8.1.08

Wapres Kesandung


"That's right, brother. Ini adalah masalah yang sangat relevan dan signifikan..."


ANDA pernah memirsa tayangan NewsDotCom, kantor berita resmi Republik Mimpi di MetroTV? Kalau ya, Anda pasti segera akrab dengan kalimat di atas. Adalah Sujarwo yang memerankan tokoh Jarwo Kwat, wakil presiden Republik Mimpi, yang kerap melontarkan kalimat tadi. Tak hanya itu, JK juga kerap menggunakan bahasa inggris yang asal kena dalam memancing tawa. Bermain api dikatakannya sebagai playing fire.

Kemarin ini, JK mengadakan perjalanan ke Mapolrestro Tangerang Kota dan Kantor Kejaksaan Negeri Tangerang. Bukan kunjungan muhibah, studi banding atau sidak, melainkan untuk diperiksa sebagai terlapor kasus penipuan. Bahkan sehari sebelumnya, sang wapres sempat dinyatakan sebagai buronan.

Kasusnya sendiri bermula saat JK mengajak 50-an komedian yang tergabung dalam PASKI, Persatuan Seniman Komedi Indonesia, mengisi acara yang digelar oleh Al-Faath Production di Kampung Bola, Parkir Timur Senayan pada 25 Juni 2006. Saat itu JK belum 'dilantik' sebagai wapres Republik Mimpi.

Selesai acara, JK diberi cek sebesar 200 juta rupiah atas nama Andar Jaya oleh ketua panitia, Rifky Muhammad. Selain cek tersebut mundur 4 hari, kebetulan agenda tersebut juga berlangsung pada Ahad. JK kelimpungan untuk mencairkan cek tersebut agar segera dapat dibagikan kepada rekan-rekannya sebagai honor. Akhirnya, JK mendapat talangan dana cash dari Alex, dengan jaminan cek tadi.

Alex kecewa, karena ternyata cek itu tidak dapat diuangkan, karena tidak terdapat cukup dana di rekening Andar Jaya. Untuk mengatasi hal tersebut, dibuatlah kesepakatan antara Andar Jaya dan Alex pada 26 Juni 2006, yang ditindaklanjuti dengan pembayaran termin pertama sebesar 90 juta rupiah.

Namun, karena pihak Andar tidak menindaklanjuti kesepakatan yang telah dibuat, Alex lantas melaporkan peristiwa tersebut sebagai kasus penipuan ke Polres Metro Tangerang Kota.

JK yang sehari sebelumnya diumumkan sebagai buron, datang ke Tangerang dihantar oleh rombongan Republik Mimpi dan para pengurus Paski. Dukungan yang marak itu pulalah yang akhirnya meloloskan JK dari tahanan kejaksaan. Meski terlihat syok, JK masih mencoba mengumbar senyum dan meluapkan perasaan syukur dan terimakasihnya atas perhatian yang begitu intens dari teman-teman, keluarga dan masyarakat yang mendukungnya.

Effendi Gazali, sang penggagas NewsDotCom yang juga berperan sebagai Dek Pendi, sang penasehat politik Republik Mimpi yang selalu duduk bersebelahan dengan JK di acara saban malam Senin itu, menyatakan bahwa seyogianya JK adalah korban, bukan tersangka dalam kasus ini. Seharusnya tersangka kasus ini adalah Andar dan Rifky yang hingga saat ini belum diketahui keberadaan mereka.

Turut prihatin, setelah diguncang isu somasi tempo hari, kini Republik Mimpi diguncang kudeta terhadap JK. Semoga ini menjadi pembelajaran agar kita lebih waspada dalam melangkah dan jangan sekali-sekali playing fire. THERIQA 080108


2.1.08

2rb8


ANAK SEKECIL ITU BERKELAHI DENGAN WAKTU
DEMI SATU IMPIAN YANG KERAP GANGGU TIDURMU
ANAK SEKECIL ITU TAK SEMPAT NIKMATI WAKTU
DIPAKSA PECAHKAN KARANG
KUAT JARIMU MENCENGKRAM *)


Seyogianya pergantian tahun tadi malam adalah momen yang sangat dinantikan oleh berbagai anak manusia untuk tumpahkan keriangan. Tetangga kiri kanan yang selama 364 hari tidak pernah saling bertegur sapa, bahkan mungkin tidak pernah saling bertemu muka, spontan keluar bersama menyiapkan arang dan daging apa saja yang masih bisa didapatinya.

Semenjak siang, berbondong-bondong para penjaja dan pedagang sudah menyiapkan lapak di lokasi yang diyakini mereka bakal menjadi tempat berkumpulnya orang. Terompet yang makin canggih modifikasinya, yang nongol sekali setahun, bertabur di sepanjang trotoar. Mereka berharap, bisa mengais sedikit rezeki yang tidak tiap hari ada.

Saya tidak tahu di tempat lain, karena akhir tahun ini saya memutuskan untuk tidak ke mana-mana dan menjauhi diri dari muka televisi. Saya sudah berjanji dengan sahabat-sahabat jiwa saya untuk melakukan kontemplasi dan retrospeksi secara bersahaja di Sawung Rere, sebuah gazebo mini milik Pak Ari.

Dan inilah yang terjadi di sekeliling saya malam itu. Selepas maghrib, saat keriangan sedang bersiap diluapkan, saat lampu penerangan jalan mulai bernyalaan, saat deru sepeda motor mulai ingar bingar, saat arang mulai membara, saat ikan dan ayam mulai dibumbui, saat sound system mulai di tes-tes-satu-dua-testing-tes-tes, saat para pedagang bersiap tawar menawar, saat itu pula, mendadak sontak air tertumpah begitu saja dari langit. Semua terkesiap. Agenda yang sudah tersusun jauh-jauh hari sontak terancam. Beribu doa pun spontan dilantunkan, memohon agar hujan bisa berhenti atau setidak-tidaknya, ditunda.

