Tampilkan postingan dengan label ArtikelSahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ArtikelSahabat. Tampilkan semua postingan

15.4.09

Frustrasi dan Gangguan Jiwa


Sikap negatif sejumlah calon anggota legislatif yang gagal memperoleh dukungan suara pada pemungutan suara lalu menunjukkan ketidakmatangan mental mereka. Para caleg yang merasa hebat tidak siap menghadapi kenyataan bahwa ternyata diri mereka tidak sehebat yang dipikirkan.

Hal itu diungkapkan dosen Psikologi Politik Universitas Indonesia, Hamdi Muluk, Selasa (14/4). Ketidakmatangan mental itu dapat muncul dari yang paling ringan berupa ketidakmampuan berpikir jernih atau bertingkah laku buruk hingga tertawa atau menangis sendiri yang dikategorikan sebagai sakit jiwa.

”Ini indikasi jelas, sejak semula yang menjadi caleg adalah orang-orang yang tidak beres (kesehatan jiwanya),” katanya.

Mereka umumnya tidak siap dengan risiko kegagalan. Apalagi mereka telah mengeluarkan modal sangat besar dan menyisakan utang yang menumpuk.

Dosen Sosiologi Politik Universitas Gadjah Mada, Arie Sudjito, menambahkan, kelakuan para caleg yang gagal mendulang suara itu menunjukkan kefrustrasian sosial. ”Ketidaksiapan mereka menghadapi kekecewaan menunjukkan gagalnya pembangunan etika politik,” katanya.

Proses demokrasi masih dianggap upaya mobilisasi vertikal dengan mengabaikan etika. Mereka berpolitik hanya dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan materi dan kekuasaan semata. Akibatnya, mereka menempuh berbagai macam cara untuk menang, baik dengan berbuat curang, tak jujur, maupun melakukan politik uang.

Kondisi itu melahirkan caleg terpilih yang berasal dari kelompok masyarakat dengan modal besar. Masyarakat pun akhirnya memberikan pilihan praktis dengan memilih caleg yang paling besar memberikan kontribusi bagi mereka. Frustrasi politisi yang bertemu dengan tindak pragmatis masyarakat membuat kualitas demokrasi terus merosot.

”Demokrasi kita sangat mewah (biaya besar), tetapi miskin etika politik,” katanya.

Target pribadi

Menurut Arie, guncangan yang melahirkan frustrasi sosial itu tak hanya dialami caleg yang gagal. Namun, caleg yang akan lolos menjadi anggota legislatif juga mengalami hal sama. Mereka yang lolos hanya akan berpikir untuk mencapai target pribadi, tetapi tidak siap dengan agenda normatif sebagai wakil rakyat.

Untuk menjadi caleg, seseorang cukup mendapat keterangan sehat dari dokter umum saja, tanpa perlu menunjukkan bukti kesehatan jiwa. Namun, jika diwajibkan memiliki bukti kesehatan mental, lanjut Hamdi, jumlah tenaga untuk memeriksa kesehatan mental mereka tidak mencukupi mengingat jumlah caleg untuk seluruh tingkatan lebih dari 100.000 orang.

Selain ketidaksiapan mental caleg, lanjut Hamdi, sistem pemilu multipartai dengan cara pengusungan caleg dengan sistem proporsional terbuka turut mendorong gangguan kejiwaan para caleg. Budaya berpartai di Indonesia masih sangat lemah.

Jarang partai yang mengader dan mendidik anggotanya hingga menjadi anggota partai yang benar-benar memahami politik dan tahu segala risikonya. Caleg hanya direkrut sebagai anggota partai beberapa bulan menjelang pendaftaran partai peserta pemilu. MZW/KOMPAS 150409

8.3.09

Demokrasi dan Identitas Naratif


Dalam demokrasi, legitimitas politik mencari pembenarannya melalui persetujuan warga negara. Persetujuan ini dilandaskan pada komunikasi (J Habermas, 1981).

Tidak ada norma atau nilai yang tidak dapat diperdebatkan, dipertanyakan, atau dikritik. Argumentasi menjadi cara mencari dasar persetujuan tindakan kolektif. Apakah prosedur demokrasi membantu warga negara lebih memiliki komitmen etis (komponen utama identitas naratif)? Acuan ke identitas naratif bisa menjadi ukuran sejauh mana keputusan Mahkamah Konstitusi (anggota legislatif dipilih berdasarkan suara terbanyak) mampu membuka dinamika politik baru.


Dilema dan solidaritas

Model tindakan komunikatif itu dilematis. Di satu sisi, tindakan komunikatif sering dikritik terlalu ideal sehingga syaratnya (tulus, benar, tepat, menunda kepentingan masing-masing peserta) sulit dipenuhi. Di sisi lain, upaya mewujudkan tuntutan itu bisa menjadi latihan guna membentuk orang yang terbuka dan memiliki komitmen. Seringnya perjumpaan, dalam kerangka diagnostik masalah dan upaya-upaya kolektif, akan menumbuhkan saling kepercayaan.

Demokrasi deliberatif, yang memberi kesempatan kepada suatu suara mengungkap alasan-alasannya, menjadi tempat persemaian bagi tumbuhnya saling pengertian. Karena itu, diskusi jangan dibatasi oleh urgensi untuk segera mengambil keputusan atau segera bertindak. Peserta dituntut bisa menahan diri untuk menunda kepentingan masing-masing. Tuntutan ini dalam realitas politik sulit dipenuhi karena masing-masing pihak memiliki prioritas, motivasi, dan tujuan. Terkurasnya energi karena konflik kepentingan ini bila diarahkan oleh politik budaya yang multikultural bisa memancing kesadaran rasa kebangsaan. Mengapa?

Ketika pilihan rasional masing-masing pihak berkutat pada kepentingan sendiri, dorongan ke arah kepentingan kolektif dalam bentuk solidaritas dan orientasi tujuan (kesejahteraan bersama, ideologi, pluralitas) kian dibutuhkan. Orang tidak akan sanggup terus menghadapi konflik dan ketidakpastian. Maka, tindakan yang hanya ditentukan oleh logika ekonomi dipertanyakan. Orang mencari kerja sama. Taruhannya adalah identitas dan komitmen. Komitmen merupakan dimensi moral yang menandai identitas naratif.

Identitas naratif

Identitas naratif lahir dari pemahaman kehidupan dalam bentuk kisah yang disatukan oleh tujuan hidup baik sehingga memungkinkan tiap orang menunjukkan kualifikasi etisnya (P Ricoeur, 1990:187). Tanda identitas naratif ialah meski selalu diterpa perubahan, tetap bisa dipercaya dan diperhitungkan. Jadi, identitas naratif ditandai oleh kemampuannya untuk menepati janji. Kemampuan menepati janji merupakan identitas lebih tinggi karena, meski ada aneka perubahan, masih tetap bisa diandalkan. Kemampuan menepati janji berasal dari kesetiaan kepada diri sendiri dan orang lain. Dari tepat janji ini tumbuh solidaritas. Jadi, identitas naratif suatu bangsa ditandai komitmen, kesatuan, dan kohesi yang teruji oleh waktu.

Identitas merupakan hasil proses identifikasi dan distinction yang membantu kelompok sosial membangun kohesinya dan menetapkan posisinya berhadapan dengan bangsa lain. Maka keyakinan, loyalitas, dan solidaritas anggota-anggotanya terwujud bila masyarakat saling mengakui hak dan kewajibannya karena status mereka sama (E Gellner, 1983:7).

Identitas naratif lemah saat warga negara tidak mampu mengenali diri dan yang lain atau menafikan yang lain. Mereka ini sebetulnya buta terhadap kepentingan dan identitasnya. Mereka akan gagal dalam hidup bersama. Padahal, bahkan pasar, sebagai bentuk kerja sama dan persaingan dalam pertaruhan simbolis dan material, menuntut syarat adanya dialektika identifikasi dan pengakuan ini. Maka, menjadi penting teori identitas dan pengakuan (D Cefaï, 2007:215). Identitas dan pengakuan diperoleh melalui keikutsertaan dalam tindakan dan upaya nyata, baik sendiri maupun kolektif, dan dalam kerja sama serta komunikasi dengan sesamanya.

Dalam konteks ini, keputusan Mahkamah Konstitusi yang menetapkan terpilihnya anggota legislatif atas dasar suara terbanyak bisa membuka dinamika politik baru. Di satu sisi, keputusan itu memperlemah daya tawar partai politik dan kecenderungan berkembangnya rasa kedaerahan. Di sisi lain, keterwakilan konstituen kian diperhatikan meski disertai kekhawatiran merebaknya politik uang dan dipertanyakannya kualitas caleg.

Ada dua implikasi politik, pertama, partai politik kian dituntut profesional dalam manajemen organisasi, termasuk dalam penunjukan calon anggota legislatif. Kedua, menghadapi primordialisme kedaerahan dan agama, pemerintah pusat harus mempunyai politik budaya yang tegas. Alasannya, pertama, nilai strategis budaya sebagai penyebar standar simbolis dan komunikatif; kedua, dasar identitas bangsa; ketiga, politik budaya berdampak positif pada ekonomi dan sosial karena mengembangkan kreativitas (L Bonet, 2007). Dengan demikian, keputusan MK bisa membuka dinamika kebangsaan baru asal mengarahkan ke universalitas konkret. Universalitas konkret sebagai bentuk komitmen etis merupakan komponen utama identitas naratif.

Universalitas konkret

Universalitas konkret bisa diilustrasikan dalam karya seni. Kekaguman terhadap karya seni merupakan bentuk universalitas. Jarang ada komentar yang mengatakan, karya-karya Mozart tidak bermutu. Universalitas konkret ini didefinisikan sebagai rekonsiliasi antara yang partikular dan yang universal (L Ferry, 1998:246). Partikularitas ini berlaku bagi suatu budaya (agama), saat ia membuka makna bagi seluruh kemanusiaan. Pemeluk agama-agama dipanggil untuk menjadi karya seni, artinya ambil bagian dalam kehidupan bersama dan memberi makna bagi semua. Panggilan ini berarti masuk ke pemikiran yang diperluas, maksudnya akses ke universal melalui otentifikasi partikularitas. Semakin mendalam dan otentik penghayatan agama seseorang, justru kian terbuka bagi semua.

Keterbukaan ini adalah buah kebebasan yang mampu melepaskan diri dari partikularisme (agama) untuk membuka diri bagi semua golongan. Orang bisa memahami makna karya seni ketika melihat pribadi Mahatma Gandhi, Ibu Teresa dari Calcutta, Muhammad Iqbal, Muhammad Hatta, dan Romo Mangun. Para tokoh ini adalah ungkapan universalitas konkret.

Universal karena mereka berjasa dan diterima semua golongan, juga konkret karena mengakar pada partikularitas agama masing-masing. Komitmen untuk kemanusiaan yang mengatasi sekat agama menandai identitas naratifnya. Universalitas konkret mengikis primordialisme karena ukuran penerimaan bukan kepemilikan pada kelompok, tetapi jasa, sumbangan, dan prestasi untuk masyarakat.HARYATMOKO Dosen Pascasarjana FIB UI dan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

22.2.09

2012


Heboh ramalan tahun 2012 sudah berlangsung lama, tetapi baru meluas sekitar 10 tahun terakhir. Penelitian tentang hal itu dilakukan banyak ahli dari berbagai bidang ilmu dan puluhan buku sudah diterbitkan.

