12.2.08

Membaca TitikTuju, Membaca AndreTheriqa



"Tampillah sebagai pemenang dalam kehidupan.
Jangan sekali-kali larut dalam delusi fatamorgana.
Sekali hidup penuh arti.
Sekali bekerja bergetar dunia karena prestasi
."

SETIAP diri kita harus tampil sebagai pemikir dan pejuang, kreator dan pendobrak. Tidak ada kata statis dalam kehidupan, sebab statis berarti pengkhianatan yang memalukan. Demikian juga halnya tidak ada kata diam dalam membangun kebenaran, "Silence is worse all thruths that are kept silent become poisnous." Kata-kata inilah barangkali yang dijadikan motivasi oleh seorang Andre Theriqa dalam menumpahkan kreativitasnya.

Tulisan Andre Theriqa lebih mencerminkan sebuah ‘gumam’ atau lebih bersifat reflektif, sebuah lontaran nurani yang datangnya sangat impulsif. Hatinya gelisah bila melihat kemungkaran. Selalu haus ingin menebar marhamah kasih sayang. Jiwanya meronta untuk tampil dalam prestasi yang utuh. Dia keras dalam prinsip, tetapi bijaksana dan lembut dalam penyampaian.

Setelah membaca tulisannya, kita akan mendapatkan butir-butir hikmah yang mendalam serta akan mampu menghayati, memahami dan menemukan jawabannya sesuai dengan yang diharapkan oleh sang penulis, mencapai TitikTuju.

Tangerang, Maret 2006.

H. DIDI ADIWIJAYA, TOKOH MASYARAKAT TANGERANG

Pengantar TitikTuju-nya AndreTheriqa



TITIKTUJU, bukanlah ‘titik tujuh’. Bukan pula titik yang bertujuan. Apalagi titik yang berjumlah tujuh dan bertujuan. Bukan. TitikTuju adalah suatu proses. Proses menuju ‘akhir’ yang tidak bisa ditentukan kapan akan berakhir, oleh siapapun yang bisa berakhir. Itulah yang hendak penulis buku ini sampaikan kepada pembacanya, yang sudi meluangkan waktu untuk mengembara dalam perenungan, sebuah kontemplasi yang bermakna, bernas, dan memiliki sisi humanisme yang kuat. Walaupun sudah pernah dipublikasikan secara berkala di Media Tangerang, namun penerbitan menjadi satu buku ini masih memiliki daya tarik untuk dibaca, ditelaah, dimaknai dan dinikmati bukan sekadar untuk meluangkan waktu belaka.

Melalui TitikTuju, pembaca seakan diajak untuk menjelajahi perenungan seorang anak manusia, Andre Theriqa, dengan tetap menginjak bumi, dengan hati nurani, dengan cinta, dengan kasih sayang dan dengan tetap memanusiakan "manusia". Tulisan dalam TitikTuju, adalah kumpulan tulisan yang dibuat seketika –ketika sang penulis merasakan getaran khusus, terinspirasi untuk menuangkan dalam tulisan beberapa waktu silam. Kesadaran untuk berbagi pengalaman dari sang penulis inilah, hingga merasa perlu untuk mengumpulkan kembali tulisan-tulisan yang berserakan, mengedit dan membukukannya, untuk pembaca yang budiman. Buku yang ada di tangan pembaca ini, adalah cetakan kedua, setelah cetakan pertamanya habis dibagi-bagikan kepada handai taulan. Ternyata, tuntutan untuk mencetak yang kedua, tidak mampu ditolak oleh penulis, yang memang tidak pernah bisa menolak permintaan orang. Apalagi permintaan untuk berbagi sebuah pengalaman, perenungan untuk nilai-nilai kemanusiaan.

