15.4.09
Frustrasi dan Gangguan Jiwa
pusat data Sang SemburatJingga pada 09.41 10 komentar
Label: ArtikelSahabat
8.3.09
Demokrasi dan Identitas Naratif
Tidak ada norma atau nilai yang tidak dapat diperdebatkan, dipertanyakan, atau dikritik. Argumentasi menjadi cara mencari dasar persetujuan tindakan kolektif. Apakah prosedur demokrasi membantu warga negara lebih memiliki komitmen etis (komponen utama identitas naratif)? Acuan ke identitas naratif bisa menjadi ukuran sejauh mana keputusan Mahkamah Konstitusi (anggota legislatif dipilih berdasarkan suara terbanyak) mampu membuka dinamika politik baru.
Dilema dan solidaritas
Model tindakan komunikatif itu dilematis. Di satu sisi, tindakan komunikatif sering dikritik terlalu ideal sehingga syaratnya (tulus, benar, tepat, menunda kepentingan masing-masing peserta) sulit dipenuhi. Di sisi lain, upaya mewujudkan tuntutan itu bisa menjadi latihan guna membentuk orang yang terbuka dan memiliki komitmen. Seringnya perjumpaan, dalam kerangka diagnostik masalah dan upaya-upaya kolektif, akan menumbuhkan saling kepercayaan.
Demokrasi deliberatif, yang memberi kesempatan kepada suatu suara mengungkap alasan-alasannya, menjadi tempat persemaian bagi tumbuhnya saling pengertian. Karena itu, diskusi jangan dibatasi oleh urgensi untuk segera mengambil keputusan atau segera bertindak. Peserta dituntut bisa menahan diri untuk menunda kepentingan masing-masing. Tuntutan ini dalam realitas politik sulit dipenuhi karena masing-masing pihak memiliki prioritas, motivasi, dan tujuan. Terkurasnya energi karena konflik kepentingan ini bila diarahkan oleh politik budaya yang multikultural bisa memancing kesadaran rasa kebangsaan. Mengapa?
Ketika pilihan rasional masing-masing pihak berkutat pada kepentingan sendiri, dorongan ke arah kepentingan kolektif dalam bentuk solidaritas dan orientasi tujuan (kesejahteraan bersama, ideologi, pluralitas) kian dibutuhkan. Orang tidak akan sanggup terus menghadapi konflik dan ketidakpastian. Maka, tindakan yang hanya ditentukan oleh logika ekonomi dipertanyakan. Orang mencari kerja sama. Taruhannya adalah identitas dan komitmen. Komitmen merupakan dimensi moral yang menandai identitas naratif.
Identitas naratif lahir dari pemahaman kehidupan dalam bentuk kisah yang disatukan oleh tujuan hidup baik sehingga memungkinkan tiap orang menunjukkan kualifikasi etisnya (P Ricoeur, 1990:187). Tanda identitas naratif ialah meski selalu diterpa perubahan, tetap bisa dipercaya dan diperhitungkan. Jadi, identitas naratif ditandai oleh kemampuannya untuk menepati janji. Kemampuan menepati janji merupakan identitas lebih tinggi karena, meski ada aneka perubahan, masih tetap bisa diandalkan. Kemampuan menepati janji berasal dari kesetiaan kepada diri sendiri dan orang lain. Dari tepat janji ini tumbuh solidaritas. Jadi, identitas naratif suatu bangsa ditandai komitmen, kesatuan, dan kohesi yang teruji oleh waktu.
Identitas merupakan hasil proses identifikasi dan distinction yang membantu kelompok sosial membangun kohesinya dan menetapkan posisinya berhadapan dengan bangsa lain. Maka keyakinan, loyalitas, dan solidaritas anggota-anggotanya terwujud bila masyarakat saling mengakui hak dan kewajibannya karena status mereka sama (E Gellner, 1983:7).
Identitas naratif lemah saat warga negara tidak mampu mengenali diri dan yang lain atau menafikan yang lain. Mereka ini sebetulnya buta terhadap kepentingan dan identitasnya. Mereka akan gagal dalam hidup bersama. Padahal, bahkan pasar, sebagai bentuk kerja sama dan persaingan dalam pertaruhan simbolis dan material, menuntut syarat adanya dialektika identifikasi dan pengakuan ini. Maka, menjadi penting teori identitas dan pengakuan (D Cefaï, 2007:215). Identitas dan pengakuan diperoleh melalui keikutsertaan dalam tindakan dan upaya nyata, baik sendiri maupun kolektif, dan dalam kerja sama serta komunikasi dengan sesamanya.
Dalam konteks ini, keputusan Mahkamah Konstitusi yang menetapkan terpilihnya anggota legislatif atas dasar suara terbanyak bisa membuka dinamika politik baru. Di satu sisi, keputusan itu memperlemah daya tawar partai politik dan kecenderungan berkembangnya rasa kedaerahan. Di sisi lain, keterwakilan konstituen kian diperhatikan meski disertai kekhawatiran merebaknya politik uang dan dipertanyakannya kualitas caleg.
Ada dua implikasi politik, pertama, partai politik kian dituntut profesional dalam manajemen organisasi, termasuk dalam penunjukan calon anggota legislatif. Kedua, menghadapi primordialisme kedaerahan dan agama, pemerintah pusat harus mempunyai politik budaya yang tegas. Alasannya, pertama, nilai strategis budaya sebagai penyebar standar simbolis dan komunikatif; kedua, dasar identitas bangsa; ketiga, politik budaya berdampak positif pada ekonomi dan sosial karena mengembangkan kreativitas (L Bonet, 2007). Dengan demikian, keputusan MK bisa membuka dinamika kebangsaan baru asal mengarahkan ke universalitas konkret. Universalitas konkret sebagai bentuk komitmen etis merupakan komponen utama identitas naratif.
Universalitas konkret bisa diilustrasikan dalam karya seni. Kekaguman terhadap karya seni merupakan bentuk universalitas. Jarang ada komentar yang mengatakan, karya-karya Mozart tidak bermutu. Universalitas konkret ini didefinisikan sebagai rekonsiliasi antara yang partikular dan yang universal (L Ferry, 1998:246). Partikularitas ini berlaku bagi suatu budaya (agama), saat ia membuka makna bagi seluruh kemanusiaan. Pemeluk agama-agama dipanggil untuk menjadi karya seni, artinya ambil bagian dalam kehidupan bersama dan memberi makna bagi semua. Panggilan ini berarti masuk ke pemikiran yang diperluas, maksudnya akses ke universal melalui otentifikasi partikularitas. Semakin mendalam dan otentik penghayatan agama seseorang, justru kian terbuka bagi semua.
Keterbukaan ini adalah buah kebebasan yang mampu melepaskan diri dari partikularisme (agama) untuk membuka diri bagi semua golongan. Orang bisa memahami makna karya seni ketika melihat pribadi Mahatma Gandhi, Ibu Teresa dari Calcutta, Muhammad Iqbal, Muhammad Hatta, dan Romo Mangun. Para tokoh ini adalah ungkapan universalitas konkret.