Observasi astronomi sangat akurat selama berabad-abad para astronom genius Maya memberi pertanda, tanggal 21/12/2012 akan menjadi kelahiran zaman baru. Masa itu paling sakral sekaligus paling berbahaya dalam sejarah Bumi.

Menurut Laurence E Joseph dalam Apocalypse 2012, tanggal 21/12/2012 merupakan titik balik musim dingin tahunan ketika belahan Utara Bumi berada di titik terjauh dari Matahari sehingga siang sangat pendek.

Pada tanggal itu, tata surya dengan Matahari sebagai pusatnya, seperti diyakini bangsa Maya, akan menutupi pemandangan pusat Bimasakti dari Bumi. Para astronom Maya Kuno menganggap titik pusat ini sebagai rahim Bimasakti. Keyakinan itu didukung banyak pembuktian para astronom kontemporer bahwa di situlah tempat terciptanya bintang-bintang galaksi.

Saat ini, sejumlah lembaga penelitian ilmiah mengenai atmosfer, ruang angkasa, dan teknologi di Barat menduga ada lubang hitam tepat di pusat itu yang menyedot massa, energi, dan waktu, yang menjadi bahan baku penciptaan bintang masa depan.

Untuk pertama kalinya dalam 26.000 tahun, energi yang mengalir ke Bumi dari titik pusat Bimasakti akan sangat terganggu pada 21/12/2012, tepatnya pukul 11.11 malam. Semua itu disebabkan guncangan kecil pada rotasi Bumi.

Bangsa Maya yakin, sesingkat apa pun terputusnya pancaran dari pusat galaksi akan merusak keseimbangan mekanisme vital Bumi dan tubuh semua makhluk, termasuk manusia.

Memaknai ramalan

Ada yang menginterpretasikan 21/12/2002 sebagai ”kiamat”, tetapi banyak pula yang memaknainya secara kontemplatif.

Pakar psikologi transpersonal dari AS, Dr Beth Hedva, yang ditemui di Jakarta beberapa waktu lalu, mengibaratkan Ibu Bumi sudah sangat dekat waktunya melahirkan. Proses kelahiran tak hanya diiringi darah dan penderitaan, tetapi juga harapan dan janji.

”Selalu terjadi kontraksi,” ujar Beth Hedva. Wujudnya perang, kekejian, dan bencana akibat penghancuran lingkungan dan perusakan atmosfer Bumi—dampak kebencian dan keserakahan manusia—serta bencana yang disebabkan faktor manusia dan nonmanusia.

Dalam antologi The Mystery 2012: Predictions, Prophecies & Possibilities (2007), ahli sistem komputer untuk ruang angkasa yang menjembatani ilmu pengetahuan dan spiritualitas, Gregg Braden, menyatakan, yang terpenting bukan apa yang akan terjadi, tetapi bagaimana potensi kolektif muncul dari pemahaman holistik dan kesadaran tentang siapa diri kita di tengah Semesta Raya.

Ahli fisika biologi dan ahli kanker pada Organisasi Kesehatan Dunia, Carl Johan Calleman, peneliti Kalender Maya, mengingatkan pada transformasi kesadaran manusia.
Robert K Stiler, Direktur Program Kajian Amerika Latin Universitas Stetson di DeLand, Florida, AS, menambahkan, ”Apa pun maknanya, bangsa Maya mengajak kita merengkuh hidup berkualitas dan kesehatan planet Bumi.”

Tahun 2012 adalah tahun berjaga dengan menyadari teknologi saja tak menjamin keberlangsungan Bumi. Begitu diingatkan José Argüelles, PhD, ahli Kalender Maya dan pakar sejarah seni dan estetika dari Universitas Chicago.

”Kalau kita tidak berjaga, planet Bumi akan hancur secara alamiah karena sekarang sudah jauh dari seimbang,” ia menambahkan. ”Pikiran manusia secara massal dikontrol dan dimanipulasi pemerintah dan institusi-institusi yang menjadi faktor kunci kehidupan modern.”

Christine Page, dokter medis, ahli homeopati dan kesehatan holistik, menjelaskan, tanggapan pada zaman baru sangat tergantung pada kemampuan memahami kesalingterkaitan dan menghargai Ibu Bumi. ”Alam dan semua makhluk hidup di Bumi adalah bagian diri kita yang harus diperlakukan penuh martabat, penghargaan, dan cinta,” ujarnya.Jadi, pilihan ada di tangan manusia: membiarkan planet Bumi hancur atau melanjutkan evolusinya.
MARIA HARTININGSIH 220209

14.2.09

Kasih Sayang

Secara tragis, Ketua DPRD Sumatera Utara Abdul Azis Angkat meninggal teraniaya angkara murka pengunjuk rasa yang ingin memaksakan kehendak mendirikan Provinsi Tapanuli.

Sebagai penghormatan dan penghargaan atas jasa-jasa mendiang Abdul Azis Angkat semasa hidupnya bagi negara dan bangsa, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, berdasarkan kesepakatan dengan musyawarah pimpinan daerah (muspida) setempat, berhasrat melaksanakan pemakaman jenazah Abdul Azis Angkat di Taman Makam Pahlawan (TMP) Bukit Barisan di Medan.

Persiapan untuk pemakaman dilakukan, hingga menggali liang kubur. Namun, dalam suatu kesempatan di rumah duka, Wakil Gubernur Sumut menyampaikan perkembangan baru, ”Pihak keluarga mempertimbangkan keinginan istri almarhum yang ingin nantinya jika wafat bisa dikebumikan di samping makam suaminya. Tentu hal itu akan sulit jika almarhum dimakamkan di TMP”.

Pemerintah Provinsi Sumatera Utara pun mematuhi keinginan keluarga. Jenazah Abdul Azis Angkat dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Ekarasmi.

Tafakur

Peristiwa yang terkesan sederhana itu mengharu biru sanubari saya, membawa nurani saya ke alam tafakur. Pemakaman merupakan bentuk ritual peradaban dan kebudayaan yang membedakan manusia dengan jenis makhluk hidup lain. Hanya spesies Homo sapiens yang memakamkan jenazah sesama yang telah meninggal dunia. Maka, pemakaman merupakan salah satu ritual terpenting dalam jalur kehidupan manusia.

Tujuan utama pemakaman adalah sebagai mempersembahkan kehormatan dan penghormatan, baik bagi yang meninggal maupun yang ditinggal.

Di sisi lain dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, pahlawan merupakan gelar kehormatan amat tinggi, maka amat didambakan. Dikebumikan di TMP merupakan bentuk kehormatan dan penghormatan sangat terhormat bagi yang meninggal maupun yang ditinggalkan.

Memang di dunia fana, insan yang telah meninggal dunia tidak lagi bisa secara ragawi merasakan kehormatan dan penghormatan yang diberikan kepadanya. Namun, bagi keluarga yang ditinggalkan, pemakaman almarhum atau almarhumah di TMP merupakan kehormatan yang amat bermakna, maka amat didambakan banyak pihak.

Bagi yang merasa dirinya pengabdi negara, bangsa, dan rakyat, pemakaman di TMP merupakan anugerah penghargaan dan penghormatan atas jasa-jasa darma baktinya. Apalagi di masa begitu banyak pihak gigih berebut menjadi pengabdi negara dan bangsa yang disebut sebagai wakil rakyat. Diakui atau tidak, pemakaman di TMP merupakan anugerah kehormatan dan penghormatan yang didambakan para politisi masa kini yang sudah wafat maupun sanak keluarganya yang masih hidup.

Terharu

Saya terharu karena di tengah kemelut gejolak beragam semangat ambisi mereka yang disebut abdi negara, bangsa, dan rakyat, secara tulus atau tidak, mendadak tampil suasana yang amat berbeda. Sebuah dambaan sederhana yang lebih mengutamakan kasih sayang antarinsan ketimbang dambaan atas kilau gemerlap kehormatan dan penghormatan dengan suasana bergelar menggetar sukma kepahlawanan kenegaraan dan kebangsaan.

Seolah suasana kebisingan yang sedang memekak telinga mendadak berubah menjadi suasana keheningan yang lembut menyentuh, lalu membelai sanubari. Peristiwa penolakan pemakaman di TMP di Medan itu mengingatkan saya kepada ketulusan kerendahan hati almarhum pahlawan nasional yang jasanya tiada terhingga bagi bangsa dan negara, Bung Hatta. Proklamator kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia ini dengan rendah hati secara tulus menginginkan jenazah dirinya disemayamkan bukan di TMP, tetapi di TPU Tanah Kusir, Jakarta. Di dunia fana sampai ke alam baka, Bung Hatta konsekuen dan konsisten ingin selalu dekat dengan rakyat.

Adiluhur

Penghormatan setinggi-tingginya layak diberikan kepada sikap keluarga almarhum Abdul Azis Angkat mendukung penolakan pihak istri terhadap pemakaman jenazah suami di TMP semata agar di kemudian hari jika sang istri wafat, dapat disemayamkan di sanding sang suami tercinta, bukan di TMP, tetapi di taman pemakaman rakyat biasa.

Peristiwa mengharukan ini menyadarkan kita, sebenarnya masih ada nilai-nilai kehidupan manusia jauh lebih mulia, agung, dan luhur ketimbang sekadar nilai-nilai politik duniawi, apalagi yang berlumuran kebencian dan kekerasan!

Kasih sayang merupakan nilai adiluhur di atas segalanya dalam kehidupan manusia. Maka, jelas amat keliru jika manusia sampai khilaf meninggalkan, melupakan, mengorbankan, apalagi mengkhianati nilai-nilai kasih sayang dalam bersama menempuh perjalanan hidup nan sarat kemelut deru campur debu bepercik keringat, air mata, dan darah. JAYA SUPRANA 140209

29.11.08

Politisi Tanpa Empati

Keputusan memajukan jadwal masuk sekolah di DKI ke pukul 06.30 mulai 1 Januari 2009 sebaiknya dikonsultasikan dengan orangtua murid, guru, dan Departemen Pendidikan Nasional. Sayang, hanya Pemerintah Provinsi DKI yang merasa punya kompetensi.

Saya selalu menganggap orang/lembaga yang merasa paling berkompeten sesungguhnya tak punya kompetensi. Mereka lebih suka mencampuri urusan orang lain, tetapi alpa mengerjakan urusan sendiri.

Tak elok menuding pelajar yang diantar kendaraan ke sekolah sebagai sumber kemacetan. Saya jadi ingat pernyataan gubernur lama DKI yang menuduh ”fenomena alam” penyebab banjir besar di Jakarta dua tahun lalu.

Kemacetan melanda kota-kota ekonomi padat, seperti London, Paris, New York, Tokyo, Beijing, dan Bangkok. Lalu lintas di Jakarta bukan lagi macet, tetapi sudah semrawut.