Beberapa tulisan dalam TitikTuju, sengaja didedikasikan untuk beberapa tokoh, --yang dikenal dan mengenal—Andre Theriqa, sang penulis. Penulis tampak terkesan dengan peristiwa-peristiwa yang dialami bersama sang tokoh, walau sederhana dan singkat saat peristiwa itu terjadi, tapi bagi Andre Theriqa peristiwa itu memiliki sisi-sisi humanisme yang dalam dari sang tokoh. Hal ini tampak dalam tulisan bertajuk "Adeng", "EMC dari Bunda", "DRH" dan sebagainya. Hingga pembaca, akan larut bersama dengan bayangan tokoh yang juga dikenal oleh pembaca di Tangerang. Sebuah ‘kota’ yang tengah ditarik oleh modernisasi untuk memisahkan sisi "kemanusiaan" dari manusia penghuninya.

Memang ada beberapa tulisan dalam TitikTuju, ketika diedit kembali beberapa waktu kemudian (enam angka di belakang tulisan), sudah kehilangan ‘momentum’-nya, jika dibandingkan dengan suasana batin ketika tulisan itu dibuat, sesaat setelah peristiwa itu dialami. Terasa ‘kering’, ketika penulis mengeditnya lagi untuk dinikmati sekarang, saat peristiwa itu sendiri sudah lampau. Hal ini bisa dirasakan dalam tulisan yang berjudul "BBBM", "Jalasveva Jayamahe" dan sebagainya. Namun, itu tidak mengurangi kenikmatan menjelajah dunia nilai-nilai kemanusiaan yang ditawarkan oleh penulisnya dalam TitikTuju.

Terakhir, jika pembaca jeli menelusuri TitikTuju hingga akhir, tentu akan mafhum, dengan situasi batin penulisnya. Bahkan pembaca dapat ikut merasakan ‘sakit’ imsomnia yang tidak dirasakan oleh penulis, bisa tahu hobi penulis yang suka mbaca buku Asmaraman S Kho Ping Hoo semasa remaja hingga hafal nama tokoh-tokoh dunia kang-ouw, seorang Andre Theriqa, yang rela begadang semalaman hanya untuk menonton bola, dan sebagainya. Penulis juga tampaknya sengaja menunjukkan kecintaannya pada lagu-lagu Iwan Fals, musisi yang dikaguminya, hingga bisa ditanyakan, ada berapa lagu Iwan Fals dalam TitikTuju ?

Akhirnya selamat membaca TitikTuju sambil mendendangkan lagu IwanFals. (250206)

Imron Hamami adalah penggiat sosial yang menjadi motor Pattiro,
sebuah NGO yang aktif dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan di Tangerang.

5.2.08

Imlek dan Harmoni dengan Alam


Tanggal 7 Februari 2008, kalender China memasuki angka 2559. Namun, menjelang Imlek, Tanah Air diterjang banjir, menewaskan beberapa orang dan mengakibatkan kerugian material.
Diperkirakan, banjir masih akan mengancam berbagai kawasan di Tanah Air pada Februari dan Maret 2008.

Banjir sudah menjadi bagian hidup kita dan diabadikan dalam aneka peradaban. Dalam sejarah Tiongkok kuno, misalnya, dikisahkan Yao bersama tujuh orang, atau Fa Li bersama istri dan anak-anaknya yang selamat dari banjir dan gempa bumi.

Menghargai alam

Apa kaitan banjir atau bencana dengan Imlek?
Imlek adalah perayaan kaum petani di Tiongkok kuno saat menyambut pergantian musim, dari musim dingin menuju musim semi. Kata Imlek dari dialek bahasa Hokkian, artinya penanggalan bulan atau yinli (Mandarin). Di Tiongkok, Tahun Baru Imlek lebih dikenal dengan Chunjie, perayaan musim semi. Kegiatan perayaannya disebut Guo Nian (memasuki tahun baru). Di Indonesia hal ini dikenal dengan Konyan.

Maka, Imlek sebenarnya menyimpan semangat penghargaan pada alam. Seperti bangsa-bangsa kuno lainnya, saat itu para petani Tiongkok mempunyai kosmologi atau pandangan tentang alam semesta yang harus selalu dijaga kesakralannya sehingga setiap pergantian musim, saat menanam benih atau memanen, selalu disertai ritual khusus bagi Sang Pencipta. Jadi, sebagai suku bangsa primitif, prinsip sakralisasi alam dipegang teguh.

