29.11.08

Politisi Tanpa Empati

Keputusan memajukan jadwal masuk sekolah di DKI ke pukul 06.30 mulai 1 Januari 2009 sebaiknya dikonsultasikan dengan orangtua murid, guru, dan Departemen Pendidikan Nasional. Sayang, hanya Pemerintah Provinsi DKI yang merasa punya kompetensi.

Saya selalu menganggap orang/lembaga yang merasa paling berkompeten sesungguhnya tak punya kompetensi. Mereka lebih suka mencampuri urusan orang lain, tetapi alpa mengerjakan urusan sendiri.

Tak elok menuding pelajar yang diantar kendaraan ke sekolah sebagai sumber kemacetan. Saya jadi ingat pernyataan gubernur lama DKI yang menuduh ”fenomena alam” penyebab banjir besar di Jakarta dua tahun lalu.

Kemacetan melanda kota-kota ekonomi padat, seperti London, Paris, New York, Tokyo, Beijing, dan Bangkok. Lalu lintas di Jakarta bukan lagi macet, tetapi sudah semrawut.

Siapa pun tahu kemacetan pasti datang kapan saja, bisa diurai lewat aturan yang dipatuhi, dan akhirnya membuat lalu lintas normal kembali.

Kesemrawutan? Tak seorang pun yang tahu penyebabnya karena sifatnya misterius, mustahil diurai dari pagi sampai malam, dan memaksa tiap pengendara enggan bersikap pasrah.

Itu sebabnya warga DKI suka gontok-gontokan di tengah jalan. Itu sebabnya kerugian rupiah per tahun akibat kemacetan di Ibu Kota mencapai jumlah triliunan.

Ada 1.001 alasan yang menyebabkan terjadinya kemacetan, mulai dari kurangnya panjang jalan sampai terlalu banyaknya jumlah kendaraan. Namun, penyebab kesemrawutan cuma satu, yakni insanity.

Albert Einstein, ilmuwan penemu teori relativitas, punya teori tentang insanity. Ia bilang insanity adalah kebiasaan orang melakukan hal yang sama secara berulang dan mengharapkan hasil yang berbeda.

Nyaris semua pengendara di Jakarta melanggar aturan tiap detik, menit, jam, hari, pekan, dan bulan. Tak ada lagi warga Jakarta yang merasa heran.

Motor naik ke trotoar, angkot dan metromini ngetém sembarangan. Sedan-sedan mewah buang sampah di jalanan dan truk-truk di tol merangkak kayak keong di lajur paling kanan.

Setelah menyerempet sedan mewah, pengendara motor langsung tancap gas bagai orang kesetanan. Jangan lupa, si pemilik sedan mewah yang gemar buang sampah di jalanan mengeluh selokan mampat sehingga rumahnya kebanjiran.

Coba Anda sekali-kali ngetém di depan angkot atau metromini, saya jamin sopir-sopirnya naik darah dan menuduh Anda enggak ngerti aturan. Sopir-sopir truk yang jalan di lajur paling kanan tol getol mengeluh tentang kemacetan.

Nah, itulah kesemrawutan. Dan, kini pelajar yang diantar kendaraan tiap pagi tiba-tiba berubah ujud jadi kambing hitam biang kemacetan.

Sungguh ironis derajat sekolah—institusi mulia yang menyiapkan pemimpin masa depan— telah diturunkan. Lebih ironis lagi, kekuasaan berasumsi urusan terpenting di Ibu Kota melulu masalah kemacetan.

Padahal, jalanan di depan rumah saya pasti kembali kebanjiran. Ancaman tsunami krismon global sudah bertiup ke Jakarta dalam bentuk PHK yang jumlahnya tahun depan bisa mencapai ribuan.

Menurut saya, penerapan kebijakan publik yang keliru macam ini merupakan cermin sifat kepemimpinan yang kurang memiliki rasa empati. Rata-rata politisi yang telanjur dipilih tak punya electability alias kurang layak dipilih.