Universal karena mereka berjasa dan diterima semua golongan, juga konkret karena mengakar pada partikularitas agama masing-masing. Komitmen untuk kemanusiaan yang mengatasi sekat agama menandai identitas naratifnya. Universalitas konkret mengikis primordialisme karena ukuran penerimaan bukan kepemilikan pada kelompok, tetapi jasa, sumbangan, dan prestasi untuk masyarakat.HARYATMOKO Dosen Pascasarjana FIB UI dan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
pusat data Sang SemburatJingga pada 20.58 23 komentar
Label: ArtikelSahabat
22.2.09
2012
Observasi astronomi sangat akurat selama berabad-abad para astronom genius Maya memberi pertanda, tanggal 21/12/2012 akan menjadi kelahiran zaman baru. Masa itu paling sakral sekaligus paling berbahaya dalam sejarah Bumi.
Menurut Laurence E Joseph dalam Apocalypse 2012, tanggal 21/12/2012 merupakan titik balik musim dingin tahunan ketika belahan Utara Bumi berada di titik terjauh dari Matahari sehingga siang sangat pendek.
Pada tanggal itu, tata surya dengan Matahari sebagai pusatnya, seperti diyakini bangsa Maya, akan menutupi pemandangan pusat Bimasakti dari Bumi. Para astronom Maya Kuno menganggap titik pusat ini sebagai rahim Bimasakti. Keyakinan itu didukung banyak pembuktian para astronom kontemporer bahwa di situlah tempat terciptanya bintang-bintang galaksi.
Saat ini, sejumlah lembaga penelitian ilmiah mengenai atmosfer, ruang angkasa, dan teknologi di Barat menduga ada lubang hitam tepat di pusat itu yang menyedot massa, energi, dan waktu, yang menjadi bahan baku penciptaan bintang masa depan.
Untuk pertama kalinya dalam 26.000 tahun, energi yang mengalir ke Bumi dari titik pusat Bimasakti akan sangat terganggu pada 21/12/2012, tepatnya pukul 11.11 malam. Semua itu disebabkan guncangan kecil pada rotasi Bumi.
Bangsa Maya yakin, sesingkat apa pun terputusnya pancaran dari pusat galaksi akan merusak keseimbangan mekanisme vital Bumi dan tubuh semua makhluk, termasuk manusia.
Memaknai ramalan
Ada yang menginterpretasikan 21/12/2002 sebagai ”kiamat”, tetapi banyak pula yang memaknainya secara kontemplatif.
Pakar psikologi transpersonal dari AS, Dr Beth Hedva, yang ditemui di Jakarta beberapa waktu lalu, mengibaratkan Ibu Bumi sudah sangat dekat waktunya melahirkan. Proses kelahiran tak hanya diiringi darah dan penderitaan, tetapi juga harapan dan janji.
”Selalu terjadi kontraksi,” ujar Beth Hedva. Wujudnya perang, kekejian, dan bencana akibat penghancuran lingkungan dan perusakan atmosfer Bumi—dampak kebencian dan keserakahan manusia—serta bencana yang disebabkan faktor manusia dan nonmanusia.
Dalam antologi The Mystery 2012: Predictions, Prophecies & Possibilities (2007), ahli sistem komputer untuk ruang angkasa yang menjembatani ilmu pengetahuan dan spiritualitas, Gregg Braden, menyatakan, yang terpenting bukan apa yang akan terjadi, tetapi bagaimana potensi kolektif muncul dari pemahaman holistik dan kesadaran tentang siapa diri kita di tengah Semesta Raya.
Ahli fisika biologi dan ahli kanker pada Organisasi Kesehatan Dunia, Carl Johan Calleman, peneliti Kalender Maya, mengingatkan pada transformasi kesadaran manusia.
Robert K Stiler, Direktur Program Kajian Amerika Latin Universitas Stetson di DeLand, Florida, AS, menambahkan, ”Apa pun maknanya, bangsa Maya mengajak kita merengkuh hidup berkualitas dan kesehatan planet Bumi.”
Tahun 2012 adalah tahun berjaga dengan menyadari teknologi saja tak menjamin keberlangsungan Bumi. Begitu diingatkan José Argüelles, PhD, ahli Kalender Maya dan pakar sejarah seni dan estetika dari Universitas Chicago.
”Kalau kita tidak berjaga, planet Bumi akan hancur secara alamiah karena sekarang sudah jauh dari seimbang,” ia menambahkan. ”Pikiran manusia secara massal dikontrol dan dimanipulasi pemerintah dan institusi-institusi yang menjadi faktor kunci kehidupan modern.”
Christine Page, dokter medis, ahli homeopati dan kesehatan holistik, menjelaskan, tanggapan pada zaman baru sangat tergantung pada kemampuan memahami kesalingterkaitan dan menghargai Ibu Bumi. ”Alam dan semua makhluk hidup di Bumi adalah bagian diri kita yang harus diperlakukan penuh martabat, penghargaan, dan cinta,” ujarnya.Jadi, pilihan ada di tangan manusia: membiarkan planet Bumi hancur atau melanjutkan evolusinya. MARIA HARTININGSIH 220209
pusat data Sang SemburatJingga pada 13.09 2 komentar
Label: ArtikelSahabat
14.2.09
Kasih Sayang
Secara tragis, Ketua DPRD Sumatera Utara Abdul Azis Angkat meninggal teraniaya angkara murka pengunjuk rasa yang ingin memaksakan kehendak mendirikan Provinsi Tapanuli.Sebagai penghormatan dan penghargaan atas jasa-jasa mendiang Abdul Azis Angkat semasa hidupnya bagi negara dan bangsa, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, berdasarkan kesepakatan dengan musyawarah pimpinan daerah (muspida) setempat, berhasrat melaksanakan pemakaman jenazah Abdul Azis Angkat di Taman Makam Pahlawan (TMP) Bukit Barisan di Medan.
Persiapan untuk pemakaman dilakukan, hingga menggali liang kubur. Namun, dalam suatu kesempatan di rumah duka, Wakil Gubernur Sumut menyampaikan perkembangan baru, ”Pihak keluarga mempertimbangkan keinginan istri almarhum yang ingin nantinya jika wafat bisa dikebumikan di samping makam suaminya. Tentu hal itu akan sulit jika almarhum dimakamkan di TMP”.
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara pun mematuhi keinginan keluarga. Jenazah Abdul Azis Angkat dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Ekarasmi.
Tafakur
Peristiwa yang terkesan sederhana itu mengharu biru sanubari saya, membawa nurani saya ke alam tafakur. Pemakaman merupakan bentuk ritual peradaban dan kebudayaan yang membedakan manusia dengan jenis makhluk hidup lain. Hanya spesies Homo sapiens yang memakamkan jenazah sesama yang telah meninggal dunia. Maka, pemakaman merupakan salah satu ritual terpenting dalam jalur kehidupan manusia.
Tujuan utama pemakaman adalah sebagai mempersembahkan kehormatan dan penghormatan, baik bagi yang meninggal maupun yang ditinggal.
Di sisi lain dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, pahlawan merupakan gelar kehormatan amat tinggi, maka amat didambakan. Dikebumikan di TMP merupakan bentuk kehormatan dan penghormatan sangat terhormat bagi yang meninggal maupun yang ditinggalkan.
Memang di dunia fana, insan yang telah meninggal dunia tidak lagi bisa secara ragawi merasakan kehormatan dan penghormatan yang diberikan kepadanya. Namun, bagi keluarga yang ditinggalkan, pemakaman almarhum atau almarhumah di TMP merupakan kehormatan yang amat bermakna, maka amat didambakan banyak pihak.