Hadirnya agama-agama Tao, Konghucu, atau Buddha memberi nuansa keagamaan pada Imlek. Agama-agama ini memperkaya kepercayaan para petani untuk menghargai alam semesta. Bahkan, saking menghargai alam semesta, umat Buddha, misalnya, dilarang membunuh nyamuk atau menebang pohon. Intinya sesama makhluk hidup harus dijaga dan dihormati.

Agama Tao dengan prinsip Yin dan Yang meyakini, alam semesta selalu mengandung dua prinsip ini. Prinsip ini di antaranya juga mengajarkan agar manusia selalu menjaga harmoni dan keselarasan. Etika Konghucu mengajarkan agar kita tidak melakukan sesuatu yang menyakitkan atau merusak alam yang di dalamnya terangkum sesama manusia. Sedikit saja keselarasan diusik, manusia harus menanggung bencana dan malapetaka.

Merusak alam

Rasanya, ajaran-ajaran ini relevan dengan kita, khususnya jika dikaitkan dengan banjir atau bencana alam. Jika dicari, akar masalah banjir di Jakarta, Jawa Timur, dan berbagai tempat semua bermuara pada sikap kita yang tidak menghargai alam. Penggundulan hutan 3,8 juta hektar per tahun membuat kondisi lingkungan dan hutan di Jawa tinggal 4 persen dari luas Pulau Jawa, jauh di bawah tingkat 30 persen yang dikatakan titik keamanan minimum. Ini contoh betapa manusia semena-mena pada alam.

Reklamasi pantai Jakarta menjadi tak berarti saat di sana dibangun perumahan. Hal ini diyakini menjadi penyebab banjir Jakarta. Prof John Rennie Short dalam buku Urban Theory, A Critical Assessment (2006) mengingatkan, kekurangpekaan pengelola kota negara atas masalah lingkungan bisa memunculkan wounded cities, kota-kota terluka. Warga Jakarta sudah merasakan luka akibat banjir.

Sebenarnya reklamasi pantai, pembangunan tol, atau pembabatan hutan bisa dikategorikan contra naturam, melawan hukum alam. Manusia menunjukkan arogansinya bisa mengalahkan alam. Maka, semangat Imlek yang dihayati para petani di Tiongkok kuno untuk selalu menjaga keselarasan dengan alam menemukan relevansinya.

Berbagai pandangan itu senada dengan ecotheology yang muncul awal 1970-an karena maraknya krisis lingkungan hidup. Ekoteologi seperti dicetuskan Jack Rogers, Annie Dillard, atau John Cobb Jr dan lainnya hendak menekankan interelasi antara Allah dan alam, di dalamnya termasuk manusia. Artinya, jika kita merusak hutan, sama dengan melawan Allah. Singkatnya, ekoteologi hendak menggarisbawahi pentingnya dikembangkan praksis pembebasan manusia dan alam dari segala bentuk tirani dan eksploitasi, dan itu menjadi ekspresi penghargaan kepada Sang Pencipta.

Maka, Imlek tahun ini selayaknya dijadikan momentum menjaga harmoni dengan Tuhan, sesama warga, dan alam sekitar.

Gong xi fa cai dan Xin Nian Kuaile 2559.

Andika Hadinata Rohaniwan; Pegiat Lingkungan, Tinggal di Roma, Italia

3.2.08

Bah


Katanya, banjir besar di Jakarta itu siklus lima tahunan. Tapi, tempo hari, lagi-lagi Jakarta kelelep dan ngap-ngapan. Atau, banjir kemarin ini memang bukan banjir besar, karena kadung yang diklaim sebagai banjir besar sudah berlangsung Januari tahun lalu?

Tapi sesungguhnya, siapa lagi yang peduli itu mau disebut besar atau tidak. Nyatanya, cakupan genangan air merambah ke mana-mana. Bukan saja ipar saya -- H. Taufik -- yang terkena dampaknya, ia terpaksa meninggalkan 'audi'-nya untuk menumpang sepeda motor sang adik yang sore itu boleh melaju di jalan tol. Bahkan SBY yang Presiden Republik Indonesia pun memiliki kesempatan yang sama untuk merasakan efek hujan semalaman itu.