Siapa pun tahu kemacetan pasti datang kapan saja, bisa diurai lewat aturan yang dipatuhi, dan akhirnya membuat lalu lintas normal kembali.

Kesemrawutan? Tak seorang pun yang tahu penyebabnya karena sifatnya misterius, mustahil diurai dari pagi sampai malam, dan memaksa tiap pengendara enggan bersikap pasrah.

Itu sebabnya warga DKI suka gontok-gontokan di tengah jalan. Itu sebabnya kerugian rupiah per tahun akibat kemacetan di Ibu Kota mencapai jumlah triliunan.

Ada 1.001 alasan yang menyebabkan terjadinya kemacetan, mulai dari kurangnya panjang jalan sampai terlalu banyaknya jumlah kendaraan. Namun, penyebab kesemrawutan cuma satu, yakni insanity.

Albert Einstein, ilmuwan penemu teori relativitas, punya teori tentang insanity. Ia bilang insanity adalah kebiasaan orang melakukan hal yang sama secara berulang dan mengharapkan hasil yang berbeda.

Nyaris semua pengendara di Jakarta melanggar aturan tiap detik, menit, jam, hari, pekan, dan bulan. Tak ada lagi warga Jakarta yang merasa heran.

Motor naik ke trotoar, angkot dan metromini ngetém sembarangan. Sedan-sedan mewah buang sampah di jalanan dan truk-truk di tol merangkak kayak keong di lajur paling kanan.

Setelah menyerempet sedan mewah, pengendara motor langsung tancap gas bagai orang kesetanan. Jangan lupa, si pemilik sedan mewah yang gemar buang sampah di jalanan mengeluh selokan mampat sehingga rumahnya kebanjiran.

Coba Anda sekali-kali ngetém di depan angkot atau metromini, saya jamin sopir-sopirnya naik darah dan menuduh Anda enggak ngerti aturan. Sopir-sopir truk yang jalan di lajur paling kanan tol getol mengeluh tentang kemacetan.

Nah, itulah kesemrawutan. Dan, kini pelajar yang diantar kendaraan tiap pagi tiba-tiba berubah ujud jadi kambing hitam biang kemacetan.

Sungguh ironis derajat sekolah—institusi mulia yang menyiapkan pemimpin masa depan— telah diturunkan. Lebih ironis lagi, kekuasaan berasumsi urusan terpenting di Ibu Kota melulu masalah kemacetan.

Padahal, jalanan di depan rumah saya pasti kembali kebanjiran. Ancaman tsunami krismon global sudah bertiup ke Jakarta dalam bentuk PHK yang jumlahnya tahun depan bisa mencapai ribuan.

Menurut saya, penerapan kebijakan publik yang keliru macam ini merupakan cermin sifat kepemimpinan yang kurang memiliki rasa empati. Rata-rata politisi yang telanjur dipilih tak punya electability alias kurang layak dipilih.

Kini gejala kekuranglayakan itu sudah tampak lagi. Mereka percaya pada pengaruh iklan politik karena sesungguhnya kurang percaya diri.

Iklan politik bertujuan sebagai alat promosi sebagai bukti berbuat sesuai dengan janji-janji. Namun, yang terjadi iklan- iklan itu merayu rakyat agar melupakan masa lalu sambil menawarkan... janji-janji lagi.

Mungkin karena janji sudah bertumpuk-tumpuk, mereka lupa sendiri. Tiap kali rakyat menagih, mereka bingung sendiri.

Itu sebabnya kemacetan disalahkan pada jadwal sekolah yang kurang pagi. Tak heran iklan yang dipertengkarkan dua capres hanya soal persentase orang miskin—bukan substansi kemiskinan.

Saya suka iklan politik Prabowo Subianto yang mengajak masyarakat memerhatikan potensi pasar tradisional dan petani. Berbeda dengan iklan-iklan lain yang kok memuji diri sendiri.

Aneh ada politisi tanpa empati yang mengaku berjasa memberlakukan kebebasan pers atau berhasil memberantas korupsi. Padahal, itu tuntutan perjuangan mahasiswa saat reformasi.

Tak sedikit politisi tanpa empati ramai-ramai ”menyerbu” situs jaringan sosial Facebook belakangan ini. Namun, jangan coba menyapa sebagian dari mereka karena Anda takkan diladeni.

Politisi tanpa empati ibarat ndoro yang sedari dulu terbiasa diladeni. Mereka selalu jadi pusat perhatian karena anak pembesar Anu, mantan pejabat Orde Baru yang ditakuti, atau bekas komedian/bintang sinetron top di televisi.

Politisi tanpa empati bak anak balita kurang perhatian yang kurang pandai menyesuaikan diri dengan lingkungan. Jangan heran sebagian dari capres tak bertegur sapa seperti tetangga yang bermusuhan.

Juga tak heran di antara mereka kerap terjadi pengkhianatan. Kali ini mereka sekubu, kali lain mereka saling tikam demi persaingan.Dalam psikologi politisi tanpa empati menderita adult attention-deficit disorder alias dewasa berperilaku menyimpang karena ”kuper” (kurang perhatian). Namun, bukankah reformasi memang sudah menyimpang? BUDIARTO SHAMBAZY 291108

15.11.08

Selamatkan Anak-Anak Kita !!!


Sengaja tanda seru ditaruh di akhir judul. Maksudnya sebuah pernyataan, semacam pistis for- mul bernada imperatif. Anak- anak kita dalam kondisi gawat.

Kita tersentak, berita setiap tahun setidaknya 150.000 anak Indonesia jadi korban pelacuran anak dan pornografi. Jumlah ini meningkat dua kali lipat dibanding data Unicef tahun 1998 yang berjumlah 70.000 anak. Mereka berusia 14-16 tahun, setingkat anak usia SMP.

Kita geram sekaligus terenyuh. Geram sebab ahli waris bangsa ini berada dalam incaran mata penjahat. Terenyuh sebab kita lalai memberikan perhatian.

Usia 14-16 tahun menurut para psikolog dan pedagog adalah usia rawan. Serba tanggung. Disebut anak sudah lulus SD, disebut dewasa belum 17 tahun. Mereka belum bisa bertanggung jawab secara hukum. Sebaliknya secara fisik mereka sudah dewasa. Mereka gampang terpengaruh dan gampang menjadi obyek kejahatan.

Kondisi serba tanggung membuat serba sulit. Bacaan, alat mainan, dan analisis psikologis untuk anak usia SD dan SMA relatif lebih banyak dibanding untuk anak usia SMP. Apalagi untuk anak balita, bahkan anak sebelum lahir. Psikologi anak usia SMP relatif lebih sulit diraba dibanding anak usia SD dan SMA.

Analisis psikologis tentang mereka amat gampang berubah. Bagi para psikolog, usia Stum und Drang yang rentan membuat sulit memberikan pattern. Perhatian psikolog dan pedagog pun diberikan pada usia balita, bahkan terkesan kelewat banyak, sementara psikologi anak usia 14-16 tahun kurang memperoleh perhatian.

Kondisi serba tanggung membuat mereka gampang dijadikan tenaga kerja dengan upah murah, dan berbagai bentuk kejahatan lain. Data di Jakarta terdapat tidak kurang dari 10.000 pelacur anak dan di Medan 2.000 anak, menambah gawatnya kondisi anak-anak kita.

Kejahatan terhadap anak seharusnya diberi perhatian lebih serius, tidak saja dari sisi kejahatan an sich, tetapi terutama karena me-muntes generasi penerus sebuah bangsa. Secara sosial psikologis, bobot kejahatan mereka tidak kalah jauh dari bobot kejahatan psikotropika.

Dengan alasan itu, terutama demi generasi masa depan Indonesia, kita ingin sampaikan beberapa saran. Sikap bela rasa perlu ditindaklanjuti langkah-langkah konkret. Terhadap kasus-kasus kejahatan anak, tegakkan hukum dengan tegas. Korban kejahatan mereka berurusan dengan masa depan bangsa.

Kita berikan apresiasi dan dukungan pada Komnas HAM Anak. Lembaga ini tidak punya daya gigit kalau masyarakat sendiri acuh terhadap kejahatan yang mengancam anak. Sebaliknya terhadap pelaku kejahatan yang masih berusia anak, dalam sikap dan penanganan sebaiknya dalam lingkup pendidikan.

Ajakan imperatif ”selamatkan anak bangsa” tidak sekadar retoris, tetapi sebuah keniscayaan kalau kita ingin negeri dan bangsa Indonesia tidak hancur berkeping-keping seiring rasa keterpurukan akhir-akhir ini. TAJUK RENCANA KOMPAS 151108

6.9.08

Era Bandit Berkeliaran



Sebanyak 52 anggota DPR terlibat suap. Begitu berita di Kompas delapan hari lalu. Banyak orang mengatakan mungkin lebih banyak lagi. Mungkin semuanya. Masyarakat yang tak lagi percaya kepada anggota DPR dan mengusulkan agar DPR dibubarkan.

Ketika 10 tahun lalu penguasa tunggal dijatuhkan, orang berharap kejadian korupsi sejenis yang dilakukan Soeharto tak akan lagi terjadi karena rakyat akan mengawasinya. Ternyata si pengawas sendiri terlibat korupsi.

Bagaimana ini bisa terjadi? Bukankah setelah kita menjalankan reformasi yang ditegakkan atas dua pilar, demokrasi dan pasar bebas, reformasi mestinya berjalan mulus?

Keganjilan ini dapat diterangkan secara sederhana dengan mengikuti karya Mancur Olson, Power and Prosperity (2000). Olson juga bertanya tentang reformasi, tetapi reformasi di Rusia: mengapa setelah rezim represif runtuh, bukan kesejahteraan yang muncul, melainkan kelompok jaharu? The lifting of the iron curtain revealed something else that the developed nations of the West, whether they had been winners or losers in World War II, did not expect to see: an extraordinary amount of official corruption and Mafia-style crime? Sama seperti kita di Indonesia, reformasi di Rusia juga dijalankan dengan memakai program demokratisasi dan pasar bebas.

Dua macam bandit

Olson menerangkan keanehan ini dengan model bandit menetap (stationary bandits) dan bandit berkeliaran (roving bandits). Pada masa rezim represif, seorang bandit berkuasa, tetapi dia bandit menetap. Artinya, dia tak akan menguras habis wilayahnya. Ia bahkan akan menjaga wilayahnya, memberi keleluasaan kepada penduduknya untuk terus maju. Dengan cara itu, ia akan terus dapat menarik berbagai pungutan yang merupakan sandaran hidupnya. Setelah rezim represif runtuh, muncullah bandit berkeliaran.

Sebagaimana di zaman kuno, jenis bandit ini mendatangi sebuah wilayah, menjarah habis wilayah, lalu pergi. Begitu cara kerjanya. Berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, menguras habis kekayaan di tempat itu tanpa menyisakan apa pun.

Ketika Indonesia di bawah Soeharto, ”orang kuat” ini menguasai seluruh Indonesia dan rakyatnya. Kekuatan Soeharto berhasil membuat semua orang bergantung kepadanya. Sementara itu, orang-orang di sekitar Soeharto merasa senang dan nyaman. Tak hanya mendapat perlindungan, juga sedikit kekayaan. Memang Soeharto terkenal membagi-bagikan kemurahan hatinya kepada semua orang yang mau mengabdinya. Hal ini berlaku bagi pegawai negeri, pengusaha swasta, dan militer.

