perut saya karena saya bisa tertawa. Bisa hahaha, hehehe atau hihihi.

Akhirnya, tertawalah selagi bisa. SOEMARMO/TGC 141207

13.12.07

Condeleren, Mas Bas.



Mungkin Tuhan sedang kesepian. Satu demi satu putra terbaik negeri ini dipanggil pulang untuk menghiburNya. Mungkin Tuhan memang sedang kesepian. Karena kita kerap lalai untuk menyenangkanNya.

Tadi malam, 12 Desember 2007, pukul 20.45 -- saya beroleh kabar dari teman-teman selebritas dan pelawak bahwa salah satu komedian yang paling saya sayangi telah berpulang ke Rahmatullah. Itu terjadi tatkala ia terkulai saat bermain futsal, sewaktu dalam perjalanan menuju rumah sakit Meilia - Cibubur, ia menghembuskan nafasnya yang penghabisan.

Handaitaulan, sahabat dan masyarakat yang mendengar kabar tersebut berbondong menuju ke kediamannya di Jalan Tampaksiring XI Blok P6, No. 1, Graha Cinere. Wajah duka dan kehilangan tampak mewarnai para pelayat. Tadi sebelum dzuhur, Mas Bas dihantar menuju ke peristirahatan terakhirnya di Kampung Kandang, Jagakarsa.

Basuki lahir di Solo, 5 Maret 1956 adalah komedian yang cerdas dan tangguh. Komedian yang berwajah serius. Putra pelawak Pete ini dibesarkan oleh Srimulat, namun tatkala Srimulat dan para anggotanya tenggelam, Basuki tetap timbul. Bersama Timbul dan Kadir, ia sempat membentuk Batik. Usia Grup Batik memang tidak lama, tapi Basuki meneruskannya dalam bentuk usaha yang berhasil dikelolanya hingga akhir hayat. Usaha perkulakan kain dan busana batik, sebagaimana yang ia lakoni dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan, ia geluti bersama sang istri hingga akhir hayatnya.

Di saat Srimulat karam dan para anggotanya terkapar, Basuki masuk ke dunia bisnis furnitur. Mebel ukir dan jati dari Jepara ia akrabri. Belakangan, selain tetap laris sebagai bintang iklan, ia juga membuka beberapa cabang waralaba minimarket.

Mas Bas, sang Mas Karyo, telah tiada. Salah satu filmnya berjudul Bendi Ajaib yang menunjukkan kemampuan aktingnya, adalah sebuah kenangan bagi ketiga anak dan seorang cucunya. Rayuannya terhadap Atun, perseteruannya dengan Mandra dan berbagai ucapan khasnya di iklan, kini menjadi monumen abadi bahwa negeri ini pernah memiliki seorang komedian yang cerdas dan gigih.

Top Markotop, Good Marsogut.... dan wes-ewes-ewes, semilir angin yang lembut turut mengantar perjalanannya. Semoga Tuhan terhibur dengan kehadiranmu di sisiNya, mas. (tulisan tentang Basuki selengkapnya bisa dibuka di www.andretheriqa.multiply.com) ANDRETHERIQA 131207


10.12.07

FESTIVAL SEPEDA RAME-RAME dan JOGGING SEHAT

Menapaki penghujung 2007, Masyarakat Olahraga Kabupaten Tangerang, menggelar satu perhelatan kolosal yang bertajuk Festival Bersepeda Rame-Rame dan Jogging Sehat. Berlokasi di area MardiGrass, samping SportClub CitraRaya, Panongan, agenda tersebut dimaksudkan sebagai tribute masyarakat olahraga atas kepemimpinan Bupati Tangerang, H. Ismet Iskandar, HUT ke-64 Kabupaten Tangerang, HUT ke-13 Perumahan CitraRaya / PT. Ciputra Residence, HUT PGRI, Hari Kesehatan Nasional dan Kesiapan masyarakat olahraga dalam menyongsong dan mensukseskan Pilkada 2008.

Pada Ahad, 9 Desember pagi itu, tepat pada pukul 07.00, H. Ismet Iskandar mengibarkan bendera start melepas 7.928 peserta Jogging Sehat dan pada pukul 07.30, Bupati Tangerang yang gagah ini mengibarkan bendera start untuk 4.121 peserta Sepeda Rame-Rame.