Bagi yang merasa dirinya pengabdi negara, bangsa, dan rakyat, pemakaman di TMP merupakan anugerah penghargaan dan penghormatan atas jasa-jasa darma baktinya. Apalagi di masa begitu banyak pihak gigih berebut menjadi pengabdi negara dan bangsa yang disebut sebagai wakil rakyat. Diakui atau tidak, pemakaman di TMP merupakan anugerah kehormatan dan penghormatan yang didambakan para politisi masa kini yang sudah wafat maupun sanak keluarganya yang masih hidup.
Terharu
Saya terharu karena di tengah kemelut gejolak beragam semangat ambisi mereka yang disebut abdi negara, bangsa, dan rakyat, secara tulus atau tidak, mendadak tampil suasana yang amat berbeda. Sebuah dambaan sederhana yang lebih mengutamakan kasih sayang antarinsan ketimbang dambaan atas kilau gemerlap kehormatan dan penghormatan dengan suasana bergelar menggetar sukma kepahlawanan kenegaraan dan kebangsaan.
Seolah suasana kebisingan yang sedang memekak telinga mendadak berubah menjadi suasana keheningan yang lembut menyentuh, lalu membelai sanubari. Peristiwa penolakan pemakaman di TMP di Medan itu mengingatkan saya kepada ketulusan kerendahan hati almarhum pahlawan nasional yang jasanya tiada terhingga bagi bangsa dan negara, Bung Hatta. Proklamator kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia ini dengan rendah hati secara tulus menginginkan jenazah dirinya disemayamkan bukan di TMP, tetapi di TPU Tanah Kusir, Jakarta. Di dunia fana sampai ke alam baka, Bung Hatta konsekuen dan konsisten ingin selalu dekat dengan rakyat.
Adiluhur
Penghormatan setinggi-tingginya layak diberikan kepada sikap keluarga almarhum Abdul Azis Angkat mendukung penolakan pihak istri terhadap pemakaman jenazah suami di TMP semata agar di kemudian hari jika sang istri wafat, dapat disemayamkan di sanding sang suami tercinta, bukan di TMP, tetapi di taman pemakaman rakyat biasa.
Peristiwa mengharukan ini menyadarkan kita, sebenarnya masih ada nilai-nilai kehidupan manusia jauh lebih mulia, agung, dan luhur ketimbang sekadar nilai-nilai politik duniawi, apalagi yang berlumuran kebencian dan kekerasan!
Kasih sayang merupakan nilai adiluhur di atas segalanya dalam kehidupan manusia. Maka, jelas amat keliru jika manusia sampai khilaf meninggalkan, melupakan, mengorbankan, apalagi mengkhianati nilai-nilai kasih sayang dalam bersama menempuh perjalanan hidup nan sarat kemelut deru campur debu bepercik keringat, air mata, dan darah. JAYA SUPRANA 140209
pusat data Sang SemburatJingga pada 18.17 0 komentar
Label: ArtikelSahabat
29.11.08
Politisi Tanpa Empati
Saya selalu menganggap orang/lembaga yang merasa paling berkompeten sesungguhnya tak punya kompetensi. Mereka lebih suka mencampuri urusan orang lain, tetapi alpa mengerjakan urusan sendiri.
Tak elok menuding pelajar yang diantar kendaraan ke sekolah sebagai sumber kemacetan. Saya jadi ingat pernyataan gubernur lama DKI yang menuduh ”fenomena alam” penyebab banjir besar di Jakarta dua tahun lalu.
Kemacetan melanda kota-kota ekonomi padat, seperti London, Paris, New York, Tokyo, Beijing, dan Bangkok. Lalu lintas di Jakarta bukan lagi macet, tetapi sudah semrawut.
Siapa pun tahu kemacetan pasti datang kapan saja, bisa diurai lewat aturan yang dipatuhi, dan akhirnya membuat lalu lintas normal kembali.
Kesemrawutan? Tak seorang pun yang tahu penyebabnya karena sifatnya misterius, mustahil diurai dari pagi sampai malam, dan memaksa tiap pengendara enggan bersikap pasrah.
Itu sebabnya warga DKI suka gontok-gontokan di tengah jalan. Itu sebabnya kerugian rupiah per tahun akibat kemacetan di Ibu Kota mencapai jumlah triliunan.
Ada 1.001 alasan yang menyebabkan terjadinya kemacetan, mulai dari kurangnya panjang jalan sampai terlalu banyaknya jumlah kendaraan. Namun, penyebab kesemrawutan cuma satu, yakni insanity.
Albert Einstein, ilmuwan penemu teori relativitas, punya teori tentang insanity. Ia bilang insanity adalah kebiasaan orang melakukan hal yang sama secara berulang dan mengharapkan hasil yang berbeda.
Nyaris semua pengendara di Jakarta melanggar aturan tiap detik, menit, jam, hari, pekan, dan bulan. Tak ada lagi warga Jakarta yang merasa heran.
Motor naik ke trotoar, angkot dan metromini ngetém sembarangan. Sedan-sedan mewah buang sampah di jalanan dan truk-truk di tol merangkak kayak keong di lajur paling kanan.
Setelah menyerempet sedan mewah, pengendara motor langsung tancap gas bagai orang kesetanan. Jangan lupa, si pemilik sedan mewah yang gemar buang sampah di jalanan mengeluh selokan mampat sehingga rumahnya kebanjiran.
Coba Anda sekali-kali ngetém di depan angkot atau metromini, saya jamin sopir-sopirnya naik darah dan menuduh Anda enggak ngerti aturan. Sopir-sopir truk yang jalan di lajur paling kanan tol getol mengeluh tentang kemacetan.
Nah, itulah kesemrawutan. Dan, kini pelajar yang diantar kendaraan tiap pagi tiba-tiba berubah ujud jadi kambing hitam biang kemacetan.
Sungguh ironis derajat sekolah—institusi mulia yang menyiapkan pemimpin masa depan— telah diturunkan. Lebih ironis lagi, kekuasaan berasumsi urusan terpenting di Ibu Kota melulu masalah kemacetan.
Padahal, jalanan di depan rumah saya pasti kembali kebanjiran. Ancaman tsunami krismon global sudah bertiup ke Jakarta dalam bentuk PHK yang jumlahnya tahun depan bisa mencapai ribuan.
Menurut saya, penerapan kebijakan publik yang keliru macam ini merupakan cermin sifat kepemimpinan yang kurang memiliki rasa empati. Rata-rata politisi yang telanjur dipilih tak punya electability alias kurang layak dipilih.
Kini gejala kekuranglayakan itu sudah tampak lagi. Mereka percaya pada pengaruh iklan politik karena sesungguhnya kurang percaya diri.
Iklan politik bertujuan sebagai alat promosi sebagai bukti berbuat sesuai dengan janji-janji. Namun, yang terjadi iklan- iklan itu merayu rakyat agar melupakan masa lalu sambil menawarkan... janji-janji lagi.
Mungkin karena janji sudah bertumpuk-tumpuk, mereka lupa sendiri. Tiap kali rakyat menagih, mereka bingung sendiri.
Itu sebabnya kemacetan disalahkan pada jadwal sekolah yang kurang pagi. Tak heran iklan yang dipertengkarkan dua capres hanya soal persentase orang miskin—bukan substansi kemiskinan.
Saya suka iklan politik Prabowo Subianto yang mengajak masyarakat memerhatikan potensi pasar tradisional dan petani. Berbeda dengan iklan-iklan lain yang kok memuji diri sendiri.