Kini gejala kekuranglayakan itu sudah tampak lagi. Mereka percaya pada pengaruh iklan politik karena sesungguhnya kurang percaya diri.

Iklan politik bertujuan sebagai alat promosi sebagai bukti berbuat sesuai dengan janji-janji. Namun, yang terjadi iklan- iklan itu merayu rakyat agar melupakan masa lalu sambil menawarkan... janji-janji lagi.

Mungkin karena janji sudah bertumpuk-tumpuk, mereka lupa sendiri. Tiap kali rakyat menagih, mereka bingung sendiri.

Itu sebabnya kemacetan disalahkan pada jadwal sekolah yang kurang pagi. Tak heran iklan yang dipertengkarkan dua capres hanya soal persentase orang miskin—bukan substansi kemiskinan.

Saya suka iklan politik Prabowo Subianto yang mengajak masyarakat memerhatikan potensi pasar tradisional dan petani. Berbeda dengan iklan-iklan lain yang kok memuji diri sendiri.

Aneh ada politisi tanpa empati yang mengaku berjasa memberlakukan kebebasan pers atau berhasil memberantas korupsi. Padahal, itu tuntutan perjuangan mahasiswa saat reformasi.

Tak sedikit politisi tanpa empati ramai-ramai ”menyerbu” situs jaringan sosial Facebook belakangan ini. Namun, jangan coba menyapa sebagian dari mereka karena Anda takkan diladeni.

Politisi tanpa empati ibarat ndoro yang sedari dulu terbiasa diladeni. Mereka selalu jadi pusat perhatian karena anak pembesar Anu, mantan pejabat Orde Baru yang ditakuti, atau bekas komedian/bintang sinetron top di televisi.

Politisi tanpa empati bak anak balita kurang perhatian yang kurang pandai menyesuaikan diri dengan lingkungan. Jangan heran sebagian dari capres tak bertegur sapa seperti tetangga yang bermusuhan.

Juga tak heran di antara mereka kerap terjadi pengkhianatan. Kali ini mereka sekubu, kali lain mereka saling tikam demi persaingan.Dalam psikologi politisi tanpa empati menderita adult attention-deficit disorder alias dewasa berperilaku menyimpang karena ”kuper” (kurang perhatian). Namun, bukankah reformasi memang sudah menyimpang? BUDIARTO SHAMBAZY 291108

21.11.08

Nyamuk Nekat


Akhir pekan kemarin, di tengah ingar-bingar pembakaran bedeng proyek PLTU di Kecamatan Kemeri, dua pembesar Kabupaten Tangerang justru terkapar akibat gigitan nyamuk.


Bupati H. Ismet Iskandar dan Wakil Bupati H. Rano Karno, terindikasi serangan Demam Berdarah. Sehingga Pak Ismet terpaksa harus diopname di RS. Omni International di Alam Sutra, dan Bang Rano nginap di RS. Puri Cinere.

Alhamdulillah, berkat penanganan tim dokter yang baik, kedua pemimpin yang sangat dekat dengan masyarakat tersebut telah pulih dan boleh meninggalkan rumah sakit selalu lalu. Ok, Boss, tetap semangat dan jangan lupa jaga kesehatan. Nyamuk Tangerang emang lebih nekad ketimbang premannya. BATMAN 191108

15.11.08

Selamatkan Anak-Anak Kita !!!


Sengaja tanda seru ditaruh di akhir judul. Maksudnya sebuah pernyataan, semacam pistis for- mul bernada imperatif. Anak- anak kita dalam kondisi gawat.

Kita tersentak, berita setiap tahun setidaknya 150.000 anak Indonesia jadi korban pelacuran anak dan pornografi. Jumlah ini meningkat dua kali lipat dibanding data Unicef tahun 1998 yang berjumlah 70.000 anak. Mereka berusia 14-16 tahun, setingkat anak usia SMP.

Kita geram sekaligus terenyuh. Geram sebab ahli waris bangsa ini berada dalam incaran mata penjahat. Terenyuh sebab kita lalai memberikan perhatian.