Para pedagang terompet yang tadinya bersiap-siap hendak menghitung hasil penjualan, menghitung untung, kontan pucat pasi. Sebagian dengan cekatan menutupi dagangannya dengan plastik. Sebagian yang tidak sempat menutupi karena memang tidak menyiapkan plastik, langsung lunglai, persis seperti terompet dagangannya yang terbuat dari karton yang kuyup karena basah.

Arang yang sudah menjadi bara, padam seketika. Panggangan pun diungsikan masuk ke garasi, carport atau teras beratap. Rata-rata kepala menengadah ke langit, mencoba membaca kegelapan di angkasa untuk menerka seberapa lama air tercurah.

Tak lama kemudian, semua doa dan pengharapan seakan-akan terjawab. Angin hadir dengan kencang, mengusir rinai hujan. Kegembiraan pun kembali menggempita. Tungku dan panggangan kembali bergerak ke luar rumah, lagu-lagu kembali berkumandang, plastik mulai dibuka, dagangan pun kembali ditawarkan.

Sepertinya, alam mulai pintar mengaduk perasaan manusia. Keceriaan yang hadir kembali tidak berlangsung lama, tidak lebih dari satu jam. Hujan deras lagi-lagi seperti tertumpah dari langit. Kali ini tak ada lagi yang siap untuk menyelamatkan apa-apa. Arang dan bara habis semua, terompet-terompet layu semua...

Sahabatku. Meski di Sawung kecil kita tetap berpadu, meski keceriaan kita masih tetap menyatu, benar-benar kita semua tenggelam dalam haru.

Sebagian dari kita mungkin menikmati pergantian tahun di hotel-hotel berbintang, ditemani bintang-bintang pujaan. Sebagian lagi mungkin merayakannya dengan berfoya-foya di gedung megah. Namun, sesungguhnya, sebagian dari anak bangsa ini menyilakan datangnya dua ribu delapan dalam nestapa. Ada mereka yang tidak hanya sekadar berjuang menyelamatkan dagangan, bara api dan ikan ayam, bahkan ada saudara sebangsa kita yang sedang berjuang menyelamatkan harta benda mereka, atau justru bahkan, jiwa mereka.

Sebagian kita begitu terpesona menyambut pergantian waktu. Sebagian besar dari anak-anak kita barangkali tidak lagi sempat menikmati waktu.

Dua ribu delapan sudah datang. Mari kita menghadapinya dengan gagah, jiwa yang jernih, pantang menyerah, solidaritas tinggi dan pikiran yang lebih dewasa. THERIQA 010108

*) SORE TUGU PANCORAN, IWAN FALS

30.12.07

Badai (Belum) Berlalu

DESAKU

H. MUTAHAR

Desaku yang kucinta
Pujaan hatiku
Tempat Ayah dan Bunda
dan HandaiTaulanku
Tak mudah kulupakan
Tak mudah bercerai
Selalu kurindukan
Desaku yang permai


Kemarin di keceriaan hajatan Sahabatku Edwin Aldrin, saya sengaja membawakan lagu tersebut. Dengan sepenuh keharuan hati. Bukan saja lantaran lagu tersebut sudah sangat lama tidak lagi terdengar. Sudah teramat sangat lama tidak lagi pernah didendangkan. Tetapi terlebih adalah karena sebagian besar desa-desa nan permai di seantero penjuru Jawa Tengah dan Jawa Timur saat ini sedang poranda, basah terendam, padahal hanya berselang beberapa waktu berselang, tempat-tempat itu dilanda kekeringan.

Kita yang tadinya masih sangsi dengan propaganda global warming, yang masih sempat bertanya-tanya, mengapa Tuhan sedang begitu marahNya pada negeri ini, mulai harus berhitung ulang, bukan saja terhadap tingkah pola moralitas kita, tetapi terlebih lagi tentang pandangan dan hubungan bilateral kita dengan alam sekeliling kita.

Nyatanya, jikalau Tuhan marah, masih terbentang banyak jalan untuk memohonkan ampunanNya. Jikalau manusia marah, masih banyak cara untuk memintakan maaf padanya. Namun, tatkala alam terlanjur murka, kemana kaki masih bisa hendak melangkah.

Dahulu, pertengahan 80-an hingga 90-an, saya pernah berpikir bahwa Asia Selatan, terutama Bangladesh dan Srilanka, bak negeri terkutuk. Di saat negeri kita sedang hujan, mereka kekeringan. Di saat kita sedang cerah, mereka kedatangan air bah. Ketika itu, hampir setiap semester negeri kita mengirim bantuan kemanusiaan ke sana. Kini, justru kitalah yang berharap-harap masih ada negeri lain yang perduli pada kita, pada saudara-saudara sebangsa kita.

Karena itu, ketika buka-buka arsip, saya temukan sebuah tulisan saya beberapa waktu lampau yang sudah pernah dipublikasikan lewat MediaTangerang. Sepertinya masih relevan untuk kita renungkan. Di akhir tahun ini, saatnya kita berkontemplasi, beretrospeksi, siapa tahu, kita juga adalah pemilik andil dari prahara-prahara di negeri ini. THERIQA 301207

>>>^<<<

“…now the world’s only hope lies with determined survivors, uniting for one last pray before it’s the end of mankind.” ***

MINIMAL ada satu hal yang positif, bahwa dalam catatan bangsa ini pernah ‘disinggahi’ seorang Raffles sebelum ia membangun Tumasik dan menjadikannya Bandaraya Singapura. Hal itu adalah, ia menemukan dan lantas menamai kembang raksasa yang mengeluarkan bau menyengat. Bunga Rafflessia memang bunga langka, meski kalau pun jumlahnya banyak belum tentu disuka dan membuat bahagia. Tentu saja, karena Bunga Rafflessia sebelum ‘bertemu’ si Gubernur Jenderal Inggris saat menguasai Andalas, bernama Bunga Bangkai.