Maka, penguasa tunggal itu berstatus bandit menetap dan menimbulkan stabilitas yang lumayan sehingga Indonesia dipuji Bank Dunia akan menjadi ”macan Asia”. Hal ini membuat orang percaya, ada hubungan erat antara stabilitas dan sukses ekonomi. Namun, ini merupakan kelihaian Soeharto. Sebagai bandit menetap, ia tak menguras habis kekayaan Indonesia, juga tak mengembangkannya. Ia membiarkan Indonesia pada tingkat tertentu yang cukup bagi penduduk untuk berusaha dan cukup untuk dikuras. Indonesia memang maju, tetapi tak akan pernah maju sampai ke titik maksimal.

Zaman bandit berkeliaran

Menurut Olson, begitu bandit menetap runtuh, muncullah bandit berkeliaran yang tak lagi terikat pada sang ”bos”. Jika mereka semula tertunduk dan terbungkuk di depan bos, kini gerak mereka bebas tak terikat menjalankan perintah apa pun. Tak ada yang ditakuti. Mereka menancapkan diri sebagai pemalak dan pemeras yang siap menjalankan aksinya.

Situasi ini persis sama dengan di Rusia sebagaimana dianalisis Olson. Ketika bandit menetap (Partai Komunis) disingkirkan, muncullah bandit berkeliaran yang menguasai daerah-daerah maupun wilayah kekuasaan lain. Mereka nyaris mengabaikan kendali oleh pusat, bergerak sendiri sesuai dengan kebutuhannya.

Di Indonesia datangnya demokratisasi dan otonomi daerah sejak tahun 1999 memberi sumbangan signifikan bagi meluasnya bandit berkeliaran ini. Sistem yang lebih tepat diberi nama ”demokrasi prosedural” ini pada dasarnya membebaskan rakyat Indonesia dari cengkeraman kekuasaan otoriter Soeharto sekaligus menciptakan banyak aktor dalam perpolitikan Indonesia. Aktor-aktor ini—entah tergabung dengan parpol entah tidak—belajar bagaimana memanipulasi pemilu/ pilkada menjadi kepala eksekutif atau anggota legislatif.

Sistem demokrasi sebenarnya adalah sistem yang tak stabil. Semua politikus—di tingkat nasional, lebih-lebih di tingkat daerah—sadar, kesempatan terus duduk di kursinya hanya sekali itu saja karena sistem demokrasi menuntut rotasi pemimpin. Daripada memanfaatkan masa baktinya secara optimal, mereka malah mendapat insentif menjalankan penjarahan dan menguras habis. Mumpung berkuasa, mereka memanfaatkannya sebaik mungkin.

Khusus tentang anggota DPR / DPRD. Yang membuat mereka makin kalap dan tak terkendali adalah sistem pemilihan anggota legislatif yang tak menganut sistem distrik: nasib mereka bergantung pada pemimpin umum partai, bukan rakyat tempat pemilihan mereka. Sebagai pion partai, mereka menyetor hasil kepada partai. Dalam sistem ini, oknum memang penting, tetapi partai lebih penting. Hasil sogok- menyogok ini hanya sebagian masuk kantong sendiri. Selebihnya untuk setoran partai.

Begitulah para bandit berkeliaran menerjang memasuki wilayah-wilayah Indonesia, menguras kekayaan di situ, lalu pergi. Sementara itu, bandit berkeliaran lain telah menunggu!

I WIBOWO 060808 Koordinator ”Dijkstra Society” Jakarta

12.2.08

Membaca TitikTuju, Membaca AndreTheriqa



"Tampillah sebagai pemenang dalam kehidupan.
Jangan sekali-kali larut dalam delusi fatamorgana.
Sekali hidup penuh arti.
Sekali bekerja bergetar dunia karena prestasi
."

SETIAP diri kita harus tampil sebagai pemikir dan pejuang, kreator dan pendobrak. Tidak ada kata statis dalam kehidupan, sebab statis berarti pengkhianatan yang memalukan. Demikian juga halnya tidak ada kata diam dalam membangun kebenaran, "Silence is worse all thruths that are kept silent become poisnous." Kata-kata inilah barangkali yang dijadikan motivasi oleh seorang Andre Theriqa dalam menumpahkan kreativitasnya.

Tulisan Andre Theriqa lebih mencerminkan sebuah ‘gumam’ atau lebih bersifat reflektif, sebuah lontaran nurani yang datangnya sangat impulsif. Hatinya gelisah bila melihat kemungkaran. Selalu haus ingin menebar marhamah kasih sayang. Jiwanya meronta untuk tampil dalam prestasi yang utuh. Dia keras dalam prinsip, tetapi bijaksana dan lembut dalam penyampaian.

Setelah membaca tulisannya, kita akan mendapatkan butir-butir hikmah yang mendalam serta akan mampu menghayati, memahami dan menemukan jawabannya sesuai dengan yang diharapkan oleh sang penulis, mencapai TitikTuju.

Tangerang, Maret 2006.

H. DIDI ADIWIJAYA, TOKOH MASYARAKAT TANGERANG

Pengantar TitikTuju-nya AndreTheriqa



TITIKTUJU, bukanlah ‘titik tujuh’. Bukan pula titik yang bertujuan. Apalagi titik yang berjumlah tujuh dan bertujuan. Bukan. TitikTuju adalah suatu proses. Proses menuju ‘akhir’ yang tidak bisa ditentukan kapan akan berakhir, oleh siapapun yang bisa berakhir. Itulah yang hendak penulis buku ini sampaikan kepada pembacanya, yang sudi meluangkan waktu untuk mengembara dalam perenungan, sebuah kontemplasi yang bermakna, bernas, dan memiliki sisi humanisme yang kuat. Walaupun sudah pernah dipublikasikan secara berkala di Media Tangerang, namun penerbitan menjadi satu buku ini masih memiliki daya tarik untuk dibaca, ditelaah, dimaknai dan dinikmati bukan sekadar untuk meluangkan waktu belaka.

Melalui TitikTuju, pembaca seakan diajak untuk menjelajahi perenungan seorang anak manusia, Andre Theriqa, dengan tetap menginjak bumi, dengan hati nurani, dengan cinta, dengan kasih sayang dan dengan tetap memanusiakan "manusia". Tulisan dalam TitikTuju, adalah kumpulan tulisan yang dibuat seketika –ketika sang penulis merasakan getaran khusus, terinspirasi untuk menuangkan dalam tulisan beberapa waktu silam. Kesadaran untuk berbagi pengalaman dari sang penulis inilah, hingga merasa perlu untuk mengumpulkan kembali tulisan-tulisan yang berserakan, mengedit dan membukukannya, untuk pembaca yang budiman. Buku yang ada di tangan pembaca ini, adalah cetakan kedua, setelah cetakan pertamanya habis dibagi-bagikan kepada handai taulan. Ternyata, tuntutan untuk mencetak yang kedua, tidak mampu ditolak oleh penulis, yang memang tidak pernah bisa menolak permintaan orang. Apalagi permintaan untuk berbagi sebuah pengalaman, perenungan untuk nilai-nilai kemanusiaan.

Beberapa tulisan dalam TitikTuju, sengaja didedikasikan untuk beberapa tokoh, --yang dikenal dan mengenal—Andre Theriqa, sang penulis. Penulis tampak terkesan dengan peristiwa-peristiwa yang dialami bersama sang tokoh, walau sederhana dan singkat saat peristiwa itu terjadi, tapi bagi Andre Theriqa peristiwa itu memiliki sisi-sisi humanisme yang dalam dari sang tokoh. Hal ini tampak dalam tulisan bertajuk "Adeng", "EMC dari Bunda", "DRH" dan sebagainya. Hingga pembaca, akan larut bersama dengan bayangan tokoh yang juga dikenal oleh pembaca di Tangerang. Sebuah ‘kota’ yang tengah ditarik oleh modernisasi untuk memisahkan sisi "kemanusiaan" dari manusia penghuninya.

Memang ada beberapa tulisan dalam TitikTuju, ketika diedit kembali beberapa waktu kemudian (enam angka di belakang tulisan), sudah kehilangan ‘momentum’-nya, jika dibandingkan dengan suasana batin ketika tulisan itu dibuat, sesaat setelah peristiwa itu dialami. Terasa ‘kering’, ketika penulis mengeditnya lagi untuk dinikmati sekarang, saat peristiwa itu sendiri sudah lampau. Hal ini bisa dirasakan dalam tulisan yang berjudul "BBBM", "Jalasveva Jayamahe" dan sebagainya. Namun, itu tidak mengurangi kenikmatan menjelajah dunia nilai-nilai kemanusiaan yang ditawarkan oleh penulisnya dalam TitikTuju.

Terakhir, jika pembaca jeli menelusuri TitikTuju hingga akhir, tentu akan mafhum, dengan situasi batin penulisnya. Bahkan pembaca dapat ikut merasakan ‘sakit’ imsomnia yang tidak dirasakan oleh penulis, bisa tahu hobi penulis yang suka mbaca buku Asmaraman S Kho Ping Hoo semasa remaja hingga hafal nama tokoh-tokoh dunia kang-ouw, seorang Andre Theriqa, yang rela begadang semalaman hanya untuk menonton bola, dan sebagainya. Penulis juga tampaknya sengaja menunjukkan kecintaannya pada lagu-lagu Iwan Fals, musisi yang dikaguminya, hingga bisa ditanyakan, ada berapa lagu Iwan Fals dalam TitikTuju ?

Akhirnya selamat membaca TitikTuju sambil mendendangkan lagu IwanFals. (250206)

Imron Hamami adalah penggiat sosial yang menjadi motor Pattiro,
sebuah NGO yang aktif dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan di Tangerang.

5.2.08

Imlek dan Harmoni dengan Alam


Tanggal 7 Februari 2008, kalender China memasuki angka 2559. Namun, menjelang Imlek, Tanah Air diterjang banjir, menewaskan beberapa orang dan mengakibatkan kerugian material.
Diperkirakan, banjir masih akan mengancam berbagai kawasan di Tanah Air pada Februari dan Maret 2008.

Banjir sudah menjadi bagian hidup kita dan diabadikan dalam aneka peradaban. Dalam sejarah Tiongkok kuno, misalnya, dikisahkan Yao bersama tujuh orang, atau Fa Li bersama istri dan anak-anaknya yang selamat dari banjir dan gempa bumi.

Menghargai alam

Apa kaitan banjir atau bencana dengan Imlek?
Imlek adalah perayaan kaum petani di Tiongkok kuno saat menyambut pergantian musim, dari musim dingin menuju musim semi. Kata Imlek dari dialek bahasa Hokkian, artinya penanggalan bulan atau yinli (Mandarin). Di Tiongkok, Tahun Baru Imlek lebih dikenal dengan Chunjie, perayaan musim semi. Kegiatan perayaannya disebut Guo Nian (memasuki tahun baru). Di Indonesia hal ini dikenal dengan Konyan.