Usia 14-16 tahun menurut para psikolog dan pedagog adalah usia rawan. Serba tanggung. Disebut anak sudah lulus SD, disebut dewasa belum 17 tahun. Mereka belum bisa bertanggung jawab secara hukum. Sebaliknya secara fisik mereka sudah dewasa. Mereka gampang terpengaruh dan gampang menjadi obyek kejahatan.

Kondisi serba tanggung membuat serba sulit. Bacaan, alat mainan, dan analisis psikologis untuk anak usia SD dan SMA relatif lebih banyak dibanding untuk anak usia SMP. Apalagi untuk anak balita, bahkan anak sebelum lahir. Psikologi anak usia SMP relatif lebih sulit diraba dibanding anak usia SD dan SMA.

Analisis psikologis tentang mereka amat gampang berubah. Bagi para psikolog, usia Stum und Drang yang rentan membuat sulit memberikan pattern. Perhatian psikolog dan pedagog pun diberikan pada usia balita, bahkan terkesan kelewat banyak, sementara psikologi anak usia 14-16 tahun kurang memperoleh perhatian.

Kondisi serba tanggung membuat mereka gampang dijadikan tenaga kerja dengan upah murah, dan berbagai bentuk kejahatan lain. Data di Jakarta terdapat tidak kurang dari 10.000 pelacur anak dan di Medan 2.000 anak, menambah gawatnya kondisi anak-anak kita.

Kejahatan terhadap anak seharusnya diberi perhatian lebih serius, tidak saja dari sisi kejahatan an sich, tetapi terutama karena me-muntes generasi penerus sebuah bangsa. Secara sosial psikologis, bobot kejahatan mereka tidak kalah jauh dari bobot kejahatan psikotropika.

Dengan alasan itu, terutama demi generasi masa depan Indonesia, kita ingin sampaikan beberapa saran. Sikap bela rasa perlu ditindaklanjuti langkah-langkah konkret. Terhadap kasus-kasus kejahatan anak, tegakkan hukum dengan tegas. Korban kejahatan mereka berurusan dengan masa depan bangsa.

Kita berikan apresiasi dan dukungan pada Komnas HAM Anak. Lembaga ini tidak punya daya gigit kalau masyarakat sendiri acuh terhadap kejahatan yang mengancam anak. Sebaliknya terhadap pelaku kejahatan yang masih berusia anak, dalam sikap dan penanganan sebaiknya dalam lingkup pendidikan.

Ajakan imperatif ”selamatkan anak bangsa” tidak sekadar retoris, tetapi sebuah keniscayaan kalau kita ingin negeri dan bangsa Indonesia tidak hancur berkeping-keping seiring rasa keterpurukan akhir-akhir ini. TAJUK RENCANA KOMPAS 151108

Mau Jantan Malah Jadi Loyo



Obat penambah kejantanan merek Blue Moon dan 21 merek lainnya ditarik oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) karena mengandung bahan kimia berbahaya bagi manusia. Salah satu efek samping bahan kimia tersebut justru melemahkan kejantanan.

Pengumuman penarikan 22 merek obat kuat pria tersebut disampaikan Kepala BPOM, Husniah Rubiana Thamrin Akib, Jumat (14/11) siang. Ke-22 merek tersebut terdiri atas obat impor maupun lokal, jamu, dan suplemen.

Penarikan 22 merek obat kuat tersebut dilakukan setelah BPOM menerima hasil pengujian laboratorium dan laporan masyarakat. "Uji laboratorium dilakukan sejak Januari 2008 hingga hari ini," kata Husniah di kantor BPOM di Jalan Percetakan Negara, Jakarta Pusat.

Hasil uji laboratorium tersebut menunjukkan, ke-22 obat kuat tersebut mengandung bahan kimia berbahaya bagi manusia. Sebagian merek mengandung Slidenafil sitrat sedangkan sisanya mengandung Tadalafil bahkan mengandung kedua bahan kimia itu sekaligus.

Menurut Husniah, bahaya Sildenafil sitrat bagi manusia adalah dapat menyebabkan sakit kepala, mual, gangguan penglihatan, radang hidung, nyeri dada, palpitasi (denyut jantung menjadi lebih cepat), maupun kematian.