Tak pelak, 'sang ahli' pun kelabakan. Pihak pertama yang dipersalahkan adalah kontraktor drainase. Karena sungguh mencengangkan, terjangan air itu kali ini tidak melulu melanda wilayah minus di sepanjang sepadan kali dan wilayah kumuh yang memang sudah terbiasa dengan kondisi semacam itu, tetapi kali ini yang ditampar oleh banjir adalah jalan protokol paling bergengsi, Sudirman-Thamrin dan Tol Sedyatmo.

Tercatat lebih dari duaratus tiga puluh penerbangan terhambat, tertunda dan dibatalkan. Tidak tercatat entah berapa kerugian para pengusaha --terutama yang bergerak di sektor angkutan umum. Tidak juga tercatat, berapa pengharapan di awal bulan yang terkapar sia-sia. Dan itu semua ternyata tidak cukup untuk menggerakkan kita untuk semakin waspada.

Banjir memang bukan barang baru. Mungkin satu ketika nanti, banjir tidak lagi dianggap sebagai bencana alam. Banjir akan menjadi sebuah gejala yang biasa-biasa saja sebagaimana kita bersendawa pasca sarapan pagi dengan menu makan siang. Banjir bahkan mungkin akan menjadi rutinitas, seperti (punten) b-a-b yang kita lakukan sebelum sarapan pagi dengan menu makan siang tadi.

Memang alam dan fenomenanya yang paling asyik untuk dikambinghitamkan. Padahal ketika musim sedang kering, kita dan lebih-lebih pemerintah, tidak merasa harus melakukan upaya persiapan dan pencegahan jika musim basah tiba. Dan ketika musim basah itu tiba, kita dan lebih-lebih pemerintah, sibuk menyalahkan cuaca yang menyebabkan kita dan lebih-lebih pemerintah, tidak bisa melakukan apa-apa.

Banjir itu mungkin akan menjadi bah. Tanpa menjadi bah pun, ketika banjir ada, sahabat saya yang asli Tarutung pasti akan spontan bilang, "Bah !!"

Banjir jelas telah mengakibatkan banyak hal tidak lagi bisa dikerjakan. Boro-boro untuk berpoco-poco (meminjam istilah Megawati Soekarnoputri, yang mengibaratkan pemerintah sekarang seperti tarian khas dari belahan timur itu, maju selangkah - mundur lagi selangkah, hanya berputar-putar di tempat), untuk mengadakan sparing bulutangkis dengan kerabat kami yang dari Priuk pun terpaksa ditunda hingga waktu yang belum bisa dipastikan.

Atau mereka memang tidak sedang poco-poco, tetapi justru sedang mundur teratur. Bah !!! ANDRETHERIQA 030208

31.1.08

Kemusuk - Kemusu


Kemarin, saya seharian beristirahat dari segala rutinitas saya, yang mulai tampak agak 'liar' semenjak persiapan Pilkada, persiapan verifikasi parpol dan persiapan PON di Kalimantan Timur. Malam sebelumnya, saya sengaja mengkhusukkan diri dalam kontemplasi yang mulai jarang bisa saya lakukan setahun-dua terakhir ini.

Saya sengaja mengambil waktu kontemplasi bertepatan dengan malam ketiga meninggalnya Presiden ke-2 Republik Indonesia, Almarhum Jenderal Besar Purnawirawan Haji Muhammad Soeharto, demikian nama lengkapnya kini. Dalam kontemplasi, selain saya tetap mendoakan kesejahteraan dan kesentosaan Pak Harto di alam barunya, saya juga beroleh banyak hal yang selama ini absurd di pandangan saya. Tapi catatan berikut ini, sebagian besar tidak ada kaitannya dengan kontemplasi tersebut.

Hampir seluruh media massa gegap gempita meliput habis-habisan peristiwa yang berkaitan dengan Pak Harto, mengenai kasus-kasus yang disangkutkan kepada almarhum, terutama tatkala beliau sakit hingga wafatnya. Tapi jika diperhatikan, alangkah menyedihkan bahasa yang menyertai sebagian besar pemberitaan itu, bahkan ketika perusahaan-perusahaan atau lembaga-lembaga terkemuka memasang iklan duka cita.