Aneh ada politisi tanpa empati yang mengaku berjasa memberlakukan kebebasan pers atau berhasil memberantas korupsi. Padahal, itu tuntutan perjuangan mahasiswa saat reformasi.
Tak sedikit politisi tanpa empati ramai-ramai ”menyerbu” situs jaringan sosial Facebook belakangan ini. Namun, jangan coba menyapa sebagian dari mereka karena Anda takkan diladeni.
Politisi tanpa empati ibarat ndoro yang sedari dulu terbiasa diladeni. Mereka selalu jadi pusat perhatian karena anak pembesar Anu, mantan pejabat Orde Baru yang ditakuti, atau bekas komedian/bintang sinetron top di televisi.
Politisi tanpa empati bak anak balita kurang perhatian yang kurang pandai menyesuaikan diri dengan lingkungan. Jangan heran sebagian dari capres tak bertegur sapa seperti tetangga yang bermusuhan.
Juga tak heran di antara mereka kerap terjadi pengkhianatan. Kali ini mereka sekubu, kali lain mereka saling tikam demi persaingan.Dalam psikologi politisi tanpa empati menderita adult attention-deficit disorder alias dewasa berperilaku menyimpang karena ”kuper” (kurang perhatian). Namun, bukankah reformasi memang sudah menyimpang? BUDIARTO SHAMBAZY 291108
pusat data Sang SemburatJingga pada 13.34 0 komentar
Label: ArtikelSahabat
15.11.08
Selamatkan Anak-Anak Kita !!!
Kita tersentak, berita setiap tahun setidaknya 150.000 anak Indonesia jadi korban pelacuran anak dan pornografi. Jumlah ini meningkat dua kali lipat dibanding data Unicef tahun 1998 yang berjumlah 70.000 anak. Mereka berusia 14-16 tahun, setingkat anak usia SMP.
Kita geram sekaligus terenyuh. Geram sebab ahli waris bangsa ini berada dalam incaran mata penjahat. Terenyuh sebab kita lalai memberikan perhatian.
Usia 14-16 tahun menurut para psikolog dan pedagog adalah usia rawan. Serba tanggung. Disebut anak sudah lulus SD, disebut dewasa belum 17 tahun. Mereka belum bisa bertanggung jawab secara hukum. Sebaliknya secara fisik mereka sudah dewasa. Mereka gampang terpengaruh dan gampang menjadi obyek kejahatan.
Kondisi serba tanggung membuat serba sulit. Bacaan, alat mainan, dan analisis psikologis untuk anak usia SD dan SMA relatif lebih banyak dibanding untuk anak usia SMP. Apalagi untuk anak balita, bahkan anak sebelum lahir. Psikologi anak usia SMP relatif lebih sulit diraba dibanding anak usia SD dan SMA.
Analisis psikologis tentang mereka amat gampang berubah. Bagi para psikolog, usia Stum und Drang yang rentan membuat sulit memberikan pattern. Perhatian psikolog dan pedagog pun diberikan pada usia balita, bahkan terkesan kelewat banyak, sementara psikologi anak usia 14-16 tahun kurang memperoleh perhatian.
Kondisi serba tanggung membuat mereka gampang dijadikan tenaga kerja dengan upah murah, dan berbagai bentuk kejahatan lain. Data di Jakarta terdapat tidak kurang dari 10.000 pelacur anak dan di Medan 2.000 anak, menambah gawatnya kondisi anak-anak kita.
Kejahatan terhadap anak seharusnya diberi perhatian lebih serius, tidak saja dari sisi kejahatan an sich, tetapi terutama karena me-muntes generasi penerus sebuah bangsa. Secara sosial psikologis, bobot kejahatan mereka tidak kalah jauh dari bobot kejahatan psikotropika.
Dengan alasan itu, terutama demi generasi masa depan Indonesia, kita ingin sampaikan beberapa saran. Sikap bela rasa perlu ditindaklanjuti langkah-langkah konkret. Terhadap kasus-kasus kejahatan anak, tegakkan hukum dengan tegas. Korban kejahatan mereka berurusan dengan masa depan bangsa.
Kita berikan apresiasi dan dukungan pada Komnas HAM Anak. Lembaga ini tidak punya daya gigit kalau masyarakat sendiri acuh terhadap kejahatan yang mengancam anak. Sebaliknya terhadap pelaku kejahatan yang masih berusia anak, dalam sikap dan penanganan sebaiknya dalam lingkup pendidikan.
Ajakan imperatif ”selamatkan anak bangsa” tidak sekadar retoris, tetapi sebuah keniscayaan kalau kita ingin negeri dan bangsa Indonesia tidak hancur berkeping-keping seiring rasa keterpurukan akhir-akhir ini. TAJUK RENCANA KOMPAS 151108
pusat data Sang SemburatJingga pada 14.28 1 komentar
Label: ArtikelSahabat
6.9.08
Era Bandit Berkeliaran
Ketika 10 tahun lalu penguasa tunggal dijatuhkan, orang berharap kejadian korupsi sejenis yang dilakukan Soeharto tak akan lagi terjadi karena rakyat akan mengawasinya. Ternyata si pengawas sendiri terlibat korupsi.
Bagaimana ini bisa terjadi? Bukankah setelah kita menjalankan reformasi yang ditegakkan atas dua pilar, demokrasi dan pasar bebas, reformasi mestinya berjalan mulus?
Keganjilan ini dapat diterangkan secara sederhana dengan mengikuti karya Mancur Olson, Power and Prosperity (2000). Olson juga bertanya tentang reformasi, tetapi reformasi di Rusia: mengapa setelah rezim represif runtuh, bukan kesejahteraan yang muncul, melainkan kelompok jaharu? The lifting of the iron curtain revealed something else that the developed nations of the West, whether they had been winners or losers in World War II, did not expect to see: an extraordinary amount of official corruption and Mafia-style crime? Sama seperti kita di Indonesia, reformasi di Rusia juga dijalankan dengan memakai program demokratisasi dan pasar bebas.
Dua macam bandit
Olson menerangkan keanehan ini dengan model bandit menetap (stationary bandits) dan bandit berkeliaran (roving bandits). Pada masa rezim represif, seorang bandit berkuasa, tetapi dia bandit menetap. Artinya, dia tak akan menguras habis wilayahnya. Ia bahkan akan menjaga wilayahnya, memberi keleluasaan kepada penduduknya untuk terus maju. Dengan cara itu, ia akan terus dapat menarik berbagai pungutan yang merupakan sandaran hidupnya. Setelah rezim represif runtuh, muncullah bandit berkeliaran.
Sebagaimana di zaman kuno, jenis bandit ini mendatangi sebuah wilayah, menjarah habis wilayah, lalu pergi. Begitu cara kerjanya. Berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, menguras habis kekayaan di tempat itu tanpa menyisakan apa pun.
Ketika Indonesia di bawah Soeharto, ”orang kuat” ini menguasai seluruh Indonesia dan rakyatnya. Kekuatan Soeharto berhasil membuat semua orang bergantung kepadanya. Sementara itu, orang-orang di sekitar Soeharto merasa senang dan nyaman. Tak hanya mendapat perlindungan, juga sedikit kekayaan. Memang Soeharto terkenal membagi-bagikan kemurahan hatinya kepada semua orang yang mau mengabdinya. Hal ini berlaku bagi pegawai negeri, pengusaha swasta, dan militer.