Sedangkan Tadalafil dapat menyebabkan nyeri otot, pusing, mual, diare, muka memerah, hidung tersumbat, dan potensi seks hilang secara permanen. Tadalafil bersifat melebarkan pembuluh darah yang menyebabkan penurunan tekanan darah maupun pasokan ke darah.

"Dua zat kimia ini seharusnya dikonsumsi atas petunjuk atau resep dokter," kata Husniah. Dia menambahkan, "Kandungan kimia itu bisa menyebabkan kematian jika dikonsumsi dalam porsi yang banyak." Oleh karena itu, warga masyarakat harus berhati-hati ketika mengonsumi obat kuat tradisional maupun suplemen.

Husniah juga mengatakan, kasus kematian akibat mengonsumsi obat penambah stamina pria jarang terungkap karena kasus-kasus tersebut biasanya tidak dilaporkan dan pihak keluarga keberatan bila korban diotopsi.

"Kadang kita heran, ada pria usia 30-an meninggal mendadak. Orang mengira kematian itu karena serangan jantung. Padahal, pasti ada pemicunya. Lalu, pemicunya itu apa? Ini yang jarang diungkap," katanya. Dalam beberapa kasus, pemicu serangan jantung tersebut adalah pemakaian obat penambah stamina.

Merek-merek obat kuat yang ditarik BPOM di antaranya adalah Blue Moon (produksi PT Pasific Healthcare Indonesia), Caligula Kapsul (produksi Pabrik Jamu Air Madu), dan Sunny Zang Wang Xiong Ying Dan Pil (produksi Tibet Yuthog Healthy Product Co Ltd). "Merek-merek tersebut terdiri atas obat impor, obat kuat lokal, suplemen impor, dan suplemen lokal," kata Husniah.

Husniah menambahkan, para produsen maupun importir obat dan suplemen tersebut akan dipanggil dan BPOM akan melaporkan kasus ini ke polisi. Para produsen maupun importir tersebut dapat dijerat dengan UU No 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan maupun UU No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Daftar Obat Kuat Pria yang Ditarik

1. Blue Moon - PT Pasific Helathcare Indonesia, Jakarta
2. Tripoten - PT Dexa Medica, Palembang
3. Caligula - Pabrik Jamu Air Madu, Magelang
4. Cobra X - Pabrik Jamu PI Ragil Sentosa, Cilacap
5. Kuat Tahan Lama - PD Jamu Moro Sehat, Banjarnegara
6. Lak Gao 69 - Pabrik Jamu Jaya Sakti Mandiri, Semarang
7. Lavaria - PT Rama Farma,
8. Maca Gold - PT Paramitra Media Perkasa, Jakarta
9. Okura - PT Herbalindo Sukses Makmur, Tangerang
10. Otot Madu, PT Rama Farma, Jakarta
11. Rama Stamina - PT Rama Farma, Jakarta
12. Sanomale - PT Pyridam Farma, Cianjur
13. Sari Madu - Pabrik Jamu Sari Madu Murni
14. Sunni Jang Wang Xeong Ying (kapsul) - PT Cahaya Pil Teknologi Farmasi, Jakarta
15. Teraza - Produksi PT Rama Farma, Jakarta
16. Top One - Pabrik Jamu Paladiva, Solo
17. Urat Perkasa - Pabrik Jamu SM Jaya, Cilacap
18. Ju-mex - CV Mega Maju Mekar, Jakarta

Obat/jamu
19. Hwang Di Shen Dan - PT Multi Usaha Sentosa
20. Manovel - PT Sari Sehat Q Capung Indah Abadi, Magelan.
21. Stanson - PT Rajawali Sukses, Jakarta.
22. Sunni Jang Wang Xeong Ying Dan (pil) - PT Cahaya Pil Teknologi Farmasi, Jakarta

Sumber: BPOM 161108

8.11.08

Minal Aidin Wal Faidzin

Alhamdulillah, akhirnya setelah sekian lama, kita bisa melaksanakan Sholat Ied bersama-sama pada hari yang sama. Memang sih, ada beberapa kelompok kecil yang dengan persepsi mereka yang tetap beranggapan 1 Syawal tidak bertepatan dengan 1 Oktober...