Di kawasan tujuan penggemar ruang berasap dengan musik ingar-bingar, baik di daerah Kota, daerah Pinangsia Tangerang, maupun beberapa ruas exit tol, pun bertabur nama-nama indah mempesona. Nama gemerlap semacam Rafflessia nyatanya bukan lagi sekadar monopoli aktor, aktris dan penggiat selebritas.

Jangankan nama pribumi semacam ponirah dan tulkiyem, nama bagus seperti sri pun nyaris tak lagi kita jumpai untuk generasi setingkat SMP dewasa ini.

Maka tak heran, belakangan ini muncul kecenderungan yang sama menghinggapi monster-monster pencabut nyawa. Siapapun pasti akan menutup pintu buru-buru, jika terdengar kabar bahwa El Nino, La Nina, atau Katrina akan datang bertamu.

>>>^<<<

KEKUATANMU adalah kelemahanmu, demikian bunyi filosofi yang cukup kental di lingkungan Jetkundo, beladiri bergaya Bruce Lee. Itu tergambar jelas di pemandangan yang terpampang di distrik Louissinia dan Missisipi, terlebih di Kota New Orleans yang permai.

Dahulu kita selalu berpikir bahwa komunitas Hollywood terbiasa berimajinasi dengan berbagai produk mereka yang berkisah tentang force-majeurs. Twister, Perfect Storm, Vulcanos, Independence Day, hingga ke Tower Inferno, adalah khayalan sineas Amerika tersebab mereka tidak pernah beroleh kesempatan mengalami kejadian-kejadian tersebut.

Bencana di mata Hollywood menjadi komoditas karena begitu amazing, dramatis, menggugah simpati bahkan empati dan memberi peluang munculnya heroisme. Dan sang hero sudah tentu adalah si Paman Sam. Sementara bagi mereka yang terbiasa menyaksikan, menemui bahkan mengalami bencana, tentu rasa dan emosinya juga berbeda, tidak terlalu reaktif dan bergelora.

Sehingga, sungguh dengan sangat menyesal dan kepala tertunduk dalam-dalam, apa yang kita saksikan pada dini hari pertama September, seakan kita keliru memencet tombol remote-control kita. Apa yang melanda New Orleans saat itu yang ditayang langsung oleh CNN, seolah-olah apa yang kerap disajikan oleh layar HBO. Pampangan yang begitu tragis, begitu natural karena memang tidak sedang didramatisir oleh seorang sutradara.

Apa yang terjadi dalam empat-lima hari setelah kehadiran Katrina di pantai belahan Selatan Amerika Serikat itu justru lebih mengiriskan. Dan kejadian sepekan terakhir ini sekaligus menunjukkan kenyataan bahwa apa yang selama ini dipertunjukkan sebagai kekuatan Amerika Serikat itu adalah juga kelemahannya.

Jika dua hari selepas tsunami menerpa NAD, kapal induk AS sudah mengontak AL kita untuk ijin merapat, di negerinya sendiri malah sebaliknya. Penanganan pasca bencana kita yang kerap dikritisi mereka, tidak beroleh contoh yang pantas saat mereka berada di posisi yang sama.

Jika ada hal yang kurang lebih sama, itu tak lain dari acting para pejabatnya. Raut dan warna muka George W Bush saat mendatangi Superdoom, sebelum 15.000 korban yang ditampung di situ dipindahkan ke Arizona, sambil mengucapkan, “Sebentar lagi saya akan terbang meninggalkan kalian, tetapi saya tidak akan pernah melupakan apa yang saya lihat di sini…” hampir nyaris serupa dengan saat ia mengucapkan, “Amerika beserta sekutu Eropa, akan membantu masyarakat Iraq untuk menemukan dan menghancurkan instalasi senjata pemusnah massal kimia, menghapus terorisme dan sekaligus menegakkan kehidupan demokratis…”

Saya bahkan seakan merasa bahwa hidung Bush muda itu bertambah panjang beberapa milimeter setiap melihat ia mengucapkan sesuatu.

Keyakinan tentang kenyataan bahwasanya AS merupakan negara paling rentan kini bukan lagi monopoli bangsa lain, tetapi mulai menyelimuti warganegara AS sendiri. Saat Washington sedang gladi resik karnaval dalam kerangka 4 tahun WTC, saat Pentagon sedang berkutat dalam debat penambahan anggaran pertahanan, saat Gedung Putih sedang ditekan untuk menarik sisa pasukannya di Irak, saat dua anggota parlemen mereka sibuk membujuk penentangan Papua dalam wilayah integral NKRI, saat seorang pendeta tersohornya mengagitasi pembunuhan terhadap kepala negara tetangganya, saat itulah kesabaran Katrina habis.

Kontroversial dan ironi memang gaya AS, sebagai bentuk managemen konflik yang mereka anut. Dan keperkasaan ‘seorang gadis’ Katrina yang ditunjuk Sang Maha Kuasa untuk meruntuhkan arogansi, rasa superior dan sok heroik si Uncle Sam itu, adalah jawaban atas semua retorika mereka.

Begitu bersahajanya alam, betapa bijaksananya alam.