Maka, Imlek sebenarnya menyimpan semangat penghargaan pada alam. Seperti bangsa-bangsa kuno lainnya, saat itu para petani Tiongkok mempunyai kosmologi atau pandangan tentang alam semesta yang harus selalu dijaga kesakralannya sehingga setiap pergantian musim, saat menanam benih atau memanen, selalu disertai ritual khusus bagi Sang Pencipta. Jadi, sebagai suku bangsa primitif, prinsip sakralisasi alam dipegang teguh.

Hadirnya agama-agama Tao, Konghucu, atau Buddha memberi nuansa keagamaan pada Imlek. Agama-agama ini memperkaya kepercayaan para petani untuk menghargai alam semesta. Bahkan, saking menghargai alam semesta, umat Buddha, misalnya, dilarang membunuh nyamuk atau menebang pohon. Intinya sesama makhluk hidup harus dijaga dan dihormati.

Agama Tao dengan prinsip Yin dan Yang meyakini, alam semesta selalu mengandung dua prinsip ini. Prinsip ini di antaranya juga mengajarkan agar manusia selalu menjaga harmoni dan keselarasan. Etika Konghucu mengajarkan agar kita tidak melakukan sesuatu yang menyakitkan atau merusak alam yang di dalamnya terangkum sesama manusia. Sedikit saja keselarasan diusik, manusia harus menanggung bencana dan malapetaka.

Merusak alam

Rasanya, ajaran-ajaran ini relevan dengan kita, khususnya jika dikaitkan dengan banjir atau bencana alam. Jika dicari, akar masalah banjir di Jakarta, Jawa Timur, dan berbagai tempat semua bermuara pada sikap kita yang tidak menghargai alam. Penggundulan hutan 3,8 juta hektar per tahun membuat kondisi lingkungan dan hutan di Jawa tinggal 4 persen dari luas Pulau Jawa, jauh di bawah tingkat 30 persen yang dikatakan titik keamanan minimum. Ini contoh betapa manusia semena-mena pada alam.

Reklamasi pantai Jakarta menjadi tak berarti saat di sana dibangun perumahan. Hal ini diyakini menjadi penyebab banjir Jakarta. Prof John Rennie Short dalam buku Urban Theory, A Critical Assessment (2006) mengingatkan, kekurangpekaan pengelola kota negara atas masalah lingkungan bisa memunculkan wounded cities, kota-kota terluka. Warga Jakarta sudah merasakan luka akibat banjir.

Sebenarnya reklamasi pantai, pembangunan tol, atau pembabatan hutan bisa dikategorikan contra naturam, melawan hukum alam. Manusia menunjukkan arogansinya bisa mengalahkan alam. Maka, semangat Imlek yang dihayati para petani di Tiongkok kuno untuk selalu menjaga keselarasan dengan alam menemukan relevansinya.

Berbagai pandangan itu senada dengan ecotheology yang muncul awal 1970-an karena maraknya krisis lingkungan hidup. Ekoteologi seperti dicetuskan Jack Rogers, Annie Dillard, atau John Cobb Jr dan lainnya hendak menekankan interelasi antara Allah dan alam, di dalamnya termasuk manusia. Artinya, jika kita merusak hutan, sama dengan melawan Allah. Singkatnya, ekoteologi hendak menggarisbawahi pentingnya dikembangkan praksis pembebasan manusia dan alam dari segala bentuk tirani dan eksploitasi, dan itu menjadi ekspresi penghargaan kepada Sang Pencipta.

Maka, Imlek tahun ini selayaknya dijadikan momentum menjaga harmoni dengan Tuhan, sesama warga, dan alam sekitar.

Gong xi fa cai dan Xin Nian Kuaile 2559.

Andika Hadinata Rohaniwan; Pegiat Lingkungan, Tinggal di Roma, Italia

24.1.08

Blokir Situs Porno Demi Moralitas Anak Bangsa


Dengan motto: berkarya dan terus berkarya. Berhasil di dunia, bahagia di akhirat, Ahlul Faradish Resha berhasil menciptakan sebuah software site blocker. Software ini dibuat untuk memblok situs-situs porno yang menurutnya telah menggerogoti moral pemuda bangsa. Di usianya yang masih muda, Uul -- panggilan kecil Ahlul -- telah meraih berbagai prestasi di bidang teknologi. Buktinya, software site blocker ini termasuk sepuluh nominator dan mendapatkan anugerah penghargaan Youth National Science and Technology dalam Festival Pemuda Berprestasi 2006 Bidang Iptek berbasis Imtaq yang diselenggarakan Kementrian Negara Pemuda dan Olahraga.

Berikut petikan obrolan dengan anak muda kelahiran Payakumbuh, 8 Juni 1985 ini, yang disarikan dari sebuah email yang barusan saya terima pagi ini.

Apa sih yang menginspirasikan kamu membuat software site blocker?

Sebenarnya sebelum software ini lahir, ada temen yang ngomong "bisa gak bikin software untuk ngeblokir situs porno?" Nah, waktu itu saya langsung bilang, ya. Karena pada prinsipnya jika kita percaya pada kemampuan kita, insya Allah kita akan tahu kita bisa.

Hal yang terpenting di sini sebenarnya adalah permasalahan yang kita hadapi saat ini, khususnya pada perkembangan teknologi informasi. Perkembangaan tanpa batas dan aturan malah membawa dampak buruk, dan salah satunya adalah masalah pornografi.

Menurut sebuah lembaga peneliti di Amerika, transaksi yang terjadi di Internet Amerika 85 % lebih adalah transaksi seks, baik itu transaksi penjualan foto, video, bahkan objek seks itu sendiri. Nah, di Indonesia, jika diamati perkembangannya juga tidak kalah cepat. Saat ini semua sudah terlibat, mulai dari bapak-bapak kita diperkantoran sampai anak SD yang mencoba dan ingin tahu tentang hal-hal tersebut. Tidak diragukan lagi moral bangsa ke depan tengah terancam saat ini.

Melakukan pemblokiran secara langsung terhadap sumber-sumber informasi pornografi tentu saja butuh sebuah proses. Apalagi peraturan negara yang berbeda-beda tentang masalah pornografi tentu saja juga menjadi kendala terbesar bagi kita saat ini. Tapi ingat bagi Allah tidak ada kendala, cuma kita juga harus berusaha untuk memerangi kebathilan ini.

Berdasarkan permasalahan di atas maka hal yang memungkinkan untuk segera kita lakukan adalah melakukan pemblokiran langsung terhadap akses ke situs tersebut. Untuk mencoba mengantisipasi masalah di atas maka lahirlah Site Bloker, dengan harapan bisa menyelamatkan moral pemuda Indonesia khususnya, dan para pemakai fasilitas Internet dari dampak pornografi yang makin menghawatirkan ini.

Bisa dijelaskan proses blocking website itu?

Kebanyakan orang mengira saya melakukan pemblokiran berdasarkan kata atau gambar pada sebuah website, jika digolongkan tidak baik maka akan diblokir. Nah padahal bukan demikian. Lebih dari itu, program ini akan memblokir secara langsung dari isi keseluruhan sebuah situs yang dianggap mengandung informasi negatif. Sedangkan data situsnya tentu saja sudah dimasukkan kedalam program Site Blocker tersebut. Dengan demikian, walaupun file situs yang diblokir diakses dari situs lain insya Allah juga tidak akan bisa di akses.

Itu kerjanya gimana yah?

Waktu kemarin ditanyai para profesor yang jadi juri bahkan sampai Menristek pun nanya yang sama. Tapi herannya malah kelihatan Bapak-bapak itu rupanya tidak mengetahui cara kerjanya. Kelihatan kalo memang bukan di bidangnya.

Software ini bekerja memanfaatkan Sistem Operasi sendiri. Itu lho yang di sebut sistem operasi itu seperti Windows98, WindowsXP, Linux, Max OS dan lain-lain. Ada sebuah file yang menjadi referensi bagi sebuah komputer untuk mengakses sebuah situs. Nah dengan mempermainkan file tersebut jadilah Site Blokcer tersebut. Bagi sobat yang sudah belajar teknologi informasi coba cari referensi tentang file hosts di sistem operasi.

Kenapa kamu tertarik dengan dunia teknologi?

Nah ini pertanyaan yang bagus. Kenapa? Sebenarnya sangat mudah dijawab, saya suka teknologi karena itu bagian ilmu. Mempelajari sebuah ilmu apalagi itu kita sukai adalah sesuatu yang menyenangkan.

Lebih tepat jika di sebut Teknologi Informasi. Yap, saya lebih fokus pada teknologi informasi. Hal yang membuat saya menyenangi teknologi tersebut adalah karena perkembangannya yang begitu pesat. Di samping itu dengan bekal jiwa teknik dari orang tua juga sangat menginspirasi saya untuk selalu bekerja dan berinovasi di bidang teknologi dan informasi.

Waktu kecil kamu memang suka teknologi?

Mmmm, gak juga. Dulu malah waktu kecil cita-cita saya masuk ITB, tapi sekarang malah nyantol di UGM. Hal ini dikarenakan pada masa kecil saya lebih tertarik dengan dunia elektronika. Malah ketika masa-masa SMP saya masih belum berkenalan dengan namanya komputer.

Kabarnya kamu juga punya perusahaan sendiri yang bergerak di bidang IT?

Alhamdulillah, memang saya saat ini sudah mempunyai sebuah perusahaan yang sudah dalam bentuk CV. Saya bangga lho karena ini dari hasil kerja sendiri. Perusahaan ini saya kosentrasikan sebagai IT Developer. Nah dengan demikian ya bisa ditebak garapan kami ya gak jauh dari lingkungan Teknologi Informasi.

Perusahaan keroyokan atau milik sendiri?

Untuk saat ini masih sendiri. Cuma untuk membantu operasional saya mengajak Marketing Freelance untuk bekerjasama guna mencari klien. Soalnya kalau bekerja sendiri tidak akan sanggup apalagi dengan perkembangan yang terjadi.

Yang menginspirasikan kamu membuat perusahaan IT ini apa?

Nah di sini nih yang harus menjadi suatu bahan renungan bagi kita selaku umat muslim. Kenapa saya memilih perusahaan IT, ya karena di sanalah saya bisa berbuat lebih banyak dan maksimal. Namun pada hakikatnya yang saya bangun saat ini adalah pondasi ekonomi selaku seorang muslim yang tidak ingin dianggap sebagai komunitas miskin lagi. Salah satu keinginan saya di masa depan adalah menjadi seorang muslim yang kuat secara ekonomi dan bisa menjadi donatur dakwah ke depan. Dan selagi kita berpikiran bisa, InsyaAllah semua itu akan terkabul.

Sejauh ini klien kamu sudah berapa banyak?

Kalau klien, alhamdulillah yang tercatat udah ratusan, dan untuk yang tidak tercatat mungkin jutaan orang. Yap, klien terbanyak adalah klien software antivirus saya. Mungkin sobat semua masih kenal dengan Shampoo Anti Brontok itu merupakan generasi awal antivirus yang pernah saya buat.

Kamu aktif di organisasi apa sekarang?