Para peserta yang ambil bagian dalam perhelatan kolosal ini, datang dari 34 kecamatan. Sebagian besar di antaranya adalah anggota komunitas yang sudah eksis di daerah ini. Kegembiraan yang terpancar dari para peserta semenjak kedatangan mereka di lokasi Festival, semakin sumringah saat mereka memasuki garis finish yang langsung disambut oleh panggung hiburan yang menampilkan para komedian ibukota dan musik yang merayu setiap tubuh untuk bergoyang.

Sejumlah hadiah dibagikan sebagai lucky-draw, dengan total 20 juta rupiah. Lebih dari 50 item hadiah seperti setrika, dispenser, mixer, oven toaster, sepeda, kulkas dan televisi Toshiba 21 inc diterima dengan penuh sukacita oleh peserta yang cabikan tiketnya terambil oleh panitia.

Hadir dalam kesempatan ini dan turut mengambilkan undian: Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, H. Achmad Suwandi; Kabid Pemuda dan Olahraga, H. Komarudin; Ketua Harian KONI, H. Satim Sofyan; Camat Cikupa, H. Uyung Mulyadi; Camat Panongan, Ari Novi Purnama; Kapolsek Cikupa; Kapolsek Panongan; Danramil Cikupa; para pimpinan cabang olahraga dan pengurus teras KONI Kab. Tangerang; para pimpinan stakeholdres yang tergabung dalam Tangerang Ungu Gemilang dan Pena Ungu serta Posko-Posko ISRA se-Kabupaten Tangerang.

Penggagas dan pengarah agenda ini, Andre Theriqa dan didampingi Ketua Panitia, H. Arsyaad Hessein serta Sekretaris Zaidan Jauhari, pada kesempatan penyerahan hadiah, menyampaikan ungkapan kebanggaan dan terimakasih kepada semua pihak yang terlibat dari awal hingga suksesnya penyelenggaraan event tersebut, di antaranya kepada: Pemkab Tangerang, Ketua Penggerak PKK, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, KONI, Camat Cikupa, Camat Panongan, Camat Curug, PT. Ciputra Residence, Nestle Indonesia, Kapolres, Kapolsek Cikupa, Kapolsek Panongan, Danramil Cikupa, AMPI, Baladewa Group, SemburatJingga, Pena Ungu, Tangerang Ungu Gemilang, Bridge Tangerang, GMC, Tangerang Tribune, Percetakan Annam, Gudeg Kota Seni, Toko Sepeda Kita, Carrefour, Klub Bersepeda Rame-Rame dan para peserta yang tak tersebutkan satu persatu di sini.

Sebelum melanjutkan perjalanan menuju agenda lain di Pasar Kemis, H. Ismet Iskandar menyambut gembira agenda ini dan mengingatkan agar agenda ini jangan hanya berlangsung satu kali, "Jika mungkin, diselenggarakan setiap bulan sekali." ujar Bupati yang disambut gegap gempita peserta. Lebih lanjut Bupati berpesan, "Saya menyambut baik setiap agenda yang bertujuan positif, apalagi yang berkenaan dengan pendidikan dan kesehatan. Bersepeda dan Jogging adalah olaharaga yang sederhana dan murah, namun memberikan kontribusi yang luar biasa, bukan hanya bagi kesehatan badan, tapi juga bagi kesehatan perekomian dan keuangan bangsa."

Dalam menyongsong Pilkada 2008, H. Ismet Iskandar menghimbau agar segenap elemen masyarakat turut berperan aktif untuk mensukseskan dan pengamankannya. Pilihlah pemimpin yang dinilai paling pantas dan mampu untuk memimpin, dan apapun hasilnya harus diterima dengan lapang dada dan penuh dengan tanggungjawab. SEKRETARIAT PANPEL 091207

6.12.07

Akan Ada Gempa 8,5 dsr pada 23 Desember 2007?

Badan Meteorogi dan Geofisika (BMG) Bengkulu menilai prediksi akan terjadi gempa 8,5 SR pada 23 Desember 2007 seperti disampaikan pengamat gempa dari Brazil Prof. Jucelino Nobrega da Luz tidak benar. Karena itu masyarakat diminta tidak terpengaruh dan tak mempercayainya.
"Sampai saat ini belum ada satu orang pun yang bisa memastikan akan terjadi gempa, baik kekuatan, lokasi maupun waktu terjadinya, karena itu apa yang disampaikan itu tidak bisa dipercaya," kata Koordiantor BMG Bengkulu Adjat Sudrajat di Bengkulu, Jumat.