Berbeda dengan Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. Sukarno, Pak Harto lebih merasa enjoy dengan penulisan namanya dengan ejaan Soewandi, yaitu Soeharto. Bung Karno pada masa-masa terakhirnya, mempublikasi semua tulisannya dengan menggunakan ejaan Malindo, Sukarno, meski dua tahun terakhir pemerintahannya ia melancarkan Ganyang Malaysia.

Pak Harto adalah Presiden ke-2 Republik Indonesia, dan bukan Presiden Republik Indonesia ke-2. Karena Republik Indonesia masih tetap satu sampai saat ini.

Pak Harto juga bukan mantan Presiden ke-2 Republik Indonesia apalagi mantan Presiden Republik Indonesia ke-2. Karena setelah Pak Harto, tidak ada presiden ke-2 Republik Indonesia yang lebih baru, apalagi yang menggantikan Pak Harto sebagai presiden Republik Indonesia ke-2.

Pak Harto bukanlah RI-2, meskipun memang benar beliau adalah mantan Presiden Republik Indonesia, karena setelah beliau lengser keprabon, berturut-turut muncul presiden-presiden yang lebih baru yang menggantikan beliau dalam singgasana sebagai RI-1, yaitu: Prof. Dr. Eng. BJ. Habibie, KH. Abdurrachman Wahid, Hj. Megawati Soekarnoputri (penulisan Soekarnoputri pada Megawati berbeda dengan penulisan pada Guruh Sukarno Putra, padahal mereka berasal dari Ayahbunda yang sama, itulah uniknya Indonesia) dan Dr. H. Soesilo Bambang Yudhoyono (yang tidak pernah bersedia mencantumkan dirinya sebagai Jenderal Purnawirawan).

Sedangkan RI-2 lazimnya adalah sebutan bagi seseorang yang menjabat sebagai wakil presiden. Pak Harto sebagai RI-1 pernah memiliki RI-2 berturut-turut sebagai berikut: Sri Sultan Hamengkubuwono IX (1973), Adam Malik (1978), Umar Wirahadikusumah (1983), Sudharmono (1988), Try Sutrisno (1993), dan BJ. Habibie (1998). Sementara hingga saat ini baru ada dua RI-2 yang kemudian menjadi RI-1, yaitu BJ. Habibie dan Megawati Soekarnoputri.

Catatan sederhana di atas, adalah sebagian usaha saya untuk mengingatkan kepada kita semua, betapa untuk hal yang sepele dan sederhana, yang ada kaitannya dengan bahasa resmi kenegaraan yang kita pergunakan sehari-hari saja kita sering keliru, apalagi jika kita harus menyelami segala sifat, watak dan karakter manusia. Juga bagaimana kita jadi suka begitu sok tahu untuk menjadi hakim terhadap peristiwa-peristiwa yang sama sekali tidak kita alami secara langsung.

Kadang kita begitu mudah terprovokasi, bahkan ada kecenderungan kita suka menjadikan diri kita sebagai provokator, padahal esensi persoalan kadang tidak kita mengerti sama sekali.

Salah satu contoh yang paling aktual adalah tuduhan terhadap Pak Harto dari korban penembakan Trisakti. Secara politis, penembakan terhadap mahasiswa yang kemudian mengobarkan kemarahan massa secara kolosal itu merugikan Pak Harto, bagaimana mungkin jika Pak Harto dituduh bertanggungjawab terhadap penembakan tersebut. Peristiwa tuduhan itu sama saja dengan yang dialami oleh Bung Karno, sangat tidak logis jika Bung Karno dinyatakan sebagai dalang atau pihak yang mengetahui sebuah gerakan kudeta yang bermaksud menggulingkan pemerintahan dan kekuasaannya pada tahun 1965.

Ada kesamaan akhir kekuasaan Pak Harto dengan Bung Karno, dan inilah yang membuat kemudian saya menghargai keduanya.