Jadi malu nih. Kalau ditanya organisasi tidak ada. Tapi jangan bilang lho kalau organisasi itu tidak penting, justru malah teman-teman saya satu kontrakan itu pada menjadi pimpinan aktivis kampus semua. Mungkin hal ini wajar menurut saya. Karena kita harus berbagi waktu, kita harus menyebar ke seluruh segi dan lini kehidupan, nah di sanalah insya Allah kita akan kuat.

Kamu kan masih muda, masih kuliah pula, bagaimana cara kamu membagi waktu antara bisnis, kuliah, dan organisasi (kalau aktif di organisasi)?

Jawabannya sederhana, bagilah semua waktu menurut prioritas kegiatannya. Dan jangan biasakan memikirkan sesuatu untuk jangka pendek saja. Berpikirlah jauh ke depan, sehingga insya Allah kita akan tahu bagaimana cara membagi waktu untuk kegiatan-kegiatan yang akan kita lakukan.

Pesan Buat Pembaca Blog ini ?

Kalau boleh titip pesan, saya cuma mau bilang, janganlah kita hanya bercita-cita untuk mengejar sesuatu ketertinggalan, karena sungguh hal tersebut akan membuat kita terus tertinggal. Lakukanlah yang terbaik, dan teruslah berinovasi. Selalu fokus terhadap suatu keinginan kita. Jangan mudah dipengaruhi orang lain, karena sesungguhnya menurut saya semua semangat, jawaban, serta keberhasilan itu ada pada diri kita sendiri. Percayalah, selagi itu kita lakukan untuk kebaikan insya Allah akan ada bantuan-Nya pada kita. SYAMSUL ARIFIN 240108

CATATAN : ARTIKEL DI ATAS MERUPAKAN SADURAN DARI SEBUAH EMAIL YANG SAYA TERIMA TADI PAGI, AHLUL FARADISH RESHA DAPAT DIHUBUNGI DISINI ATAU DIAKSES DISANA. TERIMAKASIH UNTUK SYAMSUL.ARIFIN

27.12.07

Bosan Hidup


Jika engkau inginkan kicau burung sepanjang hari
kenapa tidak kau tautkan setangkai ranting hijau di dalam hati...

Seorang pria mendatangi Seorang Master. "Guru, saya sudah bosan hidup. Sudah jenuh betul. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu berantakan. Saya ingin mati."

Sang Master tersenyum, "Oh, kamu sakit."
"Tidak Master, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati."

Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Master meneruskan, "Kamu sakit. Dan penyakitmu itu sebutannya, 'Alergi Hidup'. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan."

Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan mengalir terus, tetapi kita menginginkan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Resistensi kita, penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit.

Yang namanya usaha, pasti ada pasang-surutnya. Dalam hal berumah-tangga, bentrokan-bentrokan kecil itu memang wajar, lumrah. Persahabatan pun tidak selalu langgeng, tidak abadi. Apa sih yang langgeng, yang abadi dalam hidup ini ? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita.

"Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku." Demikian sang Master menyarankan.
"Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup." pria itu menolak tawaran sang guru.
"Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?"

"Ya, memang saya sudah bosan hidup."

"Baik, besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini. Setengah botol diminum malam ini, setengah botol lagi besok sore jam enam, dan jam delapan malam kau akan mati dengan tenang."

Giliran dia menjadi bingung. Setiap Master yang ia datangi selama ini selalu berupaya untuk memberikannya semangat untuk hidup. Yang satu ini aneh. Ia bahkan menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.

Pulang kerumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut "obat" oleh Master edan itu. Dan, ia merasakan ketenangan sebagaimana tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai ! Tinggal 1 malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah.

Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran Jepang. Sesuatu yang sudah tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Pikir-pikir malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya santai banget.

Sebelum tidur, ia mencium kening istrinya dan membisiki di kupingnya, "Sayang, aku mencintaimu." Karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis.

Esoknya bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Pulang ke rumah setengah jam kemudian, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis.

Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, "Hari ini, Boss kita kok aneh ya ?" Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis.

Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan apresiatif terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya. Pulang ke rumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya, "Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu."

Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, "Pi, maafkan kami semua. Selama ini, Papi selalu stres karena perilaku kami."

Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya ?

Ia mendatangi sang Master lagi. Melihat wajah pria itu, rupanya sang Master langsung mengetahui apa yang telah terjadi, "Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh, Apa bila kau hidup dalam kekinian, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan."

Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Master, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya.

Konon, ia masih mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam kekinian. Itulah sebabnya, ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu hidup.

Hidup bukanlah merupakan suatu beban yang harus dipikul tapi merupakan suatu anugrah untuk dinikmati. 271208 TULISAN INI MERUPAKAN KUTIPAN DARI SEBUAH EMAIL MANIS YANG BARUSAN DIKIRIM OLEH SAHABATJIWAKU, RINA FARIA, YANG SAAT INI MASIH SIBUK DENGAN PEKERJAANNYA DI KANTOR, SEMANTARA SEBAGIAN BESAR DARI KITA SUDAH LENGGANGKANGKUNG MENGHIRUP UDARA LIBURAN AKHIR TAHUN.

22.12.07

Ibu


Hari ini, 79 tahun yang lalu, dua purnama setelah Kongres Pemuda yang melahirkan Soempa Pemoeda, bertempat di Ngayogyakarta Hadiningrat, berlangsung pula Kongres Perempoean. Untuk mengenang apa yang dilakukan kaum ibu nusantara dalam membingkai pergerakan menuju Indonesia Merdeka yang berlangsung tiga hari itu, ditetapkanlah setiap tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu.

Namun apakah kemuliaan kaum ibu hanya bermakna tatkala mereka mampu secara historik dan patriotik melaksanakan kongres sebagai bagian dari sebuah pergerakan nasional? Harus jujur diakui, nyatanya tidak. Baik secara bersama-sama maupun secara sendiri-sendiri, kaum ibu merupakan soko utama setiap generasi yang mengisi keberadaban pertiwi. Namun sayangnya, peran mahamulia seperti itu, kerap terabaikan, acap kali termarginalkan.

Lihatlah betapa menumpuknya kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), jika kasus tersebut dilaporkan dan mengemuka, tak jarang yang terancam pidana justru perempuannya. Pelecehan dan perundungan seksual, perdagangan perempuan dan berbagai penistaan lain, masih menu santapan utama mereka.

Secara simbolik, agama sudah mengajarkan betapa penting peran ibu dalam keluarga. Surga terletak di telapak kaki ibu. Sayangnya, oleh kaum lelaki, sabda tersebut sering diplesetkan menjadi: surga ada di antara kaki ibu.

Peran kaum perempuan Indonesia, tidak hanya berhenti pada pola tradisional yang mengharuskan mereka hanya mengurus anak dan dapur semata. Kemandirian kaum perempuan Indonesia sudah terbata dalam sejarah. Mereka juga menjadi pilar utama rumah tangga tatkala kaum lelaki patah arang dan tersangkut masalah.

Jika kita berkesempatan berkeliling nusantara, kunjungi pula pusat-pusat kegiatan ekonomi yang ada, maka akan kita temui lebih dari sepertiga pelakunya adalah kaum ibu.

Beberapa saat yang lalu, saya beroleh satu kiriman kisah pendek yang mengharu-birukan perasaan, berikut petikannya:

Ini adalah mengenai Nilai kasih Ibu dari seorang anak yang mendapatkan ibunya sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur. Kemudian dia menghulurkan sekeping kertas yang bertulis sesuatu. Si ibu segera membersihkan tangan dan lalu menerima kertas yang dihulurkan oleh si anak dan membacanya.

Ongkos upah membantu ibu:
Membantu Pergi Ke Warung: Rp20.000
Menjaga adik Rp20.000
Membuang sampah Rp5.000
Membereskan Tempat Tidur Rp10.000
Menyiram bunga Rp15.000
Menyapu Halaman Rp15.000
Jumlah : Rp85.000

Selesai membaca, si ibu tersenyum memandang si anak yang raut mukanya berbinar-binar. Si ibu mengambil pena dan menulis sesuatu dibelakang kertas yang sama.

Ongkos mengandungmu selama 9bulan- GRATIS
Ongkos berjaga malam karena menjagamu -GRATIS
Ongkos air mata yang menetes karenamu -GRATIS
Ongkos khawatir kerana selalu memikirkan keadaanmu -GRATIS
Ongkos menyediakan makan minum, pakaian dan keperluanmu -GRATIS
Jumlah keseluruhan nilai kasihku - GRATIS

Air mata si anak berlinang setelah membaca. Si anak menatap wajah ibu, memeluknya dan berkata, "Saya Sayang Ibu".

Kemudian si anak mengambil pena dan menulis sesuatu didepan surat yang ditulisnya: "Telah Dibayar".

Demikianlah petikan surat elektronik yang saya terima, meski itu bukan kisah baru, karena sudah pernah saya muat dalam Koran Anak Sekolah: BintangPelajar, saya selalu tertunduk saat membacanya kembali.

Tidakkah kisah tadi menginsipasi kita akan kemuliaan kasih seorang ibu yang kadang kita abaikan?

Mari untuk menyelamati ibu-ibu kita terkasih pada hari yang berbahagia ini, kita lantunkan beberapa lirik dan menyenandungkannya dengan mesra kepada mereka:


KASIH IBU
Ciptaan: NN

Kasih Ibu
Kepada Beta
Tak Terhingga Sepanjang Masa
Hanya Memberi
Tak Harap Kembali
Bagai Sang Surya Menyinari Dunia


BUNDA PIARA
Ciptaan: Bing Slamet

Bila Ku Ingat Lelah Ayah Bunda,
Bunda piara-piara akan Daku
Sehingga Daku Besarlah

Waktu Ku kecil Hidupku Alangkah Senang
senang dipangku-dipangku di pelukan
serta dicium-dicium dimanjakan
Namanya Kesayangan...


IBU
Ciptaan: Iwan Fals

Ribuan kilo jarak yang kau tempuh
lewati rintang demi aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
walau tapak kaki penuh darah penuh nanah

Seperti udara kasih yang engkau berikan
Tak sanggup ku membalas, Ibu.

Ingin ku dekat dan menangis di pangkuanmu
sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu
lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
dengan apa ku membalas, Ibu

Kalau saja, kita masih sering mendendangkan ketiga lagu di atas, atau mengajarkannya kepada anak-anak kita dan bukannya lagu sms atau kucing garong, sepertinya masih akan ada kedamaian dan kesejukan di lorong rumah kita.

Sayangnya, Hari Ibu cuma ada sehari. Yang 364 hari lainnya adalah hari-harinya kaum lelaki. BATMAN 221207


14.12.07

Obat Mujarab Itu Bernama Tertawa



Terinspirasi oleh Maestro Tertawa Indonesia, Basuki

Meskipun hanya sesaat, tertawa itu menyehatkan, Tertawa itu dapat membangkitkan kesenangan dan ketenangan jiwa. Jika Anda dapat dengan mudah tertawa, Anda adalah orang yang sangat beruntung, seberuntung anak-anak yang mendapat hadiah coklat ketika dapat menjawab sebuah pertanyaan. Tertawa yang paling tulus, enak didengar dan tanpa muatan macam-macam adalah tertawa kanak-kanak.; karena tertawa mereka adalah tertawa yang tidak dipaksakan. Saya menjadi percaya bahwa laughter is the best medicine.