Tahun ini saya menerima banyak sekali kiriman kartu, email dan sms ucapan, sekalin yang bertatapmuka langsung. Untuk itu semua saya menyampaikan terimakasih. Ternyata jarak yang memisahkan raga, tak jua sanggup memisah kedekatan jiwa kita.

Beberapa ucapan dari yang jumlahnya ribuan, yang disampaikan via kontak ini saya hadirkan kepada Anda semua, siapa tahu ucapan-ucapan yang kreatif itu bisa menginspirasi kita untuk event-event yang akan datang.

Minal Aidin wal Faidzin. Maaf lahir dan Bathin. Semoga kian hari, Allah kian sayang sama kita.

ANDRETHERIQA 1 SYAWAL 1429

6.9.08

Hormatilah Orang Yang (Tidak) Berpuasa

Sungguh waktu yang terbatas yang membuatku semakin jarang bisa menulis di sini. Dan waktu pulalah yang menyadarkan aku betapa lekasnya ia datang dan pergi. Tanpa tersadari, setahun lagi sudah terlampaui.

Tahun ini, ada yang unik. Ramadhan datang saat almanak masehi dan hijriah kompak bermula pada saat yang sama. Jadinya, agak gampang saat ini kita berhitung sudah berapa masa puasa kita berbilang hari, berapa saat lagi akan menjelang fitri. 1 Ramadhan 1429 memang bertepatan dengan 1 September 2008. Mudah-mudahan kesamaan ini juga menghinggapi saat penentuan 1 Syawal 1429, dengan berbagai metode hisab dan rukyat yang dianut berbagai kalangan.

Saat aku sahur pada rabu kemarin, aku menangkap sesuatu yang mengiriskan dalam sebuah reportase di televisi. Tampak di situ, di wilayah provinsi Banten ini, sekelompok petugas Satpol PP sedang menghancurkan sekaligus mengangkuti dagangan kuliner yang kepergok mereka sedang berdagang di bulan puasa ini.

Selang sesaat, di provinsi lain, sekelompok Satpol PP yang lain sedang merazia beberapa penduduk yang sedang menikmati makan siang mereka.

Ada apa dengan semua ini? Ada apa dengan negeri kita? Adakah sudah sedemikian jumawanya kita, untuk menerapkan bahwa tatkala kita berpuasa maka seluruh umat manusia juga harus sama berpuasanya dengan kita? Mengapa kita menjadi begitu gila hormat, justru pada saat yang sama kita telah kehilangan kemampuan untuk menghormati makhluk lain?

Masih terngiang di ingatanku, saat HandaiTaulan SemburatJingga masih rajin-rajinnya menyelenggarakan pengajian dan pengkajian sebulan suntuk sepanjang Ramadhan untuk memaknai bulan yang istimewa ini.

Saat itu, kami sepakat bahwasanya Ramadhan sudah semestinya dipandang dengan perspektif yang berbeda. Ia bukan lagi harus dimaknai sebagai bulan penuh ujian. Ramadhan justru adalah bulan penuh bonus.

Betapa tidak, di bulan ini segala iblis dan sekutu laknatnya divoorbodeen untuk lenggangkangkung di kehidupan manusia. Segala amal dan ibadah dilipatgandakan pahalanya. Bahkan jikalau kita beroleh jackpot pada malam lailatul-qodar, maka apa yang kita lakukan akan sama pahalanya dengan apa kita lakukan sepanjang seribu bulan. Bukankah itu luarbiasa?

Justru sebelas bulan yang lain itulah yang sebenarnya ujian buat kita.