Maka, penguasa tunggal itu berstatus bandit menetap dan menimbulkan stabilitas yang lumayan sehingga Indonesia dipuji Bank Dunia akan menjadi ”macan Asia”. Hal ini membuat orang percaya, ada hubungan erat antara stabilitas dan sukses ekonomi. Namun, ini merupakan kelihaian Soeharto. Sebagai bandit menetap, ia tak menguras habis kekayaan Indonesia, juga tak mengembangkannya. Ia membiarkan Indonesia pada tingkat tertentu yang cukup bagi penduduk untuk berusaha dan cukup untuk dikuras. Indonesia memang maju, tetapi tak akan pernah maju sampai ke titik maksimal.
Zaman bandit berkeliaran
Menurut Olson, begitu bandit menetap runtuh, muncullah bandit berkeliaran yang tak lagi terikat pada sang ”bos”. Jika mereka semula tertunduk dan terbungkuk di depan bos, kini gerak mereka bebas tak terikat menjalankan perintah apa pun. Tak ada yang ditakuti. Mereka menancapkan diri sebagai pemalak dan pemeras yang siap menjalankan aksinya.
Situasi ini persis sama dengan di Rusia sebagaimana dianalisis Olson. Ketika bandit menetap (Partai Komunis) disingkirkan, muncullah bandit berkeliaran yang menguasai daerah-daerah maupun wilayah kekuasaan lain. Mereka nyaris mengabaikan kendali oleh pusat, bergerak sendiri sesuai dengan kebutuhannya.
Di Indonesia datangnya demokratisasi dan otonomi daerah sejak tahun 1999 memberi sumbangan signifikan bagi meluasnya bandit berkeliaran ini. Sistem yang lebih tepat diberi nama ”demokrasi prosedural” ini pada dasarnya membebaskan rakyat Indonesia dari cengkeraman kekuasaan otoriter Soeharto sekaligus menciptakan banyak aktor dalam perpolitikan Indonesia. Aktor-aktor ini—entah tergabung dengan parpol entah tidak—belajar bagaimana memanipulasi pemilu/ pilkada menjadi kepala eksekutif atau anggota legislatif.
Sistem demokrasi sebenarnya adalah sistem yang tak stabil. Semua politikus—di tingkat nasional, lebih-lebih di tingkat daerah—sadar, kesempatan terus duduk di kursinya hanya sekali itu saja karena sistem demokrasi menuntut rotasi pemimpin. Daripada memanfaatkan masa baktinya secara optimal, mereka malah mendapat insentif menjalankan penjarahan dan menguras habis. Mumpung berkuasa, mereka memanfaatkannya sebaik mungkin.
Khusus tentang anggota DPR / DPRD. Yang membuat mereka makin kalap dan tak terkendali adalah sistem pemilihan anggota legislatif yang tak menganut sistem distrik: nasib mereka bergantung pada pemimpin umum partai, bukan rakyat tempat pemilihan mereka. Sebagai pion partai, mereka menyetor hasil kepada partai. Dalam sistem ini, oknum memang penting, tetapi partai lebih penting. Hasil sogok- menyogok ini hanya sebagian masuk kantong sendiri. Selebihnya untuk setoran partai.
Begitulah para bandit berkeliaran menerjang memasuki wilayah-wilayah Indonesia, menguras kekayaan di situ, lalu pergi. Sementara itu, bandit berkeliaran lain telah menunggu!
I WIBOWO 060808 Koordinator ”Dijkstra Society” Jakarta
pusat data Sang SemburatJingga pada 12.27 1 komentar
Label: ArtikelSahabat
12.2.08
Membaca TitikTuju, Membaca AndreTheriqa
Jangan sekali-kali larut dalam delusi fatamorgana.
Sekali hidup penuh arti.
Sekali bekerja bergetar dunia karena prestasi."
SETIAP diri kita harus tampil sebagai pemikir dan pejuang, kreator dan pendobrak. Tidak ada kata statis dalam kehidupan, sebab statis berarti pengkhianatan yang memalukan. Demikian juga halnya tidak ada kata diam dalam membangun kebenaran, "Silence is worse all thruths that are kept silent become poisnous." Kata-kata inilah barangkali yang dijadikan motivasi oleh seorang Andre Theriqa dalam menumpahkan kreativitasnya.
Tulisan Andre Theriqa lebih mencerminkan sebuah ‘gumam’ atau lebih bersifat reflektif, sebuah lontaran nurani yang datangnya sangat impulsif. Hatinya gelisah bila melihat kemungkaran. Selalu haus ingin menebar marhamah kasih sayang. Jiwanya meronta untuk tampil dalam prestasi yang utuh. Dia keras dalam prinsip, tetapi bijaksana dan lembut dalam penyampaian.
Setelah membaca tulisannya, kita akan mendapatkan butir-butir hikmah yang mendalam serta akan mampu menghayati, memahami dan menemukan jawabannya sesuai dengan yang diharapkan oleh sang penulis, mencapai TitikTuju.
Tangerang, Maret 2006.
H. DIDI ADIWIJAYA, TOKOH MASYARAKAT TANGERANG
pusat data Sang SemburatJingga pada 14.23 3 komentar
Label: ArtikelSahabat
Pengantar TitikTuju-nya AndreTheriqa
Melalui TitikTuju, pembaca seakan diajak untuk menjelajahi perenungan seorang anak manusia, Andre Theriqa, dengan tetap menginjak bumi, dengan hati nurani, dengan cinta, dengan kasih sayang dan dengan tetap memanusiakan "manusia". Tulisan dalam TitikTuju, adalah kumpulan tulisan yang dibuat seketika –ketika sang penulis merasakan getaran khusus, terinspirasi untuk menuangkan dalam tulisan beberapa waktu silam. Kesadaran untuk berbagi pengalaman dari sang penulis inilah, hingga merasa perlu untuk mengumpulkan kembali tulisan-tulisan yang berserakan, mengedit dan membukukannya, untuk pembaca yang budiman. Buku yang ada di tangan pembaca ini, adalah cetakan kedua, setelah cetakan pertamanya habis dibagi-bagikan kepada handai taulan. Ternyata, tuntutan untuk mencetak yang kedua, tidak mampu ditolak oleh penulis, yang memang tidak pernah bisa menolak permintaan orang. Apalagi permintaan untuk berbagi sebuah pengalaman, perenungan untuk nilai-nilai kemanusiaan.
Beberapa tulisan dalam TitikTuju, sengaja didedikasikan untuk beberapa tokoh, --yang dikenal dan mengenal—Andre Theriqa, sang penulis. Penulis tampak terkesan dengan peristiwa-peristiwa yang dialami bersama sang tokoh, walau sederhana dan singkat saat peristiwa itu terjadi, tapi bagi Andre Theriqa peristiwa itu memiliki sisi-sisi humanisme yang dalam dari sang tokoh. Hal ini tampak dalam tulisan bertajuk "Adeng", "EMC dari Bunda", "DRH" dan sebagainya. Hingga pembaca, akan larut bersama dengan bayangan tokoh yang juga dikenal oleh pembaca di Tangerang. Sebuah ‘kota’ yang tengah ditarik oleh modernisasi untuk memisahkan sisi "kemanusiaan" dari manusia penghuninya.