Setelah tertawa lebar-lebar dan sepenuh hati, ternyata badan terasa segar, seperti ada aliran hangat di sekujur badan. Konon, tertawa selama 5 sampai 10 menit dapat merangsang kelenjar endorfin (penghilang rasa sakit dalam tubuh). Endorfin, serotonin dan melatonin dapat menimbulkan perasaan senang dan tenang. Di negara maju, katanya, ada semacam klinik tertawa untuk orang-orang yang mempunyai tendensi depresi dan stress.


Pada hakekatnya, merengut memang lebih mudah ketimbang tertawa. Menurut The Power of Laugh, tertawa memerlukan kerja 8 syaraf sedangkan merengut hanya 3 syaraf (!). Tentu saja membuat orang tertawa pastilah lebih susah ketimbang membuat orang merengut. Saya cukup bilang 'gila lu' untuk membuat orang merengut atau bahkan marah dan melempar asbak.

Saya harus berterima kasih kepada orang-orang yang bisa mempekerjakan 3 urat syaraf saya sehingga saya bisa tertawa. Mulai Ludruk RRI, Goro-goro Ki Manteb, Funniest Home Video, Xtravaganza, OB, Mr. Bean, Jim Carey, dan tentu saja…Basuki. Mereka adalah orang-orang yang dapat mengencangkan otot perut saya karena saya bisa tertawa. Bisa hahaha, hehehe atau hihihi.

Akhirnya, tertawalah selagi bisa. SOEMARMO/TGC 141207

5.12.07

PERKARA DUDUK

Duduk perkaranya adalah perkara duduk. Waktu saya masih kecil, masih di kelas 1 SD, Kung Kandar (kakek saya) selalu bilang lungguho sing apik, duduklah dengan baik. Sesaat terpikir, mengapa tidak ‘berdirilah dengan baik’ atau ‘larilah dengan baik’ atau ‘jengkinglah dengan baik’.

Sekarang terbayang, bagaimana bisa duduk dengan baik jika kita duduk di kursi roda, atau duduk di kursi pesakitan, lebih repot jika duduk di kursi listrik yang tentu saja tidak senikmat ketika duduk di kursi pelaminan.

Manusia memang suka duduk. Selain duduk-duduk, mereka juga hobby menduduki; betapa nenek moyang kita sangat menderita ketika diduduki penjajah, meskipun sebagian ada yang duduk enak sebagai onder, opas atau carik. Duduk itu memang selalu ada yang menduduki dan yang diduduki, beda benar dengan dodok. Di kota, jarang orang dodok ketika buang hajat, mereka lebih suka duduk.

Manusia adalah penduduk dunia, itu sebabnya mereka harus mempunyai Kartu Tanda Penduduk. Boleh mempunyai satu, dua atau tiga. Tidak mempunyai juga oke. Tetapi, sebaiknya Anda punya. Tanpa foto kopi KTP mustahil Anda dapat meminjam uang ke Bank Bajul Duduk.

Duduk memang kelihatan enak. Maka, tidak ada istilah ‘aku duduk sebagai bawahan’, yang ada adalah ‘duduk sebagai atasan’, ‘duduk sebagai kepala’, ‘duduk di kursi bupati’, atau ‘duduk di kursi dewan’. Sungguh, saya belum pernah dengar ‘aku duduk sebagai sopir’, meskipun ia seorang pengemudi angkot.

Sebuah masalah bisa didudukkan pada proporsi sebenarnya. Nah, jika masalah saja bisa didudukkan, maka alangkah mulianya si masalah. Melalui masalah inilah orang bisa duduk enak atau duduk di kursi pesakitan.

Menurut ilmu perdudukan, duduk itu bermacam-macam. Duduk sila ketika sedang pengajian atau kenduri, duduk silang kaki ketika baca koran di rumah, duduk formasi V ketika sedang memprospek orang, duduk nongkrong ketika bakar ikan, dan duduk tertib duduk salat. Yang paling istimewa adalah duduk melamun. Duduk melamun tidak pernah memperhatikan cara duduk. Yang pasti, jika raja duduk mbegagah, maka kawulo duduk silo ngapurancang.

Duduk memang bukan main; mengapa pada pelajaran matematika ada istilah tempat kedudukan, itu karena mahasiswanya harus duduk. Seorang mahasiswa, ketika diberi kesempatan berdiri, apalagi mengerjakan soal di papan tulis, maka ia akan cengar cengir karena alam kegugupan sudah menduduki sanubarinya. Meskipun mahasiswa itu jagonya membuat dudukan pelat.

Salah duduk bisa berakibat fatal. Saya pernah disumpahi tidak bisa kentut seminggu gara-gara menduduki Kiai Semburat, keris paman saya. Bisa dibayangkan jika akan ke Tangerang saya naik angkot jurusan Ciputat, atau Parung. Mendudukkan orang, mungkin istilahnya staffing, juga bisa berakibat fatal; kesalahannya bisa pada yang mendudukkan atau yang didudukkan. The right man on the right place, bisa diubah menjadi May be the right man on the may be right place.

Saya juga baru tahu kalau penyakit angin duduk itu adalah jantung coroner dan pemain cadangan biasanya duduk di bangku cadangan, padahal pemain inti juga duduk di bangku yang sama. Pemain inti biasanya terduduk lemas jika timnya kalah, tetapi pemain cadangan biasanya tersenyum dalam hati, kasihan deh lu…

Konon, di Singkawang ada warung remang-remang yang memberikan pelayanan kopi duduk, meski yang dijual bukan kopi. Tetapi menduduki kopi juga berbahaya, apalagi kopi panas.

Duduk memang enak, itu sebabnya orang lupa berdiri ketika duduk. Saya juga lupa berdiri ketika menulis artikel ini, saya duduk tertidur…
//SOEMARMO WS. -TGC-041207

25.11.07

RANO KARNO


Dari Selebritis Menjadi Politisi

Siapa yang tidak mengenal Rano Karno? 'Anak'-nya Budayawan Betawi terpopuler Benyamin S yang jadi si Tukang Insinyur dalam sinema-elektronik (sinetron) Si Doel Anak Sekolahan (SDAS). Rano Karno memang sosok yang akrab dalam setiap benak masyarakat Indonesia.
Bukan saja tatkala ia memainkan berbagai karakter protagonis di semua sinemanya, juga tatkala ia memilih dan memilah produk yang ia bintang-iklani. Bahkan saat ia 'terjerumus' tatkala akan dijadikan sebagai salah satu calon wakil gubernur saat pilgub DKI Jakarta sesaat lampau.


Sama dengan perannya diberbagai sinema, meski senantiasa menjadi tokoh sentral, karakter yang ia perani belum tentu berakhir dengan happy-ending. Beruntung Rano batal menjadi salah satu cawagub DKI, karena itu bukan tempat sesungguhnya buat Rano. Kebetawian yang kerap ia usung, kerap ia bela, sudah lama tergusur dari Jakarta. Kebetawian yang naif, bersahaja, polos, jujur, ceplas-ceplos dan innocent sudah tidak lagi cocok dengan Jakarta yang porak poranda, sembrawut, gudang intrik, sarang kemacetan dan ranah dari segala kemunafikan (menurut beny-mice dalam langgam jakarta).


Karakter kebetawian justru masih tersisa di daerah-daerah penyangga seperti di Tangerang ini. Di sinilah sosok Rano Karno bisa masih berperan maksimal. Apalagi, Rano adalah salah satu dari sedikit selebritis yang tidak hanya sekadar jual tampang, ia juga dikenal bernas dan cerdas. Berpasangan dengan H. Ismet Iskandar, ia akan menjadi penyeimbang yang pas. Yang satu sosok yang bijak dan sarat dengan pengalaman, sangat intuitif dan mengerti penuh keadaan dan keinginan masyarakat Tangerang. Yang satu anak muda yang cakap, berbudaya, multi-talenta dan disayangi banyak pihak.


Yang dibutuhkan Rano Karno saat ini tentu saja tinggal bagaimana ia bisa memanage dengan baik sebuah perubahan karakter dari seorang selebritis menjadi seorang pemimpin yang handal. Jika itu berhasil ia jalankan, maka sungguh, seperti peran-perannya di berbagai sinema, maka yang baik pasti akan mengalahkan yang jahat. Semoga. ANDRE THERIQA 251107



RANO DI PANGGUNG BUDAYA


Rano Karno lahir di Jakarta pada 8 Oktober 1960. MempunyaI saudara kandung yang juga ikut bermain dalam sinetron seperti Tino Karno dan Suti Karno. Ayahnya Soekarno M. Noer, aktor film legendaries yang telah melakoni lebih dari 68 judul film sebagai pemeran utama. Selain itu pernah bermain lebih dari 20 drama. Sebelum menjadi aktor, ayahnya pernah bekerja di Kantor Pos, Telepon, dan Telegraph. Berkat ketekunan, dedikasi, integritas, dan kemampuannya terpilih menjadi pemeran utama dalam film Gambang Semarang (1955).

Sama hal dengan ayahnya, Rano Karno pun memiliki dedikasi dan integritas dalam melakoni perjalanan hidupnya sebagai aktor. Banyak sudah judul film yang dibintanginya seperti;
Malin Kundang (1971)
Si Doel Anak Betawi (1972)
Lingkaran Setan (1972)
Di Mana Kau Ibu (1973)
Yatim (1973)
Tabah Sampai Akhir (1973)
Si Rano (1973)
Rio Anakku (1974)
Senyum dan Tangis (1974)
Romi dan Juli (1974)
Jangan Biarkan Mereka Lapar (1974)
Perawan Malam (1974)
Ratapan Si Miskin (1974)
Anak Bintang (1974)
Senyum Di Pagi Bulan Desember (1974)
Sebelum Usia 17 (1975)
Tragedi Tante Sexi (1976)
Wajah Tiga Perempuan (1976)
Suci Sang Primadona (1977)
Semau Gue (1977)
Musim Bercinta (1978)
Gita Cinta Dari SMA (1979)
Selamat Tinggal Duka (1979)
Pelajaran Cinta (1979)
Buah Terlarang (1979)
Remaja-ramaja (1979)
Remaja Di Lampu Merah (1979)
Puspa Indah Taman Hati (1980)