Bung Karno dengan 'legowo' menyerahkan kekuasaannya kepada Pak Harto di saat ia merasa bahwa sudah tidak ada lagi waktu baginya untuk mempertahankan kekuasaan, padahal ia bisa saja bersikeras dengan kekuatan militer yang sebagian dari tiga angkatan masih memihaknya. Pak Harto juga demikian, ia sangat mungkin mengerahkan kekuatan militer yang sebagian besar ia besarkan dan masih sangat loyal padanya. Tapi kedua mantan presiden tersebut justru menukjukkan kenegarawanan mereka untuk memilih mandeg pandhito dengan tidak melakukan perlawanan berdarah.

Ada satu lagi kemiripan yang saya catat. Saat melantik Pak Harto sebagai Penjabat Presiden pada 12 Maret 1967 di hadapan MPRS, Bung Karno melakukan dengan tegar, penuh wibawa dan diakhiri dengan menjabat tangan penggantinya itu dengan senyum dan mengganggukkan kepala, pertanda bahwa Bung Karno mulai detik itu sudah menjadi rakyat biasa yang memberikan hormat kepada presidennya.

Pada 21 Mei 1998, di Istana Negara, Pak Harto pun menyampaikan pidato pengunduran dirinya dengan tegar untuk kemudian menyerahkan kepemimpinannya kepada BJ Habibie. Sebelum beliau meninggalkan Istana untuk menuju ke kediaman pribadinya di Cendana bersama Siti Hadianti Rumana dan Saadilah Moersyid, Pak Harto juga menyalami Habibie dengan senyum khasnya dan kemudian menganggukkan kepala sebagai tanda penghormatan dari seorang rakyat biasa kepada presidennya.

Dalam kehidupan manusia, selalu terdapat dua sisi yang saling bertolakbelakang namun senantiasa menyertai. Ada sisi positif, dan ada sisi negatif. Seluruh pemimpin di muka bumi juga seperti itu. Bahkan pemimpin spritual semacam Paus bagi umat Katolik di dalam lingkaran yang begitu sakral seperti Vatikan juga tidak urung dipenuhi dengan kontroversial.

JF Keneddy, presiden muda AS yang cuma tiga setengah tahun menjabat, kecerdasan dan popularitasnya tidak pernah sanggup menghindarkan dirinya dari gunjang-ganjing kehidupan pribadinya baik dengan istrinya Jacqueline yang kelak menikah dengan Onassis ataupun gossip kedekatannya dengan dan yang menyertai kematian Marylin Monroe. Semangatnya untuk mengembangkan pengetahuan antariksa ketika itu juga kemudian diragukan apakah gambar Neil Amstrong menjejakkan kaki di bulan adalah foto asli atau cuma montage.

Habibie, si jenius kecil didikan Pak Harto, pun tak luput dari kontroversi. Waktu yang cuma setahun kedudukannya sebagai RI-1 dicederai dengan lepasnya Timor Timur menjadi negara Timor Leste. Orang pun meragukan kepintaran Habibie dengan keputusan yang dianggap sangat tidak smart itu. Apalagi tatkala orang mengaitkan dengan pesawat-pesawat buatan IPTN yang cuma dibarter dengan ketan dan kedelai oleh negara lain.

Kontroversi tentang Bung Karno, ditulis lebih dari seratus buku, mulai dari yang dicetak dengan art-paper dan hard-cover sampai yang dijual dengan pola stensilan dan fotokopian. Mulai dari kisah Bu Inggit hingga pidato pamungkas yang bertitel Nawaksara. Saya sendiri memiliki lebih dari 50 buku yang ditulis oleh dan tentang Bung Karno.

Nah, apalagi tentang Pak Harto. Cerita tentang beliau belum tentu akan berakhir sepanjang dasa warsa ini. Hal tersebut akan sangat bergantung dengan perkembangan politik di negeri kita. Kontroversi semacam itu pasti akan terus berlanjut, baik oleh orang yang mengenalnya atau oleh orang-orang yang merasa, mengaku-aku mengenalnya. Oleh mereka yang memang mengetahui persoalan dan kejadian yang berlangsung, atau oleh mereka-mereka yang merasa tahu, berlagak tahu, sok tahu. Oleh mereka yang pernah dibesarkan oleh Pak Harto atau yang membesarkan diri dengan membonceng nama Pak Harto. Oleh orang yang memuja atau pun mereka yang mencacinya.