Memang ada beberapa tulisan dalam TitikTuju, ketika diedit kembali beberapa waktu kemudian (enam angka di belakang tulisan), sudah kehilangan ‘momentum’-nya, jika dibandingkan dengan suasana batin ketika tulisan itu dibuat, sesaat setelah peristiwa itu dialami. Terasa ‘kering’, ketika penulis mengeditnya lagi untuk dinikmati sekarang, saat peristiwa itu sendiri sudah lampau. Hal ini bisa dirasakan dalam tulisan yang berjudul "BBBM", "Jalasveva Jayamahe" dan sebagainya. Namun, itu tidak mengurangi kenikmatan menjelajah dunia nilai-nilai kemanusiaan yang ditawarkan oleh penulisnya dalam TitikTuju.
Terakhir, jika pembaca jeli menelusuri TitikTuju hingga akhir, tentu akan mafhum, dengan situasi batin penulisnya. Bahkan pembaca dapat ikut merasakan ‘sakit’ imsomnia yang tidak dirasakan oleh penulis, bisa tahu hobi penulis yang suka mbaca buku Asmaraman S Kho Ping Hoo semasa remaja hingga hafal nama tokoh-tokoh dunia kang-ouw, seorang Andre Theriqa, yang rela begadang semalaman hanya untuk menonton bola, dan sebagainya. Penulis juga tampaknya sengaja menunjukkan kecintaannya pada lagu-lagu Iwan Fals, musisi yang dikaguminya, hingga bisa ditanyakan, ada berapa lagu Iwan Fals dalam TitikTuju ?
Akhirnya selamat membaca TitikTuju sambil mendendangkan lagu IwanFals. (250206)
Imron Hamami adalah penggiat sosial yang menjadi motor Pattiro,
sebuah NGO yang aktif dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan di Tangerang.
pusat data Sang SemburatJingga pada 14.05 1 komentar
Label: ArtikelSahabat
5.2.08
Imlek dan Harmoni dengan Alam
Banjir sudah menjadi bagian hidup kita dan diabadikan dalam aneka peradaban. Dalam sejarah Tiongkok kuno, misalnya, dikisahkan Yao bersama tujuh orang, atau Fa Li bersama istri dan anak-anaknya yang selamat dari banjir dan gempa bumi.
Menghargai alam
Apa kaitan banjir atau bencana dengan Imlek?
Maka, Imlek sebenarnya menyimpan semangat penghargaan pada alam. Seperti bangsa-bangsa kuno lainnya, saat itu para petani Tiongkok mempunyai kosmologi atau pandangan tentang alam semesta yang harus selalu dijaga kesakralannya sehingga setiap pergantian musim, saat menanam benih atau memanen, selalu disertai ritual khusus bagi Sang Pencipta. Jadi, sebagai suku bangsa primitif, prinsip sakralisasi alam dipegang teguh.
Hadirnya agama-agama Tao, Konghucu, atau Buddha memberi nuansa keagamaan pada Imlek. Agama-agama ini memperkaya kepercayaan para petani untuk menghargai alam semesta. Bahkan, saking menghargai alam semesta, umat Buddha, misalnya, dilarang membunuh nyamuk atau menebang pohon. Intinya sesama makhluk hidup harus dijaga dan dihormati.
Agama Tao dengan prinsip Yin dan Yang meyakini, alam semesta selalu mengandung dua prinsip ini. Prinsip ini di antaranya juga mengajarkan agar manusia selalu menjaga harmoni dan keselarasan. Etika Konghucu mengajarkan agar kita tidak melakukan sesuatu yang menyakitkan atau merusak alam yang di dalamnya terangkum sesama manusia. Sedikit saja keselarasan diusik, manusia harus menanggung bencana dan malapetaka.
Merusak alam
Rasanya, ajaran-ajaran ini relevan dengan kita, khususnya jika dikaitkan dengan banjir atau bencana alam. Jika dicari, akar masalah banjir di Jakarta, Jawa Timur, dan berbagai tempat semua bermuara pada sikap kita yang tidak menghargai alam. Penggundulan hutan 3,8 juta hektar per tahun membuat kondisi lingkungan dan hutan di Jawa tinggal 4 persen dari luas Pulau Jawa, jauh di bawah tingkat 30 persen yang dikatakan titik keamanan minimum. Ini contoh betapa manusia semena-mena pada alam.
Reklamasi pantai Jakarta menjadi tak berarti saat di sana dibangun perumahan. Hal ini diyakini menjadi penyebab banjir Jakarta. Prof John Rennie Short dalam buku Urban Theory, A Critical Assessment (2006) mengingatkan, kekurangpekaan pengelola kota negara atas masalah lingkungan bisa memunculkan wounded cities, kota-kota terluka. Warga Jakarta sudah merasakan luka akibat banjir.
Sebenarnya reklamasi pantai, pembangunan tol, atau pembabatan hutan bisa dikategorikan contra naturam, melawan hukum alam. Manusia menunjukkan arogansinya bisa mengalahkan alam. Maka, semangat Imlek yang dihayati para petani di Tiongkok kuno untuk selalu menjaga keselarasan dengan alam menemukan relevansinya.
Berbagai pandangan itu senada dengan ecotheology yang muncul awal 1970-an karena maraknya krisis lingkungan hidup. Ekoteologi seperti dicetuskan Jack Rogers, Annie Dillard, atau John Cobb Jr dan lainnya hendak menekankan interelasi antara Allah dan alam, di dalamnya termasuk manusia. Artinya, jika kita merusak hutan, sama dengan melawan Allah. Singkatnya, ekoteologi hendak menggarisbawahi pentingnya dikembangkan praksis pembebasan manusia dan alam dari segala bentuk tirani dan eksploitasi, dan itu menjadi ekspresi penghargaan kepada Sang Pencipta.
Maka, Imlek tahun ini selayaknya dijadikan momentum menjaga harmoni dengan Tuhan, sesama warga, dan alam sekitar.
Gong xi fa cai dan Xin Nian Kuaile 2559.
Andika Hadinata Rohaniwan; Pegiat Lingkungan, Tinggal di Roma, Italia
pusat data Sang SemburatJingga pada 15.28 10 komentar
Label: ArtikelSahabat
24.1.08
Blokir Situs Porno Demi Moralitas Anak Bangsa
Berikut petikan obrolan dengan anak muda kelahiran Payakumbuh, 8 Juni 1985 ini, yang disarikan dari sebuah email yang barusan saya terima pagi ini.
Apa sih yang menginspirasikan kamu membuat software site blocker?
Sebenarnya sebelum software ini lahir, ada temen yang ngomong "bisa gak bikin software untuk ngeblokir situs porno?" Nah, waktu itu saya langsung bilang, ya. Karena pada prinsipnya jika kita percaya pada kemampuan kita, insya Allah kita akan tahu kita bisa.
Hal yang terpenting di sini sebenarnya adalah permasalahan yang kita hadapi saat ini, khususnya pada perkembangan teknologi informasi. Perkembangaan tanpa batas dan aturan malah membawa dampak buruk, dan salah satunya adalah masalah pornografi.
Menurut sebuah lembaga peneliti di Amerika, transaksi yang terjadi di Internet Amerika 85 % lebih adalah transaksi seks, baik itu transaksi penjualan foto, video, bahkan objek seks itu sendiri. Nah, di Indonesia, jika diamati perkembangannya juga tidak kalah cepat. Saat ini semua sudah terlibat, mulai dari bapak-bapak kita diperkantoran sampai anak SD yang mencoba dan ingin tahu tentang hal-hal tersebut. Tidak diragukan lagi moral bangsa ke depan tengah terancam saat ini.
