SEJARAH BUKANLAH APA YANG TELAH TERJADI
SEJARAH ADALAH APA YANG TELAH DITULISKAN
Ahad ini alam terlampau tenang
tidak ada pertanda yang mengguncang
tanpa gejala yang membuat tercengang
Tiada pohon beringin di alun-alun dan pekarangan yang tumbang
tiada riak besar pasang gelombang
tiada pekat gemulung gemawan
tiada hentakan liar lahar menyeruak kepundan
bahkan semilir angin pun hanya mengalun perlahan
adakah tanda-tanda itu pun telah enggan memberi kabar
ketika kita tak lagi antusias memahami makna yang terkibar
pukul satu lewat sembilan menit empat puluh delapan detik
saat sebuah detak nadi berhenti menggelitik
siang itu maha berita bersebar
menjawab gundah lara yang tidak lagi mampu tuk bersabar
meski tanpa ingar bingar
Selamat jalan duhai sang Bapak
tempuhi langkahmu dalam hening tanpa tepuk tiada sorak
dipayungi berlaksa doa takjim berserak
diiringi debat kusir yang terus memuncak
bersalahkah
berjasakah
adakah engkau pahlawan
bukankah engkau pecundang
diampunkan
dihujatkan
pukul duabelas lewat sebelas menit empat puluh delapan detik
saat jasadmu menuruni bumi di tengah terik
(bukankah pesanmu ingin dikebumikan sebelum dzuhur?)
di sana, di astana giribangun kini engkau bersemayam tenang
ditemani jasad isteri tercinta yang sudah mendahuluimu duabelas tahun berselang
di lereng lawu di karang anyar
bahtera itu telah siap berlayar
dan kalaupun engkau masih gemar memancing
ada didekatmu gajah mungkur sebelum kering
di sana ribuan pelayat telah berdatangan
di sana ribuan rakyat kecil akan memetik harapan
di sini jutaan mulut masih bersuara
di sini jutaan wacana coba mencari makna
di sini jutaan diri melekatkan nama
bersalahkah
berjasakah
pahlawankah
pecundangkah
maafkanlah...
ANDRETHERIQA 280108
OBITUARI PRESIDEN KE-2 RI ALMARHUM HM. SOEHARTO BACA DISINI
SEJARAH ADALAH APA YANG TELAH DITULISKAN
Ahad ini alam terlampau tenang
tidak ada pertanda yang mengguncang
tanpa gejala yang membuat tercengang
Tiada pohon beringin di alun-alun dan pekarangan yang tumbang
tiada riak besar pasang gelombang
tiada pekat gemulung gemawan
tiada hentakan liar lahar menyeruak kepundan
bahkan semilir angin pun hanya mengalun perlahan
adakah tanda-tanda itu pun telah enggan memberi kabar
ketika kita tak lagi antusias memahami makna yang terkibar
pukul satu lewat sembilan menit empat puluh delapan detik
saat sebuah detak nadi berhenti menggelitik
siang itu maha berita bersebar
menjawab gundah lara yang tidak lagi mampu tuk bersabar
meski tanpa ingar bingar
Selamat jalan duhai sang Bapak
tempuhi langkahmu dalam hening tanpa tepuk tiada sorak
dipayungi berlaksa doa takjim berserak
diiringi debat kusir yang terus memuncak
bersalahkah
berjasakah
adakah engkau pahlawan
bukankah engkau pecundang
diampunkan
dihujatkan
pukul duabelas lewat sebelas menit empat puluh delapan detik
saat jasadmu menuruni bumi di tengah terik
(bukankah pesanmu ingin dikebumikan sebelum dzuhur?)
di sana, di astana giribangun kini engkau bersemayam tenang
ditemani jasad isteri tercinta yang sudah mendahuluimu duabelas tahun berselang
di lereng lawu di karang anyar
bahtera itu telah siap berlayar
dan kalaupun engkau masih gemar memancing
ada didekatmu gajah mungkur sebelum kering
di sana ribuan pelayat telah berdatangan
di sana ribuan rakyat kecil akan memetik harapan
di sini jutaan mulut masih bersuara
di sini jutaan wacana coba mencari makna
di sini jutaan diri melekatkan nama
bersalahkah
berjasakah
pahlawankah
pecundangkah
maafkanlah...
ANDRETHERIQA 280108
OBITUARI PRESIDEN KE-2 RI ALMARHUM HM. SOEHARTO BACA DISINI