>>>^<<<
BADAI memang belum hendak beranjak, seakan mengikuti jejak bajaj yang meski secara resmi dihapus tapi tetap seliwiran di jalanan metropolitan.

Beberapa pengamat yang sangat pakar dalam hal mengkritisi orang, menilai bahwasanya tersebab oleh kinerja kabinet yang buruk, maka Indonesia akan segera memasuki Badai Krisis Jilid II. Ajaibnya, salah satu indikasi para pengamat itu kali ini terbukti, yaitu anjlognya nilai rupiah.

Dan sebagaimana biasa, komentar pengamat yang pertama segera direspon dengan ‘pengamatan’ kelompok pengamat lainnya. Jika yang pertama bilang, satu-satunya solusi adalah SBY adalah segera melakukan reshufle, maka kelompok kedua menandaskan bahwa tindakan rombak kabinet sama sekali tidak perlu karena turunnya nilai tukar rupiah disebabkan oleh melonjaknya harga minyak maka segeralah naikkan harga BBM.

Jika SBY sebagai nahkoda dengan tutur teratur, emosi terkendali, menyodorkan empat paket ekonomi disertai statement bahwa jikapun pemerintah ‘terpaksa’ memberlakukan kenaikkan harga BBM, itu paling cepat pada Oktober, setelah upaya mengatasi persoalan kompensasi kenaikkan BBM Maret rampung. Maka selang sehari, seorang menko yang cuma kelasinya SBY dengan corak kocak dan norak menegaskan bahwa kenaikkan BBM segara pada bulan September ini juga.

Indonesia tetap saja setia pada pakem keindonesiaannya, karena setelah dua kelompok pengamat yang sangat paham kapan harus muncul di tv dan koran – maka selalu ada kelompok ketiga. Kelompok ketiga adalah kelompok yang ‘tidak laku jual’ baik di tv maupun koran dan media mereka adalah poster dan trotoar. Kali ini pun kelompok ketiga tak kalah reaktifnya, mereka emoh bersoal perlu tidaknya kabinet dibongkar. Daripada ribut soal kabinet, mereka justru menuntut mundurnya sang nahkoda.

Dalam situasi angin kencang berhembus, tak lagi perlu kita bertanya, siapa yang waras, karena semua pihak selalu merasa dirinya paling benar; jikapun kelak terbukti asumsi dan argumentasi mereka salah, toh mereka tidak pernah, tidak perlu merasa bersalah.

>>>^<<<

BADAI memang tidak sama seperti bajaj. Meski kadang-kadang manuver bergeraknya sama, ributnya juga sama. Tapi ributnya badai belangkangan ini konon akibat pemakaian bbm kita yang sudah tak wajar, sementara ributnya bajaj, adalah contoh pemakaian bbm yang tidak wajar itu.

Negeri ini memang sedang susah, Ibu Pertiwi pun tetap bergenang air mata. Sementara saudara-saudara kita ada yang sedang susah payah menyelamatkan harta bendanya, jiwa raganya, sebagian saudara kita yang lain sedang bersiap-siap untuk berfoya-foya. Bahkan ada yang sudah buang garam ke laut, bermiliar-miliar untuk sebuah mimpi di Pilkada.

Sepekan dua ini, kita pun merasakan angin agak sibuk lalulalang dan rada berisik di Tangerang. Penciuman yang normal pun bisa segera mengendus aroma di sela liukan angin itu. Langkah yang itu-itu saja, gaya yang begitu-begitu saja, bersoal hal-hal yang sama, berperan pun untuk lakon yang serupa.

Mereka sebenarnya pernah beroleh kesempatan. Entah mengapa, saat ini mereka masih ngotot mencari kesempatan yang tadinya justru disia-siakan. Mereka nekat memacu kuda meski seyogianya mereka sadari bahwa mereka tidak berpelana seukuran pantat mereka, dan tali kendali mereka hanyalah sejuntai benang kusut yang basah. Padahal kalimat bersayap sebegitu sederhananya, “ Siapa menabur angin, ia akan menuai badai.”

Atau memang kita sudah sangat American Style, amat Americaminded ? Sehingga kawan-kawan kita tadi sudah mulai latah meniru si Bush muda yang senantiasa memaksa orang mendengar kata-katanya, sementara telinganya sendiri justru tidak mendengar apa-apa? THERIQA 040905

*** PETIKAN FILM ID-4 (INDEPENDENCE DAY) KARYA SUTRADARA ROLAND EMMERICH

27.12.07

Bosan Hidup


Jika engkau inginkan kicau burung sepanjang hari
kenapa tidak kau tautkan setangkai ranting hijau di dalam hati...

Seorang pria mendatangi Seorang Master. "Guru, saya sudah bosan hidup. Sudah jenuh betul. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu berantakan. Saya ingin mati."

Sang Master tersenyum, "Oh, kamu sakit."
"Tidak Master, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati."

Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Master meneruskan, "Kamu sakit. Dan penyakitmu itu sebutannya, 'Alergi Hidup'. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan."

Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan mengalir terus, tetapi kita menginginkan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Resistensi kita, penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit.

Yang namanya usaha, pasti ada pasang-surutnya. Dalam hal berumah-tangga, bentrokan-bentrokan kecil itu memang wajar, lumrah. Persahabatan pun tidak selalu langgeng, tidak abadi. Apa sih yang langgeng, yang abadi dalam hidup ini ? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita.

"Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku." Demikian sang Master menyarankan.
"Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup." pria itu menolak tawaran sang guru.
"Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?"

"Ya, memang saya sudah bosan hidup."

"Baik, besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini. Setengah botol diminum malam ini, setengah botol lagi besok sore jam enam, dan jam delapan malam kau akan mati dengan tenang."