Melakukan pemblokiran secara langsung terhadap sumber-sumber informasi pornografi tentu saja butuh sebuah proses. Apalagi peraturan negara yang berbeda-beda tentang masalah pornografi tentu saja juga menjadi kendala terbesar bagi kita saat ini. Tapi ingat bagi Allah tidak ada kendala, cuma kita juga harus berusaha untuk memerangi kebathilan ini.
Berdasarkan permasalahan di atas maka hal yang memungkinkan untuk segera kita lakukan adalah melakukan pemblokiran langsung terhadap akses ke situs tersebut. Untuk mencoba mengantisipasi masalah di atas maka lahirlah Site Bloker, dengan harapan bisa menyelamatkan moral pemuda Indonesia khususnya, dan para pemakai fasilitas Internet dari dampak pornografi yang makin menghawatirkan ini.
Bisa dijelaskan proses blocking website itu?
Kebanyakan orang mengira saya melakukan pemblokiran berdasarkan kata atau gambar pada sebuah website, jika digolongkan tidak baik maka akan diblokir. Nah padahal bukan demikian. Lebih dari itu, program ini akan memblokir secara langsung dari isi keseluruhan sebuah situs yang dianggap mengandung informasi negatif. Sedangkan data situsnya tentu saja sudah dimasukkan kedalam program Site Blocker tersebut. Dengan demikian, walaupun file situs yang diblokir diakses dari situs lain insya Allah juga tidak akan bisa di akses.
Itu kerjanya gimana yah?
Waktu kemarin ditanyai para profesor yang jadi juri bahkan sampai Menristek pun nanya yang sama. Tapi herannya malah kelihatan Bapak-bapak itu rupanya tidak mengetahui cara kerjanya. Kelihatan kalo memang bukan di bidangnya.
Software ini bekerja memanfaatkan Sistem Operasi sendiri. Itu lho yang di sebut sistem operasi itu seperti Windows98, WindowsXP, Linux, Max OS dan lain-lain. Ada sebuah file yang menjadi referensi bagi sebuah komputer untuk mengakses sebuah situs. Nah dengan mempermainkan file tersebut jadilah Site Blokcer tersebut. Bagi sobat yang sudah belajar teknologi informasi coba cari referensi tentang file hosts di sistem operasi.
Kenapa kamu tertarik dengan dunia teknologi?
Nah ini pertanyaan yang bagus. Kenapa? Sebenarnya sangat mudah dijawab, saya suka teknologi karena itu bagian ilmu. Mempelajari sebuah ilmu apalagi itu kita sukai adalah sesuatu yang menyenangkan.
Lebih tepat jika di sebut Teknologi Informasi. Yap, saya lebih fokus pada teknologi informasi. Hal yang membuat saya menyenangi teknologi tersebut adalah karena perkembangannya yang begitu pesat. Di samping itu dengan bekal jiwa teknik dari orang tua juga sangat menginspirasi saya untuk selalu bekerja dan berinovasi di bidang teknologi dan informasi.
Waktu kecil kamu memang suka teknologi?
Mmmm, gak juga. Dulu malah waktu kecil cita-cita saya masuk ITB, tapi sekarang malah nyantol di UGM. Hal ini dikarenakan pada masa kecil saya lebih tertarik dengan dunia elektronika. Malah ketika masa-masa SMP saya masih belum berkenalan dengan namanya komputer.
Kabarnya kamu juga punya perusahaan sendiri yang bergerak di bidang IT?
Alhamdulillah, memang saya saat ini sudah mempunyai sebuah perusahaan yang sudah dalam bentuk CV. Saya bangga lho karena ini dari hasil kerja sendiri. Perusahaan ini saya kosentrasikan sebagai IT Developer. Nah dengan demikian ya bisa ditebak garapan kami ya gak jauh dari lingkungan Teknologi Informasi.
Perusahaan keroyokan atau milik sendiri?
Untuk saat ini masih sendiri. Cuma untuk membantu operasional saya mengajak Marketing Freelance untuk bekerjasama guna mencari klien. Soalnya kalau bekerja sendiri tidak akan sanggup apalagi dengan perkembangan yang terjadi.
Yang menginspirasikan kamu membuat perusahaan IT ini apa?
Nah di sini nih yang harus menjadi suatu bahan renungan bagi kita selaku umat muslim. Kenapa saya memilih perusahaan IT, ya karena di sanalah saya bisa berbuat lebih banyak dan maksimal. Namun pada hakikatnya yang saya bangun saat ini adalah pondasi ekonomi selaku seorang muslim yang tidak ingin dianggap sebagai komunitas miskin lagi. Salah satu keinginan saya di masa depan adalah menjadi seorang muslim yang kuat secara ekonomi dan bisa menjadi donatur dakwah ke depan. Dan selagi kita berpikiran bisa, InsyaAllah semua itu akan terkabul.
Sejauh ini klien kamu sudah berapa banyak?
Kalau klien, alhamdulillah yang tercatat udah ratusan, dan untuk yang tidak tercatat mungkin jutaan orang. Yap, klien terbanyak adalah klien software antivirus saya. Mungkin sobat semua masih kenal dengan Shampoo Anti Brontok itu merupakan generasi awal antivirus yang pernah saya buat.
Kamu aktif di organisasi apa sekarang?
Jadi malu nih. Kalau ditanya organisasi tidak ada. Tapi jangan bilang lho kalau organisasi itu tidak penting, justru malah teman-teman saya satu kontrakan itu pada menjadi pimpinan aktivis kampus semua. Mungkin hal ini wajar menurut saya. Karena kita harus berbagi waktu, kita harus menyebar ke seluruh segi dan lini kehidupan, nah di sanalah insya Allah kita akan kuat.
Kamu kan masih muda, masih kuliah pula, bagaimana cara kamu membagi waktu antara bisnis, kuliah, dan organisasi (kalau aktif di organisasi)?
Jawabannya sederhana, bagilah semua waktu menurut prioritas kegiatannya. Dan jangan biasakan memikirkan sesuatu untuk jangka pendek saja. Berpikirlah jauh ke depan, sehingga insya Allah kita akan tahu bagaimana cara membagi waktu untuk kegiatan-kegiatan yang akan kita lakukan.
Pesan Buat Pembaca Blog ini ?
Kalau boleh titip pesan, saya cuma mau bilang, janganlah kita hanya bercita-cita untuk mengejar sesuatu ketertinggalan, karena sungguh hal tersebut akan membuat kita terus tertinggal. Lakukanlah yang terbaik, dan teruslah berinovasi. Selalu fokus terhadap suatu keinginan kita. Jangan mudah dipengaruhi orang lain, karena sesungguhnya menurut saya semua semangat, jawaban, serta keberhasilan itu ada pada diri kita sendiri. Percayalah, selagi itu kita lakukan untuk kebaikan insya Allah akan ada bantuan-Nya pada kita. SYAMSUL ARIFIN 240108
CATATAN : ARTIKEL DI ATAS MERUPAKAN SADURAN DARI SEBUAH EMAIL YANG SAYA TERIMA TADI PAGI, AHLUL FARADISH RESHA DAPAT DIHUBUNGI DISINI ATAU DIAKSES DISANA. TERIMAKASIH UNTUK SYAMSUL.ARIFIN
pusat data Sang SemburatJingga pada 12.35 12 komentar
Label: ArtikelSahabat
27.12.07
Bosan Hidup
pusat data Sang SemburatJingga pada 12.47 7 komentar
Label: ArtikelSahabat
22.12.07
Ibu
Ini adalah mengenai Nilai kasih Ibu dari seorang anak yang mendapatkan ibunya sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur. Kemudian dia menghulurkan sekeping kertas yang bertulis sesuatu. Si ibu segera membersihkan tangan dan lalu menerima kertas yang dihulurkan oleh si anak dan membacanya.