Adjat juga mengatakan, hingga saat ini belum ada tekonologi atau ilmu pengetahuan yang bisa memprediksi terjadinya gempa bumi secara pasti. Ia juga mengaku, sampai sekarang BMG ataupun pihak peneliti gempa dari Indonesia tak ada yang menyampaikan akan terjadi gempa bumi besar di Bengkulu ataupun di wilayah lainnya khususnya di Sumatera.

Untuk itu, ia berharap agar masyarakat tidak percaya tapi tetap meningkatkan kewaspadaan, bukan karena akan terjadinya gempa bumi besar namun karena memang Bengkulu merupakan daerah paling rawan bencana khususnya gempa.

Ia mengaku telah menerima pemberitahuan kemungkinan adanya bencana besar itu dari Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana (Bakornas PB) dalam bentuk salinan faksimili surat dari Jucelino ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Brazil. Prof Jucelino mengirim surat prediksi gempa besar ke KBRI di Brazil yang kemudian oleh pihak KBRI diteruskan ke Bakornas PB. Bakornas PB kemudian meneruskan ke Pemprov Bengkulu.

Dalam suratnya itu, Jucelino memperkirakan akan terjadi gempa besar berkekuatan 8,5 SR di wilayah Sumatera pada 23 Desember 2007, tapi tidak menyebutkan secara pasti lokasi bencana itu.

Prof Jucelino sebenarnya bukan kali ini saja memperingatkan akan adanya gempa besar. Sebelumnya pada 1998 ia telah mengirimkan surat tentang akan adanya tsunami besar di Indonesia pada 2004, yang kemudian terbukti terjadi di Aceh dan sekitarnya.

Pengamat gempa dari Brazil itu juga pernah mengirim surat pada 2006 yang berisi prediksi terjadinya gempa berkekuatan 8,4 SR di Bengkulu pada September 2007. Ternyata memang terjadi gempa bumi berkekuatan 7,9 SR di Bengkulu pada 12 September 2007. ANTARA

5.12.07

JALESVEVA JAYAMAHE

“... tjoema koewatir dihari kemoedian orang tida mengetahoei ma’soed dan toedjoehan ini, maka perloe dioekir ini Batoebor sekadar menerangken kami poenja berdaja bisa terkaboel katoeroetan, dan itoe ada dapet sawab, dan memanglah begitoe adanja.” ***

COBA Anda pejamkan mata sejenak. Bayangkan Anda seolah hidup di jaman Majapahit. Saat Anda sedang memandang ke laut lepas dari tempat Anda berdiri memaku di daerah Tanjung Burung di muara Cisadane, perlahan tampak oleh Anda sejumlah titik hitam nun di kaki langit. Kian Anda tatap, titik-titik itu kian membesar dan kian mendekat. Sejurus kemudian, Anda sadar bahwa sekelompok kapal yang aneh bentuknya sedang bergerak ke garis pantai, di mana kaki Anda masih mencengkeram pasirnya.
Karena takjub, tanpa sadar Anda tetap terpaku hingga para kapal melempar sauh. Lantas beberapa sekoci diturunkan dan merayapi gelombang kecil menyisir kuala menuju Anda. Dalam hitungan sejurus saja, telah berdiri di hadapan Anda, seorang yang tinggi besar, berbaju sayap dengan sulaman naga, beralis tegak mata sipit dan berjenggot prisma. Kulitnya halus kuning seperti belerang, menyungging senyum di ujung hidung seruncing pedang. Belum sempat Anda terkesiap, ia pun melempar sapa, “ Haiya..., Assalamu’alaikum Walamatullahi Wabalakatuh...”

Bagaimana kira-kira reaksi Anda ? Adakah Anda akan serta merta menjawab sapa tersebut atau memilih kabur atau merasa lebih baik untuk semaput ?
Dan seperti itulah yang kira-kira terjadi di kota bandar yang sempat menjadi tempat bersandar sang Laksamana Cheng Ho, terutama di Semarang tepat 600 tahun silam.
>>>^<<<

NENEK moyang penduduk Nusantara, menurut sejarah sebagaimana yang ditulis sejak jaman Belanda dan tetap dipercaya hingga saat ini, berasal dari Yunnan. Yunnan sendiri merupakan wilayah yang sejak jaman dinasti hingga saat ini, masuk teritorial Cina. Meski ada beberapa buku pelajaran SD-SMP dahulu, yang mungkin karena penulisnya rada alergi dengan Cina, menyebut Yunnan ada di wilayah perbatasan Vietnam dan Kamboja.