Giliran dia menjadi bingung. Setiap Master yang ia datangi selama ini selalu berupaya untuk memberikannya semangat untuk hidup. Yang satu ini aneh. Ia bahkan menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.

Pulang kerumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut "obat" oleh Master edan itu. Dan, ia merasakan ketenangan sebagaimana tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai ! Tinggal 1 malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah.

Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran Jepang. Sesuatu yang sudah tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Pikir-pikir malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya santai banget.

Sebelum tidur, ia mencium kening istrinya dan membisiki di kupingnya, "Sayang, aku mencintaimu." Karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis.

Esoknya bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Pulang ke rumah setengah jam kemudian, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis.

Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, "Hari ini, Boss kita kok aneh ya ?" Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis.

Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan apresiatif terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya. Pulang ke rumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya, "Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu."

Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, "Pi, maafkan kami semua. Selama ini, Papi selalu stres karena perilaku kami."

Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya ?

Ia mendatangi sang Master lagi. Melihat wajah pria itu, rupanya sang Master langsung mengetahui apa yang telah terjadi, "Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh, Apa bila kau hidup dalam kekinian, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan."

Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Master, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya.

Konon, ia masih mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam kekinian. Itulah sebabnya, ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu hidup.

Hidup bukanlah merupakan suatu beban yang harus dipikul tapi merupakan suatu anugrah untuk dinikmati. 271208 TULISAN INI MERUPAKAN KUTIPAN DARI SEBUAH EMAIL MANIS YANG BARUSAN DIKIRIM OLEH SAHABATJIWAKU, RINA FARIA, YANG SAAT INI MASIH SIBUK DENGAN PEKERJAANNYA DI KANTOR, SEMANTARA SEBAGIAN BESAR DARI KITA SUDAH LENGGANGKANGKUNG MENGHIRUP UDARA LIBURAN AKHIR TAHUN.

22.12.07

Ibu


Hari ini, 79 tahun yang lalu, dua purnama setelah Kongres Pemuda yang melahirkan Soempa Pemoeda, bertempat di Ngayogyakarta Hadiningrat, berlangsung pula Kongres Perempoean. Untuk mengenang apa yang dilakukan kaum ibu nusantara dalam membingkai pergerakan menuju Indonesia Merdeka yang berlangsung tiga hari itu, ditetapkanlah setiap tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu.

Namun apakah kemuliaan kaum ibu hanya bermakna tatkala mereka mampu secara historik dan patriotik melaksanakan kongres sebagai bagian dari sebuah pergerakan nasional? Harus jujur diakui, nyatanya tidak. Baik secara bersama-sama maupun secara sendiri-sendiri, kaum ibu merupakan soko utama setiap generasi yang mengisi keberadaban pertiwi. Namun sayangnya, peran mahamulia seperti itu, kerap terabaikan, acap kali termarginalkan.

Lihatlah betapa menumpuknya kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), jika kasus tersebut dilaporkan dan mengemuka, tak jarang yang terancam pidana justru perempuannya. Pelecehan dan perundungan seksual, perdagangan perempuan dan berbagai penistaan lain, masih menu santapan utama mereka.

Secara simbolik, agama sudah mengajarkan betapa penting peran ibu dalam keluarga. Surga terletak di telapak kaki ibu. Sayangnya, oleh kaum lelaki, sabda tersebut sering diplesetkan menjadi: surga ada di antara kaki ibu.

Peran kaum perempuan Indonesia, tidak hanya berhenti pada pola tradisional yang mengharuskan mereka hanya mengurus anak dan dapur semata. Kemandirian kaum perempuan Indonesia sudah terbata dalam sejarah. Mereka juga menjadi pilar utama rumah tangga tatkala kaum lelaki patah arang dan tersangkut masalah.

Jika kita berkesempatan berkeliling nusantara, kunjungi pula pusat-pusat kegiatan ekonomi yang ada, maka akan kita temui lebih dari sepertiga pelakunya adalah kaum ibu.

Beberapa saat yang lalu, saya beroleh satu kiriman kisah pendek yang mengharu-birukan perasaan, berikut petikannya:

Ini adalah mengenai Nilai kasih Ibu dari seorang anak yang mendapatkan ibunya sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur. Kemudian dia menghulurkan sekeping kertas yang bertulis sesuatu. Si ibu segera membersihkan tangan dan lalu menerima kertas yang dihulurkan oleh si anak dan membacanya.

Ongkos upah membantu ibu:
Membantu Pergi Ke Warung: Rp20.000
Menjaga adik Rp20.000
Membuang sampah Rp5.000
Membereskan Tempat Tidur Rp10.000
Menyiram bunga Rp15.000
Menyapu Halaman Rp15.000
Jumlah : Rp85.000

Selesai membaca, si ibu tersenyum memandang si anak yang raut mukanya berbinar-binar. Si ibu mengambil pena dan menulis sesuatu dibelakang kertas yang sama.

Ongkos mengandungmu selama 9bulan- GRATIS
Ongkos berjaga malam karena menjagamu -GRATIS
Ongkos air mata yang menetes karenamu -GRATIS
Ongkos khawatir kerana selalu memikirkan keadaanmu -GRATIS
Ongkos menyediakan makan minum, pakaian dan keperluanmu -GRATIS
Jumlah keseluruhan nilai kasihku - GRATIS

Air mata si anak berlinang setelah membaca. Si anak menatap wajah ibu, memeluknya dan berkata, "Saya Sayang Ibu".

Kemudian si anak mengambil pena dan menulis sesuatu didepan surat yang ditulisnya: "Telah Dibayar".

