13.2.15

Jika Duduk Jangan Lupa Berdiri

Jika dalam suatu perjalanan kita menemukan sebuah bangku, tidak ada salahnya kita memanfaatkannya untuk sekadar melepas penat, menghela lelah dan mengumpulkan tenaga; tetapi setelah itu segeralah berdiri dan kembali melangkah, sebelum sang empunya memintanya kembali. Apalagi, sahabatku, hidup tak cuma sekadar duduk.

(G-044 : bat-130215)

Setiap Posisi Punya Konsekuensinya Sendiri-Sendiri

Saat ini aku sedang berada di pelataran yang sekelilingnya penuh dengan gedung-gedung tinggi, puluhan lantai. Terbayang, untuk mencapai lantai teratas, orang-orang yang memiliki tempat itu akan melangkahi mereka-mereka yang di bawahnya, hingga mereka dapat menikmati puncak dan beroleh pemandangan terindah yang luas menghampar. Tapi terbayang juga, jika terjadi sesuatu, mereka-mereka yang ada di tingkat paling bawah lah yang paling cepat meloloskan diri.

(G-043 : bat-120215)

4.2.15

JEJAK LANGKAH XXIV

jika aku terluka
aku akan membiarkannya terluka
menganga
berdarah
pedih perih lara


jika aku menangis
aku tak biarkan seorang pun tahu aku menangis
hingga usai airmata
hingga kering darah


jika aku pergi
tak aku ingin seorang pun mencari
hingga selesai kisah
hingga tertutup rindu dan murka


bat-100115

PENGEMBARA

aku adalah pengembara
bertualang pada setiap jengkal persada
menjejakkan langkah di rawa di rimba di ngarai gunung dan lembah
menjejalkan pikiranku pada setiap jiwa
mengawini semua lara
menyetubuhi segenap tawa


aku adalah pengembara
ketakutan tak pernah hinggap tak sudi singgah
bahkan pada ketika telapak kaki penuh luka penuh nanah


aku adalah pengembara
meningkahi ribuan kisah
menyudahi berlaksa fatamorgana
meludahi berjuta dusta


aku adalah pengembara
tanpa rumah
tak punya huma
hanya pada sebidang tanah aku berjanji
kelak akan kembali...


bat-yogyakarta 1988

3.2.15

BATU

Aku pungut satu batu kecil
kulempar ke tengah telaga
batu itu berloncatan tiga empat kali
sebelum karam ke dasar sunyi
ada riak melingkar meluas
lantas perlahan pun tenang kembali

Aku pungut lagi satu batu kecil
kulempar tinggi tinggi ke angkasa
berselang sekejap mata
ia kembali jatuh persis di depan kakiku
nyaris tanpa suara
bahkan percik angin pun tak berubah

Kita bukan batu kecil
kerana itu kita tidak untuk dilempar lempar
bukan sekadar dua tiga langkah berloncatan lantas tenggelam
bukan untuk mencapai ketinggian kemudian jatuh berdebam
kita bukan batu kecil
jangan pernah hanya menjadi batu kecil.

(Malang, bat-231286)

HANYA ABU HANYA ARANG

genderang perang
ditabuh bertalutalu
sesama prajurit
sesama anak bangsa
mereka begitu bangga
bisa saling injak kepala

sangkakala pertikaian
ditiup meliuk liuk
mengundang burung burung bangkai
terbang rendah menunggu mangsa
atas tubuh terbujur kaku
penuh luka penuh nista
di atas nanah persada

genderang perang
sangkakala pertikaian
tak akan menyisakan pemenang
kerana mereka memang bukan pemenang
tidak memiliki jiwa pemenang
kerana di tengah perang
yang tersisa cuma arang.

(bat-dago : 240115)

KENANGAN II

masih lekat di ingatan
orangtua-orangtua dahulu bicara perlahan-lahan
dan kami anakmuda-anakmuda khusyuk mendengarkan

begitu pekat kini di penglihatan
semua orang berteriak-teriak bagai kesurupan
dan tak lagi ada satu pun yang sempat mendengarkan

bat-171013