Jika nenek moyang orang di Nusantara ini, sama dengan nenek moyang Si Laksamana, mengapa kita masih saja harus terheran-heran jika ada orang yang punya mata sipit, kulit pucat, hidung runcing, yang memeluk agama Islam ? Atau sebaliknya, mengapa bagi orang-orang Cina jika ada dari golongan mereka yang memeluk agama Islam sering dipandang seakan-akan orang tersebut adalah pengkhianat besar ? Atau, jika ada mubalikh atau da’i yang berdarah Cina lantas kita perlakukan seolah-olah seorang pahlawan yang harus dimanja-manja ?

Semua itu terjadi akibat dimensi masa yang tersekat kultur yang tercipta akibat kebijakan politis. Bagi kita, RRC itu negara komunis. Bagi kita, negara komunis itu penduduknya kudu atheis. Sedangkan bagi orang Indonesia yang berdarah Cina, terpersepsi bahwa orang pribumi itu kudu Islam. Kebijakan Orde Baru yang alergi dengan segala sesuatu yang berbau Cina, pun dianggap sebagai perintah Islam. Sehingga jika ada yang mualaf, maka ia dianggap menyeberang ke kubu lawan.

Kesan itu pun belum total hilang hingga di masa sekarang, yang semenjak Gus Dur menjadi Presiden, akses bagi kegiatan dan kebudayaan Cina telah direhabilitasi. Contoh kental kasus ini diperlihatkan dan acap justru menjadi ‘senjata’ yang teramat dibanggakan oleh seorang da’i kondang asal Cirebon yang wajahnya mirip-mirip dengan Anton Medan. “ Kaca bukan sembarang kaca, kaca ini seindah pualam. Cina bukan sembarang cina, cina yang ini sudah masuk Islam.”

Nah, kalau Anda masih terbengong-bengong melihat si da’i yang sesekali keluar bahasa totoknya itu dan menjadi takjub olehnya, maka Anda sesungguhnya tak beranjak dari Tanjung Burung di kurun 600 tahun yang lalu.

>>>^<<<

CINA atau Tiongkok saat kita merasa perlu lebih mesra, menurut data Kantor Pemberitaan Dewan Negara RRC tahun 1991 memiliki sekitar 28 juta penduduk muslim dari 1,4 miliar total penduduknya. Saat ini, jumlah tersebut pastilah sudah bertambah banyak. Dari 50-an suku di sana, terdapat 10 suku yang memeluk Islam, yaitu: Hui, Uigur, Kazak, Tatar, Tajik, Uzbek, Kirgiz, Tungziang, Zala dan Pawan.

Bahkan menurut Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo, dalam cerita silat terbitan CV. Gema – Solo, di dalam salah satu karyanya yang berjudul Istana Pulau Es, disebutkan bahwa mayoritas orang yang bermarga Suma itu beragama Islam.

Islam masuk ke Cina, menurut kitab sejarah Ta Shi, Ziu Tsang Shu, dibawa oleh utusan Khalifah Uthaman ‘b Affan (557-656). Para utusan itu diterima dengan penuh persahabatan oleh Kaisar Dong Hui pada 25 Agustus 651. Semenjak itulah, Islam dikenal dan dianut oleh masyarakat Cina.

Catatan sejarah itu diperkuat oleh keberadaan Masjid Huai Sheng di Guangzhou yang didirikan pada 689 dan Masjid Niu Jie di Beijing yang dibangun tahun 996.

Persepsi keliru tentang penduduk negara komunis terbesar itu adalah atheis melulu, dibuktikan dengan keberadaan organisasi keagamaan sejenis majelis ulama sejak 1953, yang dijamin secara konstitusi. Padahal di sini MUI baru berdiri pada 1975.