Sekali lagi, sejarah bukanlah apa yang telah terjadi. Sejarah lebih cenderung kepada apa yang sudah terlanjur tertulis, atau yang sengaja ditulis.

Banyak hal yang terjadi di republik ini, berlangsung sesuai dengan skenario yang sudah dirancang. Meski kadang, skenario itu terasa kasar dan sangat memuakkan. Seperti contoh, skenario yang dipaksakan untuk disutradarai oleh seorang sineas besar sekaliber Almarhum Arifin C. Noor, Pemberantasan (atau Pemberontakan?) G30S/PKI. Masak ada tentara yang bergerak pagi-pagi ke rumah Pangad (istilah ketika itu: Panglima Angkatan Darat) yang tidak mengenali wajah populis komandannya sendiri, AH. Nasution, sehingga harus salah menangkap Kapten (anumerta) Pierre Tendean?

Ah..., kontroversi tentang hal yang baik dan kenangan tentang keburukan memang adalah sebuah drama dunia. Tengoklah bagaimana orang-orang di Desa Kemusuk mengenang tempat lahir dan masa kecil Pak Harto. Bandingkan dengan masyarakat di Desa Kemusu yang seluruh desanya berubah menjadi Waduk Kedung Ombo. Apakah kita juga akan menjeratkan diri dalam kebiasaan yang sudah laten bangsa ini. Kedua desa yang berjarak tidak lebih dari seratus kilometer, yang lafalnya nyaris serupa, yang penulisannya hanya dibedakan dengan sebuah huruf 'k', tetapi memiliki pandangan dan kenangan yang sangat bertolak belakang terhadap satu sosok yang sama, HM. Soeharto.

Jika kita ingin membangun bangsa ini lebih dari yang ada sekarang ke depan, mulailah menatap tantangan-tantangan dengan lantang yang terhampar di hadapan, bukan sekadar mahir mengorek apa yang sudah terlanjur menjadi borok di belakang.

Anak bangsa yang akan membawa bangsa ini maju, bukanlah kanak-kanak yang hanya bisa memperolok pemimpinnya, menghujat kesana-kemari, mempersalahkan sejarah. Anak bangsa harapan Ibu Pertiwi, adalah mereka yang berjiwa besar, ksatria, yang tahu benar bagaimana membesarkan negeri ini, menjunjung tinggi martabat bangsa dengan tetap memperlihatkan pada dunia, bahwa negeri ini penuh dengan putra-putra bangsa yang terbaik, yang memahami kebesaran pendahulunya, yang menyimak kesalahan mereka untuk diperbaiki dengan cerdas dan bijak. Meminjam sedikit istilah Pak Harto, Mikul Dhuwur Mendham Jero.

Karena sesungguhnya, orang-orang besar bukanlah orang-orang yang merasa dirinya besar, tapi adalah orang-orang yang bisa membesarkan orang lain. ANDRETHERIQA 310108


CATATAN : PERLUAS JELAJAHMU TENTANG KEMUSUK, KEMUSU DAN PIDATO TERAKHIR HM. SOEHARTO DISINI.


28.1.08

Condeleren: HM. Soeharto


SEJARAH BUKANLAH APA YANG TELAH TERJADI
SEJARAH ADALAH APA YANG TELAH DITULISKAN


Ahad ini alam terlampau tenang
tidak ada pertanda yang mengguncang
tanpa gejala yang membuat tercengang

Tiada pohon beringin di alun-alun dan pekarangan yang tumbang
tiada riak besar pasang gelombang
tiada pekat gemulung gemawan
tiada hentakan liar lahar menyeruak kepundan
bahkan semilir angin pun hanya mengalun perlahan

adakah tanda-tanda itu pun telah enggan memberi kabar
ketika kita tak lagi antusias memahami makna yang terkibar

pukul satu lewat sembilan menit empat puluh delapan detik
saat sebuah detak nadi berhenti menggelitik

siang itu maha berita bersebar
menjawab gundah lara yang tidak lagi mampu tuk bersabar
meski tanpa ingar bingar