Demikianlah petikan surat elektronik yang saya terima, meski itu bukan kisah baru, karena sudah pernah saya muat dalam Koran Anak Sekolah: BintangPelajar, saya selalu tertunduk saat membacanya kembali.

Tidakkah kisah tadi menginsipasi kita akan kemuliaan kasih seorang ibu yang kadang kita abaikan?

Mari untuk menyelamati ibu-ibu kita terkasih pada hari yang berbahagia ini, kita lantunkan beberapa lirik dan menyenandungkannya dengan mesra kepada mereka:


KASIH IBU
Ciptaan: NN

Kasih Ibu
Kepada Beta
Tak Terhingga Sepanjang Masa
Hanya Memberi
Tak Harap Kembali
Bagai Sang Surya Menyinari Dunia


BUNDA PIARA
Ciptaan: Bing Slamet

Bila Ku Ingat Lelah Ayah Bunda,
Bunda piara-piara akan Daku
Sehingga Daku Besarlah

Waktu Ku kecil Hidupku Alangkah Senang
senang dipangku-dipangku di pelukan
serta dicium-dicium dimanjakan
Namanya Kesayangan...


IBU
Ciptaan: Iwan Fals

Ribuan kilo jarak yang kau tempuh
lewati rintang demi aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
walau tapak kaki penuh darah penuh nanah

Seperti udara kasih yang engkau berikan
Tak sanggup ku membalas, Ibu.

Ingin ku dekat dan menangis di pangkuanmu
sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu
lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
dengan apa ku membalas, Ibu

Kalau saja, kita masih sering mendendangkan ketiga lagu di atas, atau mengajarkannya kepada anak-anak kita dan bukannya lagu sms atau kucing garong, sepertinya masih akan ada kedamaian dan kesejukan di lorong rumah kita.

Sayangnya, Hari Ibu cuma ada sehari. Yang 364 hari lainnya adalah hari-harinya kaum lelaki. BATMAN 221207


21.12.07

Pergilah 2007, Datanglah 2008

"KUPU-KUPU YANG LUCU

KEMANA ENGKAU TERBANG
TIDAKKAH SAYAPMU
MERASA LELAH ?"

Tak berasa 2007 segera berhujung. Sebentar lagi bakal semarak terlihat pinus dan cemara baik yang beneran maupun hanya sekadar imitasi bertebaran di pelbagai pusat keramaian. Lagu-lagu yang hanya berkumandang setahun sekali, terdengar lagi. Tak terkecuali, Auld Lang Syne.
Setiap tahun, semakin kemari, segala sesuatunya terasa semakin tak pasti, selain bahwa ia akan diakhiri pada 31 Desember dan dimulai pada 1 Januari. Sekeliling kita pun. Kemarin-kemarin kita masih pasti akan terkekeh melihat penampilan Agus Basuki. Saat ini jikapun masih ada infotainment yang menayangkannya, yang ada di hati kita adalah keprihatinan, kesedihan dan kehilangan yang mendalam. Apapun yang dulu diucapkannya yang membuat kita sumringah, jika terdengar lagi saat ini hanya akan membuat kita mengurut dada, bahwa satu ketika, kita pun akan mengalami apa yang ia alami.
Ya. Saban orang mungkin saja mengalami apa yang orang lain alami. Tapi, apakah setiap hati juga bisa merasakan apa yang orang lain rasakan?

>>>^<<<

Tiga malam ini -- sebenarnya saya tidak pernah merasa bedanya malam maupun siang, kecuali jika sudah bisa mengirim sms gratis di atas pukul 22.00 -- saya sangat sibuk dengan sms yang masuk dan keluar. Saya data, sekitar 1200-an sms yang datang untuk berucap Selamat Idul Adha, lengkap dengan berbagai bumbu penyertanya. Belakangan saingan saya semakin banyak, hampir setiap orang sudah fasih mengirim ucapan selamat (ber-apa saja) dengan kata-kata yang manis puitis dan atau pantun yang jenaka.

Untung ada sms, gratis (!) pula. Kalau masih seperti tempo dulu harus ngejawab dan ngirim dengan kartu pos, kartu nyentrik, surat atau telegram, berapa dana yang harus ngucur.

Tapi sungguh, tiga malam ini saya merasa bahagia. Bukan hanya para handaitaulan dan sahabat-sahabat jiwa di sekitar saja yang mengirim salam, bahkan yang jauh di negeri seberang dan yang baru menunaikan wuquf di Arafah pun tak ketinggalan. Ucapan salam, betapapun bersahajanya, telah membuktikan bahwa kita masih diingat dan lantas akan mengingat sesiapa itu, meneruskan tali silaturahim. Dan untuk kebahagiaan yang sangat seperti itu, sungguh jari pegal maupun dana bukanlah penghalang.

>>>^<<<

Bukan juga penghalang, jika jarak yang memisahkan suatu tempo mendadak harus diperdekat. Bersamaan dengan saat saya menyaksikan kambing dan sapi disembelih, ada khabar salah seorang keponakan saya sedang melangsungkan pernikahan.

Kebahagiaan yang paripurna. Meski juga terselip kecut rasa, bahwa di waktu yang sama, saya sedang tidak dalam kapasitas bisa memperpendek jarak. Jadinya hanya restu dan doa saja yang mewakili saya untuk menjemput hari bahagia Ananda Maryo dan mempelainya.

>>>^<<<

Doa dan restu juga yang senantiasa kita harapkan dalam memulai sesuatu. Pun termasuk tahun yang menjelang. Doa demi tercapainya harapan dan restu demi proses pencapaiannya.