>>>^<<<

NENEK moyangku orang pelaut, yang kerap dinyanyikan di masa kanak-kanak, mungkin kini menjadi bias. Yang dimaksud oleh pencipta lagu tersebut sesungguhnya nenek moyang yang mana ? Yang eksodus dari Yunnan di masa neo-lithikum yang kelak menjadi pribumi nusantara. Atau belasan ribu abk yang turut dalam rombongan Laksamana Cheng Ho, yang sebagian di antaranya lantas menetap di nusantara. Atau para nelayan kita yang kini tak lagi bisa melaut karena solar untuk mereka sudah tak terbeli.

Kisah tentang Laksamana Cheng Ho, memang tak bisa lepas dari catatan tentang Islam. Pun terhadap keperkasaan dan kemuktahirannya dalam menaklukkan laut. Dengan sistem navigasi yang canggih dewasa ini pun, belum lagi ada pelayaran yang menyertaan armada sebanyak apa yang dilakukan oleh admiral Dinasti Ming itu. Apalagi oleh armada TNI-AL kita.

Betapa masygulnya hati ini, saat tersiar kabar bahwa Kapal Patroli RI yang memergoki kapal maling ikan punya Malaysia yang dibuat tak berdaya dan malah minta maaf plus beberapa abk yang dipaksa nyebur ke laut.

Apakah masih kita bangga sebagai negara maritim yang punya nenek moyang pelaut, jika kenyataan menunjukkan bahwa kita masih belum beranjak dari kebodohan yang sama saat bangsa ini harus menjadi jajahan dari orang Eropa yang kemari dengan 3 kapal yang sudah terombang-ambing setengah tahun lebih di samudera luas.

Apakah kita tetap merasa gagah dengan berbagai slogan sansekerta yang mulai terasa asing di telinga generasi muda kita, yang kini lebih mengerti so what, on the way, suddently, I do my best ketimbang Praja Muda Karana, Bhinneka Tunggal Ika, Vivere Veri Colaso, apalagi Jalesveva Jayamahe.

Berharap pada hari ini, esok lusa, kita masih tetap hidup di darat dan jaya di laut, sehingga perompak dan penyelundup bbm bisa ditumpas habis, dan karenanya bbm tak lagi perlu naik. Dirgahayu ke-62 TNI AL! Di Laut (InsyaAllah) Kita Jaya. THERIQA 120805/051207
*** Kutipan dari Toean Tana Simongan, Oei Tjien Sien 1879.

Jalesveva Jayamahe dalam catatan:

Saat meresmikan Institut Angkatan Laut di Surabaya (1953), Presiden Sukarno berpesan, "... usahakan penyempurnaan keadaan kita ini dengan menggunakan kesempatan yang diberikan oleh kemerdekaan. Usahakan agar kita menjadi bangsa pelaut kembali. Ya..., bangsa pelaut dalam arti seluas-luasnya. Bukan sekadar menjadi jongos di kapal. Bukan! Tetapi bangsa pelaut dalam arti cakrawati samudra. Bangsa pelaut yang mempunyai armada niaga, bangsa pelaut yang mempunyai armada militer, bangsa pelaut yang kesibukannya di laut menandingi irama gelombang lautan itu sendiri."

Bung Karno membuktikan keinginan tersebut. Pada 1960, kekuatan Angkatan Laut Indonesia (ALRI) adalah yang terbesar di Asia Tenggara dengan komposisi 234 kapal perang ( 1 cruiser, 12 kapal selam, 7 destroyer, 7 fregat, dll.)

Keperdulian Pemimpin Bangsa yang memfokuskan kekuatan militer berdasar konstelasi geografis tersebut, terbukti keampuhannya dalam peristiwa pembebasan Irian Barat.

Saat ini, dalam catatan Jaleswari Pramodhawardani, seorang peneliti The Indonesian Institute, Jalesveva Jayamahe hampir tinggal mitos belaka. Luas laut kita yang 5,8 juta km2 yang dikitari garis pantai sepanjang 81.000 km, hanya dikawal oleh dua kapal selam reot buatan Howaldt Deutsche Werke 1981. Sementara alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang masih dapat diandalkan tinggal 40% saja. Sebagian besar alutsista tersebut sudah berusia antara 20-40 tahun.