Aladin dan Lampu Wasiat (1980)
Kau Tercipta Untukku (1980)
Tempatmu di Sisiku (1980)
Nikmatnya Cinta (1980)
Roman Picisan (1980)
Kisah Cinta Tomi dan Jeri (1980)
Nostalgia Di SMA (1980)
Senyummu Adalah Tangisku (1980)
Selamat Tinggal Duka (1980)
Selamat Tinggal Masa Remaja (1980)
Kembang Semusim (1980)
Yang Kembali Bersemi (1980)
Detik-detik Cinta Menyentuh (1981)
Dalam Lingkaran Cinta (1981)
Bunga Cinta Kasih (1981)
Mawar Cinta Berduri Duka (1981)
Untukmu Ku Serahkan Segalanya (1984)
Asmara di Balik Pintu (1984)
Yang (1984)
Kidung Cinta (1985)
Ranjau-ranjau Cinta (1985)
Tak Ingin Sendiri (1985)
Yang Masih Di Bawah Umur (1985)
Pertunangan (1985)
Anak-anak Malam (1986)
Merangkul Langit (1986)
Opera Jakarta 1986)
Di Dadaku Ada Cinta (1986)
Blauw Bloed m(1986)
Arini, Masih Ada Kereta Yang Lewat (1987)
Macan Kampus (1987)
Bilur-bilur Penyesalan (1987)
Arini II (1988)
Dia Bukan Bayiku (1988)
Sumpah Keramat (1988)
Adikku Kekasihku (1989)
Taksi (1990)
Pagar Ayu (1990)
Suamiku Sayang (1990)
Perasaan Perempuan (1990)
Sejak Cinta Diciptakan (1990)
Taksi Juga (1991)
Sekretaris (1991)
Perawan Metropolitan (1991)
Bernafas Dalam Lumpur (1991)
Kuberikan Segalanya (1992)
Selembut Wajah Anggun (1992)
Kembali Lagi (1993)

Selain itu beberapa sinetron adalah;
Si Doel Anak Sekolahan
Si Doel Anak Gedongan
Gita Cinta Dari SMA
Puspa Indah Taman Hati
Pelangi Di Hatiku
Maha Kasih (episode Putus Asa Itu Dosa)
Jomblo

Selain aktor, Rano Karno juga sebagai produser yang memimpin Production House Karno’s Film. Selain itu juga berwirausaha di bidang kuliner dengan membuka Waroeng Si Doel di kawasan Kafe Taman Semanggi, Sudirman, Jakarta. Pernah pula menjadi nara sumber pada Entrepreneur University, sebuah lembaga pendidikan kewirausahaan pimpinan Purdi E. Chandra – pendiri Pusat Bimbingan Belajar Primagama. Saat ini Rano karno juga beraktivitas sosial sebagai Duta Unicef. HADI HARTONO - GILANG PUBLISHING


SINETRON POLITIK SI DOEL

Si Doel Anak Sekolah (SDAS), sebuah judul sinetron yang kerap ditayangkan beberapa masa yang sudah berlalu sampai tiga episiode. Pemeran utama si Doel dalam sinetron tersebut semua orang tahu, siapa lagi kalau bukan aktor kawakan sekelas Rano Karno. Apalagi buat anak remaja pada tahun 80-an, style Rano Karno dalam film layar lebar kerap kali diikuti dalam keseharian.

Sinetron SDAS sudah habis masa tayangnya. Tetapi alur ceritanya masih melekat dalam benak pamirsa televisi. Bagaimana sosok si Doel sebagai kaum muda intelek tradisional hidup di tengah-tengah masyarakat megapolitan. Si Doel, Bang Doel, dan Tukang Insinyur itulah barangkali sebutan yang akrab di telinga kita. Tua muda, kakek nenek, laki perempuan, bahkan anak-anak kecil pun rela nongkrong di depan televisi hanya untuk sekedar menantikan jam tayang sinetron SDAS.

Selain intelek tradisional, sosok si Doel menggambarkan seorang anak muda yang banyak digandrungi kaum perempuan muda. Termasuk Sarah dan Jaenab yang diperankan masing-masing oleh artis cantik Cornelia Agatha dan Maudy Kusnadi. Penulis tidak tahu bagaimana ending alur ceritanya. Apakah Jaenab atau Sarah yang dipilih sebagai calon isterinya kelak, yang jelas kedua perempuan muda tersebut penuh perhatian dengan harap-harap cemas cintanya tak terbalas. Karena si Doel, dalam sinetron tersebut sangat menghargai perasaan masing-masing.

Kita belum tahu, apakah Karno’s Film sebagai production house yang memproduksi sinetron SDAS - akan melanjutkan babak baru kisah sinetron tersebut. Yang pasti dalam sinetron politik sesungguhnya - pemeran si Doel, Rano Karno pernah mencuat ke permukaan beberapa waktu yang lalu.


Babak Baru Kisah Si Doel

Babak baru di panggung politik yang sesungguhnya, nama si Doel Rano Karno pernah disebut-sebut sebagai salah satu bakal calon Wakil Gubernur DKI Jakarta beberapa bulan yang lalu. Kalau pun pada akhirnya, namanya hilang dari percaturan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) tersebut. Kini namanya mencuat kembali ke permukaan di panggung politik bertajuk Pilkada Kabupaten Tangerang, Banten – sebagai calon wakil bupati.

Sebanyak 15 pimpinan partai politik sepakat mengusung H. Rano Karno sebagai Calon Wakil Bupati. Rano Karno disandingkan dengan incumbent, H. Ismet Iskandar yang sudah lebih dulu dijagokan sebagai calon Bupati Tangerang oleh koalisi partai-partai bernama Koalisi Benteng Bersatu (Benteng sebutan lain untuk Tangerang). Di hadapan ribuan massa pendukung, pada saat deklarasi pasangan calon hari Jum’at, 28 Oktober 2007. Rano Karno menyatakan siap menanggung resiko politik atas kiprahnya di Pilkada Kabupaten Tangerang. Karena sebelumnya saat sambutan, inchumbent sempat mengingatkan kepada hadirin bahwa kekuasaan dekat dengan terali besi, apabila kurang berhati-hati dalam menjalankan amanah.

Sama halnya dengan si Doel dalam sinetron. Ternyata Rano Karno adalah sosok pemimpin yang sederhana, rendah hati, dan mampu menempatkan diri pada posisinya sebagai calon wakil bupati. Menarik untuk disimak, apa yang disampaikannya pada saat konferensi pers setelah paket pencalonannya didaftarkan oleh partai-partai Koalisi Benteng Bersatu di kantor KPUD Kabupaten Tangerang di Tigaraksa.

Pak Ismet tanpa saya pun berpotensi untuk menang dalam Pilkada - ini hasil survey loh, kata Rano di depan para jurnalis. Kalimat seperti itu menggambarkan betapa sangat rendah hati-nya seorang aktor kawakan. Tidak menunjukan sikap yang berlebihan, sebagai seorang selebritis papan atas - yang tingkat popularitasnya sangat dahsyat dari Sabang sampai Merauke – dari Pamulang sampai desa Cikande (Pamulang- nama kecamatan di sebelah selatan dan desa Cikande-nama desa di ujung sebelah barat Kabupaten Tangerang).

Tanpa mengurangi rasa hormat pada yang lain, kemunculan nama Rano Karno di panggung politik Pilkada Kabupaten Tangerang. Membawa angin segar, yang semoga mampu menyejukan suasana kebatinan yang kian hari semakin memanas. Seperti yang diungkapkan Rano, semua boleh punya keinginan untuk menang- tetapi kemenangan itu harus diraih dengan cara-cara yang sehat.

Selamat berkompetisi! Semoga kedamaian, kesejukan, ketertiban, kejujuran, dan keadilan dapat dijadikan landasan berpijak dalam setiap gerak langkah semua pasangan calon pemimpin daerah. Sebagai negarawan - harus siap menang dan siap kalah.

Siapa pun pemenangnya itulah pilihan rakyat Kabupaten Tangerang. Tidak perlu lagi ada gontok-gontokan di kemudian hari. Demokrasi kita memang sedang belajar. Proses pembelajaran tak mengenal kata berhenti. Begitu pun pembangunan harus berkelanjutan dan berkesinambungan. Pilihan boleh berbeda, tetapi kita semua manusia adalah sama sebagai mahluk ciptaan Tuhan. Serahkan semua keputusan pada Yang Maha Kuasa. Manusia hanya mampu berikhtiar, ketentuan mutlak sudah digariskan.


Episode Selanjutnya

Semua orang sudah tahu siapa si Doel, anak muda yang ganteng, cerdas, rendah hati, suka menolong, menghargai persahabatan, mampu menjaga perasaan orang lain, dan hormat pada orang yang lebih tua. Sosok ini penulis melihat ada pada diri Rano Karno yang sesungguhnya. Bisa menjadi sebuah kekuatan yang dahsyat, mana kala Rano Karno, dalam menjalankan aktivitas kampanye tetap melekatkan diri dengan sosok si Doel.

Bawalah oplet tua untuk berkeliling dari kampung ke kampung di seluruh pelosok Benteng. Mintalah do’a sama Mak Enyak, yang sedang menunggu warung. Ajak Jaenab dan Sarah untuk jadi juru kampanye. Bilang sama mas Karyo kalau lagi keliling untuk berdagang jangan lupa sebut nama si Doel 3x supaya warga Benteng terngiang-ngiang sampai hari pencoblosan. Eits….maaf hampir lupa, usahakan Atun dan Mandra jangan ribut terus - bukannya masih saudara sebangsa dan setanah air?

Kita ingin melihat kisah selanjutnya sinetron politik si Doel yang sesungguhnya pada Pilkada Kabupaten Tangerang. Dengan alur cerita yang tentu dipenuhi hiruk pikuk intrik dan sejenisnya, sesuatu hal yang mungkin tidak terelakkan lagi dalam dinamika kehidupan politik praktis. Popularitas dan sosok si Doel yang melekat pada Rano Karno mampukah menyedot perhatian para penggemarnya di bumi Benteng, yang hampir semua orang yang tinggal di Indonesia pernah menonton sinetron si Doel. Kalaupun ada yang belum pernah sekalipun nonton, minimal pernah mendengar judul sinetron tersebut.

Pola kehidupan keluarga si Doel dalam sinetron, sangat akrab dalam kehidupan sebagian besar masyarakat Kabupaten Tangerang. Keluarga sederhana yang strata sosial ekonomi nya sangat pas-pasan. Hanya saja si Doel sempat mengenyam pendidikan tinggi di fakultas tekhnik

Seorang aktor kawakan sekelas Rano Karno, adalah figure yang mampu bermain dalam peran apa saja. Kalau pun yang penulis tahu Rano Karno belum pernah memainkan peran sebagai tokoh antagonis dalam beberapa film layar lebar dan sinetronnya. Tetapi kemampuannya tidak ada seorangpun yang meragukannya. Bukankah dunia ini panggung sandiwara – versi Ahmad Albar Gong 2000- dalam salah satu syair lagunya, ada peran wajar, dan ada peran berpura-pura. Peran seperti itulah yang seringkali kita temukan tidak saja dalam dinamika kehidupan politik praktis, tetapi juda dalam kehidupan keseharian masyarakat.

Lanjutkan cerita sinetron si Doel tapi judulnya dirubah, Si Doel Nyalon Wakil Bupati. Jangan lupa sound track sinetronnya dirubah juga. Si Doel anak Benteng asli, kerjaannya sembahyang mengaji…..dst. HADI HATONO - GILANG PUBLISHING


Tulisan-tulisan Sahabatku Hadi Hartono selanjutnya bisa ditelusuri di http://www.go-hadi.blogspot.com/ atau emailnya hartono.hadi@gmail.com dan tentu saja bukunya yang sebentar lagi terbit. Thanks, Had.