Hakekat puasa Ramadhan sendiri, tentu saja sudah banyak dikupas dengan gaya masing-masing di berbagai kesempatan. Aku selalu heran, jika di interaktif berbagai acara Ramadhan di semua televisi swasta, pertanyaan dan problem puasa Ramadhan yang mengemuka masih yang itu-itu saja, masih seputar perkara yang sama dengan semenjak televisi swasta mengudara dari 18 tahun yang lampau. Begitu pandirkah ummat kita, begitu pelupakah ?

Apakah saking pandir dan pelupanya kita sampai tidak ingat bahwa bangsa kita adalah bangsa yang majemuk, yang Bhinneka Tunggal Ika. Negeri kita bukan sektarian melainkan pluralistik. Kita tidak pernah mengaku sebagai bangsa radikal melainkan moderat. Jadi bukan hanya ekspatriat yang ada di sini saja yang mungkin bukan muslim, tetapi anak bangsa ini juga tidak melulu muslim.

Apalagi, bukan cuma non muslim saja yang tidak berpuasa tatkala Ramadhan, kita yang muslim pun dengan kondisi dan keadaan tertentu tidaklah diwajibkan berpuasa. Sedang datang bulan, sakit, belum akil-baliqh, adalah beberapa pengecualian tersebut.

Lantas apa yang telah mengakibatkan sejumlah petugas kita menjadi begitu over-acting, sok radikal, sok fanatik alih-alih melarang kelompok tertentu melakukan tindakan tersebut, justru petugas negara sendiri yang melakukannya.

Maka, saya pun kembali terngiang dengan usul salah satu adikku di SemburatJingga, barangkali sudah waktunya kita memasang spanduk dalam menyambut Ramadhan ini dengan bunyi yang berbeda, " Marhaban Yaa Ramadhan, Hormatilah Orang Yang Tidak Berpuasa !" ANDRETHERIQA 060908

Era Bandit Berkeliaran



Sebanyak 52 anggota DPR terlibat suap. Begitu berita di Kompas delapan hari lalu. Banyak orang mengatakan mungkin lebih banyak lagi. Mungkin semuanya. Masyarakat yang tak lagi percaya kepada anggota DPR dan mengusulkan agar DPR dibubarkan.

Ketika 10 tahun lalu penguasa tunggal dijatuhkan, orang berharap kejadian korupsi sejenis yang dilakukan Soeharto tak akan lagi terjadi karena rakyat akan mengawasinya. Ternyata si pengawas sendiri terlibat korupsi.

Bagaimana ini bisa terjadi? Bukankah setelah kita menjalankan reformasi yang ditegakkan atas dua pilar, demokrasi dan pasar bebas, reformasi mestinya berjalan mulus?

Keganjilan ini dapat diterangkan secara sederhana dengan mengikuti karya Mancur Olson, Power and Prosperity (2000). Olson juga bertanya tentang reformasi, tetapi reformasi di Rusia: mengapa setelah rezim represif runtuh, bukan kesejahteraan yang muncul, melainkan kelompok jaharu? The lifting of the iron curtain revealed something else that the developed nations of the West, whether they had been winners or losers in World War II, did not expect to see: an extraordinary amount of official corruption and Mafia-style crime? Sama seperti kita di Indonesia, reformasi di Rusia juga dijalankan dengan memakai program demokratisasi dan pasar bebas.

Dua macam bandit

Olson menerangkan keanehan ini dengan model bandit menetap (stationary bandits) dan bandit berkeliaran (roving bandits). Pada masa rezim represif, seorang bandit berkuasa, tetapi dia bandit menetap. Artinya, dia tak akan menguras habis wilayahnya. Ia bahkan akan menjaga wilayahnya, memberi keleluasaan kepada penduduknya untuk terus maju. Dengan cara itu, ia akan terus dapat menarik berbagai pungutan yang merupakan sandaran hidupnya. Setelah rezim represif runtuh, muncullah bandit berkeliaran.

Sebagaimana di zaman kuno, jenis bandit ini mendatangi sebuah wilayah, menjarah habis wilayah, lalu pergi. Begitu cara kerjanya. Berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, menguras habis kekayaan di tempat itu tanpa menyisakan apa pun.