Masihkah kita heran jika Sepatan-Ligitan melayang? Masihkah kita mampu dengan kepala tegak jika latihan militer bersama Singapura jadi dilaksanakan? Ataukah memang cukup kita berdiri di pinggir pantai sambil memandangi rob yang kian meninggi dan abrasi yang kian menggila, sementara anak-anak kita sudah lupa caranya berenang dan mengail ikan. BATMAN 051207

PERKARA DUDUK

Duduk perkaranya adalah perkara duduk. Waktu saya masih kecil, masih di kelas 1 SD, Kung Kandar (kakek saya) selalu bilang lungguho sing apik, duduklah dengan baik. Sesaat terpikir, mengapa tidak ‘berdirilah dengan baik’ atau ‘larilah dengan baik’ atau ‘jengkinglah dengan baik’.

Sekarang terbayang, bagaimana bisa duduk dengan baik jika kita duduk di kursi roda, atau duduk di kursi pesakitan, lebih repot jika duduk di kursi listrik yang tentu saja tidak senikmat ketika duduk di kursi pelaminan.

Manusia memang suka duduk. Selain duduk-duduk, mereka juga hobby menduduki; betapa nenek moyang kita sangat menderita ketika diduduki penjajah, meskipun sebagian ada yang duduk enak sebagai onder, opas atau carik. Duduk itu memang selalu ada yang menduduki dan yang diduduki, beda benar dengan dodok. Di kota, jarang orang dodok ketika buang hajat, mereka lebih suka duduk.

Manusia adalah penduduk dunia, itu sebabnya mereka harus mempunyai Kartu Tanda Penduduk. Boleh mempunyai satu, dua atau tiga. Tidak mempunyai juga oke. Tetapi, sebaiknya Anda punya. Tanpa foto kopi KTP mustahil Anda dapat meminjam uang ke Bank Bajul Duduk.

Duduk memang kelihatan enak. Maka, tidak ada istilah ‘aku duduk sebagai bawahan’, yang ada adalah ‘duduk sebagai atasan’, ‘duduk sebagai kepala’, ‘duduk di kursi bupati’, atau ‘duduk di kursi dewan’. Sungguh, saya belum pernah dengar ‘aku duduk sebagai sopir’, meskipun ia seorang pengemudi angkot.

Sebuah masalah bisa didudukkan pada proporsi sebenarnya. Nah, jika masalah saja bisa didudukkan, maka alangkah mulianya si masalah. Melalui masalah inilah orang bisa duduk enak atau duduk di kursi pesakitan.

Menurut ilmu perdudukan, duduk itu bermacam-macam. Duduk sila ketika sedang pengajian atau kenduri, duduk silang kaki ketika baca koran di rumah, duduk formasi V ketika sedang memprospek orang, duduk nongkrong ketika bakar ikan, dan duduk tertib duduk salat. Yang paling istimewa adalah duduk melamun. Duduk melamun tidak pernah memperhatikan cara duduk. Yang pasti, jika raja duduk mbegagah, maka kawulo duduk silo ngapurancang.

Duduk memang bukan main; mengapa pada pelajaran matematika ada istilah tempat kedudukan, itu karena mahasiswanya harus duduk. Seorang mahasiswa, ketika diberi kesempatan berdiri, apalagi mengerjakan soal di papan tulis, maka ia akan cengar cengir karena alam kegugupan sudah menduduki sanubarinya. Meskipun mahasiswa itu jagonya membuat dudukan pelat.

Salah duduk bisa berakibat fatal. Saya pernah disumpahi tidak bisa kentut seminggu gara-gara menduduki Kiai Semburat, keris paman saya. Bisa dibayangkan jika akan ke Tangerang saya naik angkot jurusan Ciputat, atau Parung. Mendudukkan orang, mungkin istilahnya staffing, juga bisa berakibat fatal; kesalahannya bisa pada yang mendudukkan atau yang didudukkan. The right man on the right place, bisa diubah menjadi May be the right man on the may be right place.

Saya juga baru tahu kalau penyakit angin duduk itu adalah jantung coroner dan pemain cadangan biasanya duduk di bangku cadangan, padahal pemain inti juga duduk di bangku yang sama. Pemain inti biasanya terduduk lemas jika timnya kalah, tetapi pemain cadangan biasanya tersenyum dalam hati, kasihan deh lu

Konon, di Singkawang ada warung remang-remang yang memberikan pelayanan kopi duduk, meski yang dijual bukan kopi. Tetapi menduduki kopi juga berbahaya, apalagi kopi panas.