Sama dengan yang hendak berangkat dalam kancah pilkada. Doa dan restu tentu menjadi domain utama. Karena, sebagaimana awal tulisan ini sudah menyebutkan, ketidakpastian semakin akrab dengan keseharian kita. Tidak pasti bahwa yang sudah banyak janji bisa menepatinya. Tidak pasti yang sudah mengeluarkan dana banyak bisa membeli simpati pemilih. Tidak pasti juga yang tampang alim pasti kelakuannya benar. Tapi yang paling heboh, karena setahun yang lalu belum masuk kategori, mulai 2007 ternyata tidak pasti incumbent bakal memenangi pilkada.

Untuk menunjuk, mempercayai seseorang sebagai junjungan kita, memang tidak ada kata main-main, coba-coba. Kita harus memastikan dengan segala kepastian, siapa yang layak kita sampiri kepercayaan untuk menerima doa dan restu kita, menerima anugrah wahyu keprabon, tapi juga sekaligus tanggungjawab dan amanat kita.

>>>^<<<

Kepemimpinan memang tidak bisa lahir secara instan. Meski oleh Sang Pencipta, sesungguhnya ia telah dipersiapkan. Tapi ia toh harus tetap melalui proses.

Nabi Ibrahim as. kesetiaannya tetap saja diuji, meski terbukti bahwa ia memang nabi yang setia. Setelah mendapatkan anugerah seorang putra, Allah swt meminta kembali anak tersebut. Betapa hebatnya goncangan dalam hati Ibrahim. Namun cintanya pada Sang Khalik mengalahkan segala egoisme dan prasangkanya. Keimanan dan ketaatan Ibrahim as, keikhlasan dan ketaqwaan Ismail as, sungguh masih sangat relevan untuk menginspirasi hidup dan kehidupan kita untuk semakin cinta pada Allah dan sesama.

Selang sepekan, hal yang sama juga akan dijumpai oleh kaum Kristiani. Seorang anak manusia yang sudah Tuhan siapkan sebagai raja, nyatanya lahir dalam kesahajaan, di palungan berteman ternak dan beralaskan jerami. Terpisah dari keramaian dan hanya diselimuti keheningan ambang malam. Yesus Kristus (Isa Almasih) pun menjalani proses itu. Bukan hanya dicoba oleh iblis, tapi justru Ia pun harus mengalami penistaan dari manusia, makhluk yang sesungguhnya akan Ia selamatkan. Kemaharajaannya pun diperolok dengan sebuah mahkota yang dirangkai dari belukar duri.

Tidak penting, melihat sebuah keteladanan dari sudut yang mana. Pun demikian halnya dengan kepemimpinan. Keteladanan dalam kepemimpinan akan tetap menjadi permata zaman meski mungkin awal-mulanya ia disangkalkan.

>>>^<<<

Demikian tahun demi tahun datang dan berlalu. Bukan sebuah ritual jika kita tergerak untuk menjalani pergantiannya dengan segala macam bentuk aktivitas. Ia tidak akan menjadi haram karena memang tidak dilarang. Pun tidak lantas menjadi wajib, karena memang tidak pernah di sunnah-kan.

Saat lonceng gereja natal berhenti bertalu, maka sangkakala tahun baru akan menyeruak segala penjuru. Auld Lang Syne, mungkin masih terdengar merdu dan menghadirkan haru. Menyempatkan rasa sesak menyela di dada, menghadirkan bening menenggelamkan air mata. Ada kesunyian menyapa di tengah gegap gempita. Ada kerinduan absurd tiba, entah terhadap siapa, entah kepada apa.

Namun, semua itu acap cuma sejenak. Seiring dengan berlalunya Auld Lang Syne, tatkala countdown telah mampir pada hitungan nol, tatkala lampu kembali benderang, tatkala terompet kembali mendentang, tatkala kembang api memecah angkasa, tatkala itu segala suka cita kembali menjelma, meninggalkan ketidakpastian yang tetap menganga dan terpentang di tahun yang menjelang.
Ada doa yang tak pernah usai kupanjatkan, ada restu yang tak kunjung selesai kuhamparkan. Aku tak merasa lelah untuk itu, karena kupu-kupu seperti dalam nyanyian yang sangat disukai Radhva, sang Batman Junior pun tak pernah lelah. Semua itu adalah untuk kesejahteraan dan kebahagiaan orang-orang yang tercinta, para handaitaulan, sahabat-sahabat jiwa, serta sekalian anak-anak bangsa.
Silakan Datang Tahun 2008. Semoga segalanya menjadi lebih baik ke depan. THERIQA 211207

18.12.07

Hebat.Hormat.Hemat

“ Di tengah belantara, harimau terkapar kelaparan
Daging kijang disantap serigala-serigala
Seorang hamba
Terkadang tidur berselimut sutra
Berdarah ningrat namun beralaskan tanah…”
1)


BELAKANGAN ini makin banyak saja bukti bahwa kita ini bangsa yang hebat. Dalam perkara apapun. Coba lihat anak-anak bangsa yang berangkat ke First Step to Nobel Prize in Physics. Dua medali emas disabet siswi dari Semarang dan Papua. Di Olympiade Fisika, lagi-lagi dua medali emas berhasil di boyong anak-anak kita, ditambah bonus tiga perunggu pula. Remaja lainnya berangkat ke Puerto Riko untuk melumat pasukan tuan rumah sehingga Tim Fed Cup Indonesia bertahan di Grup II Dunia. Tiga remaja putra juga berangkat ke Eropa untuk meningkatkan elo-rating, sehingga catur Indonesia kelak akan dikenal bukan melalui seorang Utut Adianto melulu.


Ahad pagi tempo hari, sepanjang Thamrin-Sudirman sekonyong-konyong mewujud menjadi ratusan lapangan bulutangkis. Berjejar panjang berlaksa pemain bulutangkis baik yang profesional, amatiran maupun kagetan. Dan rupa-rupanya, negeri kita memang sedang nge-tren ‘kehebatan’ yang bentuknya panjang memanjang.