Ongkos upah membantu ibu:
Membantu Pergi Ke Warung: Rp20.000
Menjaga adik Rp20.000
Membuang sampah Rp5.000
Membereskan Tempat Tidur Rp10.000
Menyiram bunga Rp15.000
Menyapu Halaman Rp15.000
Jumlah : Rp85.000
Selesai membaca, si ibu tersenyum memandang si anak yang raut mukanya berbinar-binar. Si ibu mengambil pena dan menulis sesuatu dibelakang kertas yang sama.
Ongkos mengandungmu selama 9bulan- GRATIS
Ongkos berjaga malam karena menjagamu -GRATIS
Ongkos air mata yang menetes karenamu -GRATIS
Ongkos khawatir kerana selalu memikirkan keadaanmu -GRATIS
Ongkos menyediakan makan minum, pakaian dan keperluanmu -GRATIS
Jumlah keseluruhan nilai kasihku - GRATIS
Air mata si anak berlinang setelah membaca. Si anak menatap wajah ibu, memeluknya dan berkata, "Saya Sayang Ibu".
Kemudian si anak mengambil pena dan menulis sesuatu didepan surat yang ditulisnya: "Telah Dibayar".
Demikianlah petikan surat elektronik yang saya terima, meski itu bukan kisah baru, karena sudah pernah saya muat dalam Koran Anak Sekolah: BintangPelajar, saya selalu tertunduk saat membacanya kembali.
Tidakkah kisah tadi menginsipasi kita akan kemuliaan kasih seorang ibu yang kadang kita abaikan?
Mari untuk menyelamati ibu-ibu kita terkasih pada hari yang berbahagia ini, kita lantunkan beberapa lirik dan menyenandungkannya dengan mesra kepada mereka:
Kepada Beta
Tak Terhingga Sepanjang Masa
Hanya Memberi
Tak Harap Kembali
Bagai Sang Surya Menyinari Dunia
BUNDA PIARA
Bunda piara-piara akan Daku
Sehingga Daku Besarlah
Waktu Ku kecil Hidupku Alangkah Senang
senang dipangku-dipangku di pelukan
serta dicium-dicium dimanjakan
Namanya Kesayangan...
pusat data Sang SemburatJingga pada 12.19 3 komentar
Label: ArtikelSahabat
14.12.07
Obat Mujarab Itu Bernama Tertawa
pusat data Sang SemburatJingga pada 12.53 1 komentar
Label: ArtikelSahabat
5.12.07
PERKARA DUDUK
Duduk perkaranya adalah perkara duduk. Waktu saya masih kecil, masih di kelas 1 SD, Kung Kandar (kakek saya) selalu bilang lungguho sing apik, duduklah dengan baik. Sesaat terpikir, mengapa tidak ‘berdirilah dengan baik’ atau ‘larilah dengan baik’ atau ‘jengkinglah dengan baik’.
//SOEMARMO WS. -TGC-041207
pusat data Sang SemburatJingga pada 13.03 2 komentar
Label: ArtikelSahabat
25.11.07
RANO KARNO
Malin Kundang (1971)
Si Doel Anak Betawi (1972)
Lingkaran Setan (1972)
Di Mana Kau Ibu (1973)
Yatim (1973)
Tabah Sampai Akhir (1973)
Si Rano (1973)
Rio Anakku (1974)
Senyum dan Tangis (1974)
Romi dan Juli (1974)
Jangan Biarkan Mereka Lapar (1974)
Perawan Malam (1974)
Ratapan Si Miskin (1974)
Anak Bintang (1974)
Senyum Di Pagi Bulan Desember (1974)
Sebelum Usia 17 (1975)
Tragedi Tante Sexi (1976)
Wajah Tiga Perempuan (1976)
Suci Sang Primadona (1977)
Semau Gue (1977)
Musim Bercinta (1978)
Gita Cinta Dari SMA (1979)
Selamat Tinggal Duka (1979)
Pelajaran Cinta (1979)
Buah Terlarang (1979)
Remaja-ramaja (1979)
Remaja Di Lampu Merah (1979)
Puspa Indah Taman Hati (1980)
Kau Tercipta Untukku (1980)
Tempatmu di Sisiku (1980)
Nikmatnya Cinta (1980)
Roman Picisan (1980)
Kisah Cinta Tomi dan Jeri (1980)
Nostalgia Di SMA (1980)
Senyummu Adalah Tangisku (1980)
Selamat Tinggal Duka (1980)
Selamat Tinggal Masa Remaja (1980)
Kembang Semusim (1980)
Yang Kembali Bersemi (1980)
Detik-detik Cinta Menyentuh (1981)
Dalam Lingkaran Cinta (1981)
Bunga Cinta Kasih (1981)
Mawar Cinta Berduri Duka (1981)
Untukmu Ku Serahkan Segalanya (1984)
Asmara di Balik Pintu (1984)
Yang (1984)
Kidung Cinta (1985)
Ranjau-ranjau Cinta (1985)
Tak Ingin Sendiri (1985)
Yang Masih Di Bawah Umur (1985)
Pertunangan (1985)
Anak-anak Malam (1986)
Merangkul Langit (1986)
Opera Jakarta 1986)
Di Dadaku Ada Cinta (1986)
Blauw Bloed m(1986)
Arini, Masih Ada Kereta Yang Lewat (1987)
Macan Kampus (1987)
Bilur-bilur Penyesalan (1987)
Arini II (1988)
Dia Bukan Bayiku (1988)
Sumpah Keramat (1988)
Adikku Kekasihku (1989)
Taksi (1990)
Pagar Ayu (1990)
Suamiku Sayang (1990)
Perasaan Perempuan (1990)
Sejak Cinta Diciptakan (1990)
Taksi Juga (1991)
Sekretaris (1991)
Perawan Metropolitan (1991)
Bernafas Dalam Lumpur (1991)
Kuberikan Segalanya (1992)
Selembut Wajah Anggun (1992)
Kembali Lagi (1993)
Si Doel Anak Sekolahan
Si Doel Anak Gedongan
Gita Cinta Dari SMA
Puspa Indah Taman Hati
Pelangi Di Hatiku
Maha Kasih (episode Putus Asa Itu Dosa)
Jomblo
Si Doel Anak Sekolah (SDAS), sebuah judul sinetron yang kerap ditayangkan beberapa masa yang sudah berlalu sampai tiga episiode. Pemeran utama si Doel dalam sinetron tersebut semua orang tahu, siapa lagi kalau bukan aktor kawakan sekelas Rano Karno. Apalagi buat anak remaja pada tahun 80-an, style Rano Karno dalam film layar lebar kerap kali diikuti dalam keseharian.
Tulisan-tulisan Sahabatku Hadi Hartono selanjutnya bisa ditelusuri di http://www.go-hadi.blogspot.com/ atau emailnya hartono.hadi@gmail.com dan tentu saja bukunya yang sebentar lagi terbit. Thanks, Had.
pusat data Sang SemburatJingga pada 12.42 6 komentar
Label: ArtikelSahabat