Duduk memang enak, itu sebabnya orang lupa berdiri ketika duduk. Saya juga lupa berdiri ketika menulis artikel ini, saya duduk tertidur…
//SOEMARMO WS. -TGC-041207

4.12.07

MEGAT - MANDAT - MADAT


“ Sepercik air berwarna bening,
Nyanyian dewa dalam dentingan harpa
Dan kau raih secercah kemilau
Seakan ingin membunuh sang malam…”
1)


MENURUT E.L. Abel dalam buku Marihuana: The First Twelve Thousand Years, terbitan 1980 – narkotika ternyata sudah dikenal semenjak 10 ribu tahun lampau. Pendapat tersebut diperkuat oleh temuan fosil kebun-kebun mariyuana di pedesaan Cina oleh para arkeolog di tahun 1976. Dan selama berabad-abad para ilmuwan, apoteker, dokter, tabib maupun penggiat laboratorium terus menerus mencoba dan menemukan berbagai produk psikoaktif yang berbasis koka, opium, mariyuana, psilocybin, amanita muscaria, kaktus peyote, quat, kopi dan teh.

Meski awalnya narkotika bukanlah suatu fenomena uniter, penggunaannya berlatar berbagai keperluan dan alasan. Yang meluas dan akhirnya menjadi ancaman adalah penyalahgunaan zat psikoaktif tersebut. Efeknya terhadap sistem syaraf pusat (CNS, central nervous system) – otak dan spinal, sebagai stimulan (kokain, amfitamin dan kafein) atau sebagai depresan (opium, morfin, heroin, metadon, valium dan alkohol) yang bersifat aditif, telah menjadikannya sebagai obat dewa yang begitu menggejala.

Semenjak Alexander The Great berkuasa pada 330 SM, Persia telah melakukan ekspor madat ke Inggris yang ketika itu di bawah Queen Elizabeth I. Baru pada 1878, Kerajaan Inggris menerbitkan regulasi untuk meredam maraknya pemakaian madat. Regulasi yang sama baru diundangkan pada 1906 di Amerika Serikat.

Dengan madat pula Inggris berhasil menguasai Cina. Bermula dari Kanton, melalui perniagaan, madat ditebar dan akhirnya merasuki kehidupan setiap orang di segala pelosok. Rumah Bunga, istilah untuk pusat penjualan dan pemakaian candu, bermunculan dan marak dikunjungi. Masyarakat menjadi tidak peduli terhadap apapun selain ‘mimpi-mimpi indah’ mereka. Cina lumpuh tapi juga butuh. Sebagian besar rakyat dan pejabat kerajaan sudah ketagihan candu, sehingga mereka dengan pasrah menyerahkan apa saja yang ditunjuk dan diingini orang-orang Inggris, asal mereka bisa terbebas dari ‘sakaw’.

Beruntunglah Cina masih memiliki para Boxers. Para pendekar dari dunia kang-ouw berbagai aliran bersekutu untuk menyelamatkan bangsa dan tanah tumpah darah. Mulanya mereka melancarkan gerilya, karena sebagian besar aparat kerajaan (semenjak Dinasti Ming hingga Dinasti Ching) bahkan keluarga kerajaan dan para penegak hukum, justru adalah pecandu bahkan pemasok (istilah sekarang ‘bd’). Baru saat Kaisar Yun Chen naik tahta, para ksatria delapan penjuru beroleh restu melancarkan perang terbuka. Maka sejarah mencatat merebaknya Perang Candu pada 1839-1842.

Meski kalah hingga harus menyerahkan Hongkong, perang tersebut telah menyadarkan rakyat Cina terhadap bahaya psikoaktif yang telah meracuni dan melenakan bangsa itu.


>>>^<<<


Di Nusantara, seiring terjadinya interaksi dengan ‘dunia luar’ melalui perniagaan, menyelusup pula madat. Para saudagar yang membuka pasar di Andalas (kini Sumatera), menyertakan pula daun surga itu yang didapati saat lewat jalur perniagaan di dekat segitiga emas Indocina (Siam, Laos dan Kamboja).

Dadah, demikian para Megat – raja dari kerajaan-kerajaan kecil di tanah Melayu – menyebutnya, menjadi akrab dan kebutuhan yang prioritas. Jika para Megat sudah kena, maka lazimnya rakyat pun akan dengan sertamerta mengikutinya.