Dua belas tahun yang lampau, entah berapa miliar rupiah yang dihabiskan untuk menjadikan bangsa ini punya budaya antre lewat program Gerakan Disiplin Nasional. Tapi dua minggu terakhir, tanpa ber-nomenklatur di APBN pun masyarakat kita menjadi begitu akrab dengan kebiasaan antre tadi. Nyaris di seluruh stasiun pengisian bahan bakar umum, SPBU, di segala peloksok tanah air bisa dijumpai antrean kendaraan roda dua, roda tiga, roda empat hingga roda belasan, termasuk di dalamnya deretan derigen.

Awal pekan ini antrean marak terjadi di berbagai lokasi penerimaan siswa baru, yang seolah merupakan lanjutan antrean penghujung pekan lalu, saat beribu kendaraan berbaris rapi menuju Kota Hujan untuk berucap selamat bagi anggota keluarga baru. Dan sebentar lagi kita segera akan menyaksikan antrean Bapak Ibu Anggota Dewan yang terHormat di imigrasi sebagai tindak lanjut program ‘Studi Banding’ DPR RI ke beberapa negara di Asia, sekalian untuk memanfaatkan gaji ke-13 dan kenaikan gaji mereka, tentunya.

Padahal, kalau saja ada sedikit kepekaan nurani, tentunya apa yang dicontohkan SBY bisa dipanuti. Demi mengatasi persoalan kelangkaan BBM dan defisit APBN, SBY menunda lawatan ke RRC yang sudah terjadwal sejak lama. Bahkan, belakangan beliau yang senantiasa necis dengan stelan jas lengkap, mulai membiasakan diri dengan batik lengan pendek. Dan, air mancur di Medan Merdeka Utara yang selama ini menjadi indikator keberadaan Kepala Negara di Istana, tak lagi difungsikan. SBY tak hanya sekadar mengeluarkan instruksi, ia telah memberi contoh. Jika kelangkaan BBM dan persoalan pendidikan kerap disorot sebagai bukti kelemahan pemerintahan SBY, maka langkah keteladanan tadi seharusnya boleh dianggap sebagai kelebihannya.


>>>^<<<


AIR mancur di Monas akan menari mengikuti alunan irama musik, akan segera dioperasikan akhir bulan ini setelah rampung renovasi yang menelan miliaran rupiah. Kendaraan umum sejenis angkot di DKI Jakarta tidak lagi sumpek karena armadanya kini telah diperlengkapi dengan AC. Sementara itu, pada akhir pekan, semua kendaraan hanya akan terisi dengan Pertamax yang harganya nyaris dua kali lipat premium yang tidak dijual Sabtu dan Ahad di Ibukota.
Penghematan, sebagaimana yang diakui Kepala Negara, memang mengandung konsekuensi berkurangnya kenyamanan. Padahal kenyamanan itu adalah indikasi kesejahteraan. Dan kesejahteraan adalah sasaran utama perjuangan dan pembangunan. Kesejahteraan adalah janji-janji yang paling dominan yang digelontorkan oleh semua kontestan di semua ajang kompetisi kekuasaan. Dan, kesejahteraan pulalah yang akhirnya duluan tercerabut dalam pencapaian kerja siapapun yang memenangi ajang tersebut.
Kita sama-sama akan segera menjadi saksi, apakah Bang Yos benar akan mengoperasikan air mancur yang dibuat karena sirik–nya kita terhadap muncratnya air di pelataran Menara Kembar Petronas Malaysia nan indah mempesona itu, atau membiarkan dana miliaran terbuang percuma demi penghematan. Karena, menindaklanjuti Inpres, Bang Yos sudah terlanjur mengancam akan menjatuhkan punishment bagi siapapun yang tidak melaksanakannya. Jika air mancur Istana saja dipadamkan, apa iya air mancur lainnya bakal berani dinyalakan ?


>>>^<<<


MASYARAKAT kita, memang hebat. Sudah belasan tahun disuruh mengencangkan ikat pinggang, masih juga diinstruksikan berhemat. Masyarakat kita pun ho-oh saja, ketika sudah capek-capek antre mendaftarkan anaknya, dimintai dana padahal mereka sudah dijanjikan pendidikan gratis sebagai imbas keikhlasan mereka saat harga BBM dinaikkan Maret lalu.
Tentu saja masyarakat kita hebat, karena mereka bagian dari sebuah bangsa yang hebat. Bangsa yang anggota OPEC (organisasi negara peng-ekspor minyak) nan disegani, yang memiliki kuota produksi dan ekspor urutan teratas di luar negara-negara teluk, yang telah memakmurkan sekian negeri yang memiliki konsesi dan kerja sama dengan Pertamina, tapi rakyatnya harus menerima kenyataan susah beroleh minyak. Bangsa yang memiliki Pertamina yang merugi ketika harga minyak dunia merosot, dan tetap merugi saat minyak di pasaran dunia meroket.
Bangsa yang hebat, karena anak-anak bangsanya tetap bisa bersekolah gratis yang mahal, meski bapaknya `cuma penjual sapu lidi, peniti, atau pakaian dalam bekas yang diimpor berkodi-kodi dari negara yang membangun pabrik dan konveksinya di sini. THERIQA 120705

1) - Mawa’idh Imam Syafi’i
2) - Entah kenapa aku merasa situasi kita belum beranjak dari kondisi yang sama dua tahun yang lalu, maka aku tampilkan kembali tulisan yang pernah dimuat MediaTangerang 12 Juli 2005 ini.