Ketika Indonesia di bawah Soeharto, ”orang kuat” ini menguasai seluruh Indonesia dan rakyatnya. Kekuatan Soeharto berhasil membuat semua orang bergantung kepadanya. Sementara itu, orang-orang di sekitar Soeharto merasa senang dan nyaman. Tak hanya mendapat perlindungan, juga sedikit kekayaan. Memang Soeharto terkenal membagi-bagikan kemurahan hatinya kepada semua orang yang mau mengabdinya. Hal ini berlaku bagi pegawai negeri, pengusaha swasta, dan militer.

Maka, penguasa tunggal itu berstatus bandit menetap dan menimbulkan stabilitas yang lumayan sehingga Indonesia dipuji Bank Dunia akan menjadi ”macan Asia”. Hal ini membuat orang percaya, ada hubungan erat antara stabilitas dan sukses ekonomi. Namun, ini merupakan kelihaian Soeharto. Sebagai bandit menetap, ia tak menguras habis kekayaan Indonesia, juga tak mengembangkannya. Ia membiarkan Indonesia pada tingkat tertentu yang cukup bagi penduduk untuk berusaha dan cukup untuk dikuras. Indonesia memang maju, tetapi tak akan pernah maju sampai ke titik maksimal.

Zaman bandit berkeliaran

Menurut Olson, begitu bandit menetap runtuh, muncullah bandit berkeliaran yang tak lagi terikat pada sang ”bos”. Jika mereka semula tertunduk dan terbungkuk di depan bos, kini gerak mereka bebas tak terikat menjalankan perintah apa pun. Tak ada yang ditakuti. Mereka menancapkan diri sebagai pemalak dan pemeras yang siap menjalankan aksinya.

Situasi ini persis sama dengan di Rusia sebagaimana dianalisis Olson. Ketika bandit menetap (Partai Komunis) disingkirkan, muncullah bandit berkeliaran yang menguasai daerah-daerah maupun wilayah kekuasaan lain. Mereka nyaris mengabaikan kendali oleh pusat, bergerak sendiri sesuai dengan kebutuhannya.

Di Indonesia datangnya demokratisasi dan otonomi daerah sejak tahun 1999 memberi sumbangan signifikan bagi meluasnya bandit berkeliaran ini. Sistem yang lebih tepat diberi nama ”demokrasi prosedural” ini pada dasarnya membebaskan rakyat Indonesia dari cengkeraman kekuasaan otoriter Soeharto sekaligus menciptakan banyak aktor dalam perpolitikan Indonesia. Aktor-aktor ini—entah tergabung dengan parpol entah tidak—belajar bagaimana memanipulasi pemilu/ pilkada menjadi kepala eksekutif atau anggota legislatif.

Sistem demokrasi sebenarnya adalah sistem yang tak stabil. Semua politikus—di tingkat nasional, lebih-lebih di tingkat daerah—sadar, kesempatan terus duduk di kursinya hanya sekali itu saja karena sistem demokrasi menuntut rotasi pemimpin. Daripada memanfaatkan masa baktinya secara optimal, mereka malah mendapat insentif menjalankan penjarahan dan menguras habis. Mumpung berkuasa, mereka memanfaatkannya sebaik mungkin.

Khusus tentang anggota DPR / DPRD. Yang membuat mereka makin kalap dan tak terkendali adalah sistem pemilihan anggota legislatif yang tak menganut sistem distrik: nasib mereka bergantung pada pemimpin umum partai, bukan rakyat tempat pemilihan mereka. Sebagai pion partai, mereka menyetor hasil kepada partai. Dalam sistem ini, oknum memang penting, tetapi partai lebih penting. Hasil sogok- menyogok ini hanya sebagian masuk kantong sendiri. Selebihnya untuk setoran partai.

Begitulah para bandit berkeliaran menerjang memasuki wilayah-wilayah Indonesia, menguras kekayaan di situ, lalu pergi. Sementara itu, bandit berkeliaran lain telah menunggu!

I WIBOWO 060808 Koordinator ”Dijkstra Society” Jakarta