Nyaris serupa dengan situasi rejim mafia baik di Eropa maupun Amerika, di Nusantara para pembuka dimensi narkotika juga dari kalangan the have. Pada mulanya lingkungan pemakainya memang terbatas dan eksklusif. Jika narkotika menjangkau kalangan bawah, itu pun dapat dipastikan dibawa oleh para majikan yang jatuh bangkrut, atau melalui para hamba dan centeng bos-bos itu.

Nusantara yang bersalin rupa menjadi Republik Indonesia, seiring dengan madat dan atau candu dan atau dadah yang menjadi cantik dengan identitas baru sebagai Narkoba, alias NAPZA alias Mirasantika (menurut Rhoma Irama) menjadi layaknya sepasang mempelai yang tak kunjung usai berbulan madu. Sekalipun penyuluhan, penyadaran, kerja sosial baik oleh sekalangan kecil aparatur pemerintah (dengan digit besar di apbd/apbn) atau lembaga yang ujug-ujug marak bermunculan, toh tidak membuat produksi, distribusi dan konsumsi psikoaktif ciut nyali.

Bahkan tokoh sekaliber Henry Yosodiningrat yang nyaris melakukan aksi 'street justice', pernah hanya menjadi cemoohan dan tertawaan belaka. Narkoba merambah bagai tak terhalang waktu dan ruang, bagai tak mengenal strata dan usia, bahkan tak lagi peduli gender, pangkat, dan status ekonomi. Yang gede makai yang mahal, semisal putaw (pt), shabu-shabu, ineks maupun black-heart. Yang kere ya ngegelek alias nyimeng, ngeboat bk-magadon-leksotan, atau bahkan ngelem. Sama telernya, sama bermimpinya. Yang kecil bermimpi menjadi pejabat. Yang pejabat bahkan para pemegang mandat, bermimpi seolah mereka adalah malaikat.

Beberapa waktu belakangan ini, terbongkar pabrik shabu di Batam dan Jakarta, terungkap penyelundupan ekstasi di Apartemen Taman Anggrek dan terbongkar jaringan pengedar psikotropika di Surabaya dan Jakarta, yang masing-masing dengan barang bukti yang jika dirupiahkan mencapai miliaran. Beberapa kasus ungkapan tadi bahkan melibatkan publik figur dan pejabat negara.


Mencengangkan, memang. Konon, menurut perhitungan seorang rekan penggiat BNK (Badan Narkotika Kabupaten) Tangerang, saat ini korban peredaran narkoba sudah mencapai lebih dari 6 juta jiwa. Jika rata-rata mereka sehari menghabiskan 1 gram saja, dan rata-rata satu gram seharga 100 ribu rupiah, maka omzet sehari dari transaksi mereka adalah senilai 600 miliar rupiah (!). Padahal angka 6 juta pemakai adalah fenomena gunung es, yang angka sesungguhnya bisa jadi jauh lebih besar lagi. Sedangkan, masih menurut sumber yang sama, harga sebutir ineks (= ekstasi) bisa mencapai 150 ribu, shabu-shabu bahkan sejuta pergram, dan putaw lebih dari itu.

Kalaupun angka 600 miliar dianggap mendekati, maka itu juga berarti sekitar 220 triliun setahun, bandingkan dengan APBD Kabupaten Tangerang 1,8 triliun rupiah. Ajaib memang. Tapi begitulah mimpi berkuasa. Angka itu sekaligus menjadi pemaklum bagi kita, bahwa pemainnya pun sudah pasti bukan orang sembarang.

Berpaling sejenak ke belakang, belajar dari para pendekar di Cina, mampukah kita di hari-hari ini tak sekadar berteriak lantang, “Say no to drug !” tapi lebih jauh, dengan berani dan sepenuh hati untuk, “war against to drugs !” Agar kita kelak tak kehilangan penerus estafet, tak kehilangan satu, dua generasi, karena –sebagaimana kata H. ISMET ISKANDAR, pada satu kesempatan kepada penulis, “…because these children carry our hopes and dreams for the future.”

Jadi, dengan memerangi penyalahgunaan narkotika kita tidak akan kehilangan ‘mimpi-mimpi’ itu, karena anak-anak kita pun adalah tumpuan harapan dan cita-cita, adalah mimpi-mimpi indah kita. ANDRE THERIQA 260605/031207

1– Lirik lagu: Sepercik Air, cipt A. Bharata dan dipopulerkan oleh Deddy Stanzah mantan vokalis The Rolliest.