Selamat jalan duhai sang Bapak
tempuhi langkahmu dalam hening tanpa tepuk tiada sorak
dipayungi berlaksa doa takjim berserak
diiringi debat kusir yang terus memuncak

bersalahkah
berjasakah
adakah engkau pahlawan
bukankah engkau pecundang
diampunkan
dihujatkan

pukul duabelas lewat sebelas menit empat puluh delapan detik
saat jasadmu menuruni bumi di tengah terik
(bukankah pesanmu ingin dikebumikan sebelum dzuhur?)
di sana, di astana giribangun kini engkau bersemayam tenang
ditemani jasad isteri tercinta yang sudah mendahuluimu duabelas tahun berselang
di lereng lawu di karang anyar
bahtera itu telah siap berlayar
dan kalaupun engkau masih gemar memancing
ada didekatmu gajah mungkur sebelum kering

di sana ribuan pelayat telah berdatangan
di sana ribuan rakyat kecil akan memetik harapan

di sini jutaan mulut masih bersuara
di sini jutaan wacana coba mencari makna
di sini jutaan diri melekatkan nama

bersalahkah
berjasakah
pahlawankah
pecundangkah

maafkanlah...

ANDRETHERIQA 280108

OBITUARI PRESIDEN KE-2 RI ALMARHUM HM. SOEHARTO BACA DISINI

26.1.08

Hasil Final Pilkada Kabupaten Tangerang


Pagi hingga siang hari ini, Komisi Pemilihan Umum Daerah Kabupaten Tangerang, menggelar rapat pleno penghitungan suara atas hasil Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Tangerang yang sudah dilaksanakan pada 20 Januari 2008 lalu.

Menggunakan Gedung Serba Guna, Kompleks Pusat Pemerintahan Kabupaten Tangerang di Tigaraksa, pleno yang dipimpin oleh Jamaludin, S.Ag, Ketua KPUD Kabupaten Tangerang tersebut berjalan relatif kondusif. Hanya beberapa interupsi dari pihak PKS yang menghambat kelancaran rapat tersebut.

Kelompok massa dari tim sukses pasangan yang kalah dalam perhitungan quick-count yang disinyalir hendak mengacaukan pleno KPUD dan merusak luapan kegembiraan tim yang menang, nyatanya tidak melakukan gerakan-gerakan yang tidak dikehendaki. Antisipasi aparat yang sudah dilakukan semenjak satu dua hari ini, terbukti efektif mencegah terjadinya anarkisme.

Di lain pihak, pernyataan legowo dan bisa menerima hasil Pilkada yang dilontarkan oleh Usamah, Habib Ali Alwi dan Airin Rachmi Diani, juga sedikit banyak turut mendinginkan suasana.

Akhirnya, pleno KPUD ditutup dengan hasil final penghitungan suara sebagai berikut:
Pasangan Ismet-Rano memperoleh 826.534 suara
Pasangan Usamah-Habib dengan 66.215 suara, dan
Pasangan Jazuli-Airin sejumlah 575.485 suara
serta sebanyak 34.814 suara yang dinyatakan tidak sah.

Sayangnya, di akhir episode yang telah berlangsung dengan baik, lancar, tertib dan sentosa itu masih tetap diwarnai dengan gaya kelompok kontestan no. 3 yang tidak bersedia menandatangani hasil pleno KPUD Kabupaten Tangerang itu.

Sekali lagi, selamat berjuang kepada H. Ismet Iskandar dan H. Rano Karno. Jawablah segala keraguan pihak yang sumbang, tatkala masa kampanye itu dengan hasil yang nyata. Balaslah cinta yang ditunjukkan oleh rakyat itu, dengan cinta pula. Semoga segalanya kelak akan berjalan dengan sentosa, sesuai dengan harapan kita semua. THERIQA 260108